Sumpah aku tak tahu prihal waktu yang akan aku lalui besok pagi. Semuanya begitu cepat, sungguh kenikmatan mana lagi yang bisa melupakan waktu itu.

Waktu menunjukan pukul 2 pagi, ketika kamu lebih memilih menungguku mengerjakan tugas dari pada melelapkan diri pada malam.

Sepi, tenang dan bahkan suara nafasmupun tak terdengar. Sembari aku mengetik laptop dan memutar otah untuk menyelesaikan tugas. Sesekali aku menyapamu, berharap kamu masih tetap terjaga menunggu beberapa kisah yang akan aku ceritakan setelah ini.

Aku menyerah, menyerah karna aku memilih kamu dari pada tugas yang sama sekali tidak memberikan manfaat ini.

Aku tahu kamu marah malam itu karena aku memberikanmu kejutan tapi tidak tersampaikan sepenuhnya.

Kamu diam, tapi tak mau tidur, aku bertanya, kamu hanya jawab sedikit, aku bicara panjang lebar, kamu tetap menjadi pendengar yang baik, dan akhirnya kamu bosan dengan tingkahmu, akupun bahagia.

Kamu masih marah, dengan hadiah yang tidak tersampaikan semuanya. Tapi kini kamu mulai bicara. Terkadang, ketika kita diam panjang kamu akan ketawa sendiri. Aku bertanya kenapa. Kamu mengalihkan pembicaraan.

 Kamu bertanya kenapa aku lebih memilih cahaya yang abestrak daripada cahaya malam yang aku agungkan. Aku jawab, entah sudah berapa lama aku menikmati malam, dengan ribuan bintang dan bulan, dan yang aku dapatkan diujungnya hanyalah pagi yang menghapus keindahan malam. Tapi kamu, selalu indah walaupun matahari mengintip dari barat dan karena aku lebih memilih cahaya dari orang gila yang kadang-kadang ketawa tanpa sebab.

Kamu ketawa, kini nafasmu bisa aku dengar dengan jelas dari ketawa lembutmu. Kembali kita diam untuk beberapa waktu. Sampai aku membuka percakapan lagi. Tentang hadiah yang tidak sempat tersampaikan.

Aku ingin mengajakmu bertemu, aku tau rindu sangat menyiksa, disini aku juga bisa merasakan betapa besar sakit yang kamu derita. Tapi skali lagi aku minta maaf, senja yang kamu harapkan tidak bisa aku berikan. Mungkin pagi lebih romantis dari senja, atau kamu tetap bersikukuh dengan senjamu? Entahlah, tapi yang jelas kita bisa mengurangi rasa sakit karena rindu ini. Besok kita akan menikmati sunset.

Tapi untuk terakhir kalinya aku minta maaf, aku meninggalkanmu dengan hujan yang kamu nikmati. Aku tau untuk masalah ini kamu benar-benar mengharapkanku untuk hadir disisimu. Sayang, hari terlalu menyiksa untuk malam yang panjang.

****

Kini, jam menunjukan pukul 5 lebih ketika aku bangun. Aku merasa segar walau tidur cuman 3 jam. Semua yang aku perlukan telah siap, buku, tas, jaket dan tentusaja rokok. Aku meluncur langsung ke rumahmu. Tapi aku sedikit kesal, mungkin sekitar 7 kali aku mondar mandir menunggumu keluar. Tapi takapalah, seketika semuanya aku lupakan dengan kehadiran sosok kecil yang aku tunggu.

Sumpah, entah apa yang aku rasakan. Enam tahun berlalu tanpa sekalipun aku pernah melihatmu. Dan kini kamu berada di blakang ku, prasaan aneh itu segera aku kuasai. Terasa jelas kamu tidak siap dengan semua ini, saat itu aku mencoba membuatmu tenang dengan pertanyaan dan kata-kata yang menurutku pas untuk mu. Ya, walaupun agak lama kamu bisa menguasai diri.

