Aku memperhatikan Ahra yang sedang memperhatikan Radie. Kutopang dagu, tetap melihat gadis itu dengan malas. Hembusan napas yang keluar dari mulutnya, tidak pernah sedikitpun kulewatkan, menerbangkan poninya beberapa mili ke atas karena bibir bawahnya, yang dengan sengaja, membentuk lengkungan ke atas.

“Ahra.” Entah mengapa geraman kecil keluar dari mulutku saat menyebut namanya. Sebenarnya aku sudah jengah, bosan, padahal aku sudah sering memberitahunya, tapi Ahra merasa tidak bersalah, balas menatapku dengan wajah tanpa dosa. Dahiku mengernyit. “Kenapa sampai sekarang kau tak sadar bahwa apa yang kau lakukan itu berlebihan?” seruku tertahan.

Ahra sedikit terkejut dengan nada bicaraku yang melunjak. Bola matanya melebar beberapa kali lebih besar, membuatnya tampak seperti hantu, entah hantu apa. Beberapa detik setelah perubahan wajahnya yang membuatku jengkel, Ahra menanggapiku dengan cengiran disertai lesung pipit yang tak terbentuk sempurna di pipinya. “Aku, kan, ingin jadi sepertinya.” Bola mata Ahra beralih. Laki-laki itu, bersama botol dan air putih yang perlahan masuk ke perutnya, membuat gadis ini terpana, lalu melakukan hal yang sama.

“Apa yang kau lakukan?” Aku terpana. Mulut tak kubuka terlalu lebar, bisa saja angin membuat bibirku kering.

Beberapa milliliter air masuk ke perutnya. Bibirnya basah, kerongkongannya terasa segar, hal yang sedikit beda terjadi pada Radie. “Ah, kau yang berlebihan.” Botol itu bertumbukan dengan meja, menghasilkan suara debuman kecil. “Aku, kan, sudah pernah membahas ini, Lea.”

Lidahku mendecak. “Kau tahu definisi kata ‘muak’?” Dahi Ahra mengernyit ragu, sedangkan tangan kananku terangkat, menunjuk diri sendiri sambil berkata, “Sekarang aku berada pada fase itu.”

Poninya bergerak-gerak, kali ini bukan karena hembusan napas dari mulut si empunya, tapi karena kipas di dinding yang jadi biang keroknya. “Kau muak?” Ahra nampak tenang, napasnya masih teratur seperti beberapa menit yang lalu, matanya tak lepas memandang si lawan bicara, padahal raut wajahku agak berubah, masam. 

“Kalau kau tidak suka, ya, tidak apa-apa,” katanya sedikit serius. Bola mata hitam legam itu sengaja tak kutatap. Rumus matematika di papan tulis lebih menarik perhatian. Ahra mengulum bibirnya. “Tapi, Lea …”

Leher kursi kujadikan sandaran. Mataku terpejam, menikmati hembusan angin dari kipas elektronik, mendengar kegaduhan kecil, merasakan udara, merasakan cahaya, serta merasakan seorang gadis sedang memperhatikanku yang tampak mengacuhkannya.

“Aku tidak merasakan perubahan yang besar. Padahal kau tahu, kan, kalau aku selalu mengikuti apa yang dilakukan Radie?”

Aku diam. Radie adalah murid terpintar di sini. Tidak hanya di kelas, bahkan dia di-cap sebagai seorang jenius di sekolah kami. Namanya tersohor. Popularitasnya membludak ke mana-mana, termasuk kalangan kakak dan adik kelas. Dia dapat menjuarai lebih dari dua perlombaan dalam sebulan. Kemampuannya di bidang matematika tidak dapat diragukan.

Sedangkan Ahra adalah murid yang, di tahun ini, duduk sebangku denganku. Aku mengenalnya dengan cukup baik, begitu pula sebaliknya. Dia juga berkecimpung di bidang olimpiade matematika. Tapi kepintarannya berselisih jauh bila dibandingkan dengan Radie si jenius. 