Kini kita sudah berada di lokasi, segelas kopi untuk menghangatkan tubuh. Tapi kamu tidak memilih minum dan aku tidak terlalu menaruh perhatian akan hal itu.

Sebuah buku aku keluarkan dari tas dan ku berikan. buku yang aku rasa sebagai bacaab wajib semua orang, dunia sofi.

Tapi aku menyesal terlalu awal memberikan buku itu. Kamu terlalu memperhatikannya sampai kamu lupa akan rindu ini. Atau mungkin kamu grogi? Siapatau iya, tapi tak apalah.

Tapi semakin lama aku semakin bosan, pantai tidak seindah yang aku harapkan dan kamu asik dengan buku itu. Mungkin dengan jalan kaki semuanya akan berubah.

Aku berdiri lalu memandangmu, kamu membalas dengan pandangan penuh tanda tanya. Kita jalan, ajakku lalu memandang ke kiri dan kanan memastikan kemana jalan yang paling bagus. Kamu berhenti membaca lalu berdiri dan aku mengajakmu jalan ke kiri karena lebih luas untuk menikamati pagi.

Kembali aku merasakan kenyamanan yang benar-benar membuat ku gemetar. Ya, kita berjalan berdua dan melampiaskan rasa rindu dengan bercakap-cakap. Aku benar-benar senang, dan tidak mau meninggalkan waktu ini begitu cepat. Kamu terlalu dingin dan aku senang akan hal itu, kamu penurut, suka senyum dan sumpah aku tenggelam dalam senyum manismu.

Waktu tidak adil rasanya ketika kita duduk memandang laut, dan matahari menghempas menerpa tubuh. Begitu cepat sampai aku lupa kapan terakhir kamu senyum.

Curang, ketika kamu mengiakan permintaanku untuk pulang. Aku tau kamu tidak mungkin puas akan pertemuan singkat ini. Kita berdiri dan berjalan pulang, sumpah berat sekali rasanya dalam setiap langkahku. Sampai aku bediri menghadap laut dan kamu bertanya kenapa, aku jawab bahwa aku ingin melihat laut lebih lama lagi. Aku belum puas dan aku mengajakmu jalan balek lagi. Kamu dengan iyamu, membuatku tidak sulit untuk menghabiskan waktu lebih lama lagi. Kita  berjalan, mengahabiskan waktu berdua lebih lama.

Sumpah aku tidak tau lagi harus seperti apa melampiaskan rundu ini. Maaf dan beribu maaf lagi  aku meminta sesuatu yang tidak aku inginkan dan aku tidak tau kau mau atau tidak. Aku meminta pelukan untuk melampiaskan rindu yang menyiksa ini, kamu aneh ketika tanpa berfikir panjanh mengiyakan permintaanku.

Di bawah jembatan yang diterangi sebagiannya oleh matahari, aku mengajak mu untuk melampiaskan rindu yang bajingan ini, di jalan aku melihat senyummu yang membuatku ingin merasakannya. Aku meminta dan sungguh keanehan yang hakiki aku rasakan. Iya, jawabmu datar tanpa rasa salah yang akan kamu hadapi. Aku berfikir positip saat itu, apa yang aku rasakan juga ingin kamu rasaka.

Saksi bisu sang jembatan. Aku gemetar membalik tubuhmu, melihat mu menunduk dan sumpah aku tak berfikir lagi. Kamu diam, dan aku takakan lupa tarikan nafas siapmu. Jujur aku merasa bisa merayap ke semua tubuhmu hanya lewat bibir tipismu.

Sampai sekarang aku belum bisa melupakan bau tubuhmu, ia selalu menghantui dalam setiap lamunanku untukmu.

Dan maaf karena tidak mengabarimu sampai sekarang. Aku hanya sibuk dengan beberapa kegiatan dan tugas yang belum selese. Ku harap kamu bisa mengerti dengan keadaan ini, jujur aku rindu sekali. Tapi tak ada yang bisa aku lakukan untuk sekarang.

Salam rinduku untukmu, dan terimakasih untuk hari yang kau berikan. Maaf beribu maaf.