Dia selalu memiliki keinginan yang tinggi, seperti ‘aku juga ingin menjadi jenius!’, sampai akhirnya gadis itu berkata dia akan melakukan hal-hal yang dilakukan Radie. Semuanya. Ahra percaya, di samping dia belajar sungguh-sungguh, dia akan menjadi pintar layaknya seorang jenius diantara yang paling jenius di sekolah kami, siapa lagi kalau bukan Radie, dengan melakukan hal-hal konyol itu.

“Terserah.”

Ahra terlonjak. Matanya heboh menatap wajahku. “Apa kau bilang? Lea, kau tidak apa-apa kan?”

Aku mendengus, benar-benar kesal dengan apa yang telah dilakukan Ahra selama dua bulan terakhir, meniru orang lain. Bel pulang berbunyi, aku senang, Ahra batal merecokiku dengan kata-katanya. 

Ajakannya untuk pergi keluar bersama kutolak secara spontan, tanpa basa-basi, tanpa pikir panjang, tanpa khawatir hal itu akan menyakiti hatinya. Ingat, kami saling mengenal dengan baik. Aku beranjak dari duduk, menggendong tas, lalu keluar dari ruangan.

***

Aku kembali dipertemukan dengan Ahra, entah ini takdir atau kebetulan. Kami duduk di tempat duduk pinggir lapangan―banyak anak lain melakukan hal serupa, ada pula yang mengeluarkan bola, menendang tanpa takut mengenai orang―sembari menunggu jemputan. Sikap dinginku tak berlangsung lama, mencair, karena dia selalu menemukan cara.

“Ahra!”

Seseorang memanggil gadis itu. Salah satu tangannya bersembunyi di balik saku celana, rambut hitamnya berkibar ditiup angin. Yang dipanggil langsung menoleh, agak terkejut dengan manusia jenius atau sangat jenius berdiri sekitar satu meter darinya dengan melayangkan tatapan menagih. Ahra berdiri, bermaksud menyambut. 

Tapi, sebelum aku beranjak pergi, Ahra mencegat, merajuk, menyuruh, memerintahku untuk menemaninya sebentar. Aku tak ingin menguping apapun, mulai dari basa-basi sampai tentang privasi mereka berdua. Kudengarkan suara-suara gaduh lain, yang cukup menyenangkan dan tidak membosankan, yang membantu agar bola mata ini tak bergerak untuk mencuri pandang.

“Aku tidak suka ditiru.”

Radie mulai pada topik utama, yang aku yakin perkataannya tak cukup menyenangkan untuk Ahra, anak kecil, orang dewasa, kumbang, semut, kecoa, bahkan untuk diriku. Sifat dingin Radie, yang sebeku salju di kutub, sekeras baja, serta setajam pedang, dapat membuat Ahra, yang tidak mudah digertak, selalu menanggapi dengan cengiran, serta tak menganggap kehidupan ini merupakan sesuatu yang serius, menjadi gugup. 

Oleh karena itu, ketika aku menyuruhnya untuk menanyakan  rahasia kepintaran Radie secara langsung, Ahra langsung menolak, bahkan sebelum aku selesai bicara. Bisa saja, bila sifat Radie berubah, tidak seperti yang sekarang, Ahra berkolaborasi dengan si jenius atau mungkin belajar bersama atau melakukan hal lainnya yang bisa membuat gadis itu menjadi lebih pintar dan sebagainya. Tapi itu tak terjadi.

Percakapan mereka selesai. Sebelum pergi, tatapan Radie sempat melayang padaku. Artinya seperti, “lain kali, beri tahu temanmu ini untuk tidak meniru orang lain”. Ahra bergeming, membeku, menjadi batu. Dia sempat menerima beberapa ocehan.

“Lebih baik kau jadi diri sendiri. Tak ada gunanya meniruku.”