Sekitar dua puluh tahun lalu, setiap pulang sekolah atau hari libur, saya dan teman-teman hampir menghabiskan waktu dengan bermain pelbagai permainan tradisional. 

Bosan dengan gobak sodor, kami akan menggantinya dengan bermain buntang kaleng, bola antu, tekupan, cengkling, patok lele, gasing, layang-layang, ular naga, atau permainan lainnya.

Uniknya, sebelum kami bermain bola antu, misalnya, kami terlebih dulu harus melubangi tanah. Diameternya sekitar 5 - 1o cm. Kemudian membuat bola dari gumpalan kertas yang diisi sedikit tanah. Lalu mengikatnya menggunakan karet. Setelah bermain, kami akan mandi di Sungai Musi.

Jika ingat masa kecil, saya merasa bahagia. Lantaran lewat permainan tradisional saya bisa berkumpul dengan teman-teman. Bersendau gurau tanpa beban. Bersahabat dengan alam. Lebih jauh manfaatnya, saya dapat bersosialisasi, mendorong saya bertindak sportif, tubuh saya aktif bergerak, dan pastinya hidup saya selalu menyenangkan.

Tapi sayangnya, di era masa kini, permainan tradisional yang kami dulu mainkan gemanya mulai berkurang. Sudah jarang anak-anak zaman now memainkannya. 

Dampak dari perkembangan teknologi dan informasi seperti sekarang ini membuat anak-anak lebih cenderung berkutat dengan gadget. Lantaran di dalam gadget terdapat beragam jenis pemainan modern. Hampir saban hari anak-anak menimang gadget ke mana-mana. Ironinya, bangun tidur pun yang dicari anak-anak sekarang adalah gadget.

Bagi saya, tidak salah mereka dekat dengan gadget. Tetapi yang disesalkan nantinya, anak-anak semacam ini tidak tahu atau tidak mengenal identitas bangsanya sendiri. Padahal permainan tradisional termasuk salah satu identitas bangsa Indonesia. Jika persoalan ini dibiarkan berlarut-larut, maka tidak menutup kemungkinan. permainan tradisional perlahan akan hilang.

Sebenarnya permainan tradisional memiliki banyak manfaat. Di dalamnya ada aktivitas fisik bersifat positif yang membuat anak dapat aktif bergerak. Sehingga mampu merangsang pertumbuhan otak dan otot. 

Menariknya lagi, permainan tradisional dapat membentuk karakter anak-anak menjadi lebih baik. Anak-anak diajarkan bertanggung jawab, berkreativitas, mengatur strategi, berlaku jujur, bekerja sama, menjunjung tinggi sportivitas, bersosialisasi, dan karakter lainnya.

Kiranya, agar permainan tradisional Indonesia tetap bertahan di era modern seperti sekarang ini, perlu adanya gerakan yang mampu menginisiasi permainan tradisional eksis kembali. Dengan demikian, anak-anak yang hidup di zaman now bisa mengenal permainan tradisional. Dan jauh lebih penting, anak-anak ikut bermain kemudian merasakan manfaat dari permainan tradisional itu sendiri.

Membangun Kesadaran

Sudah sepatutnya semua lapisan masyarakat, baik orangtua di rumah, tenaga pengajar di institusi pendidikan, tokoh masyarakat di kehidupan sehari-hari, memiliki kesadaran yang tinggi untuk menanamkan mindset ke anak-anak. Tentunya sebuah mindset untuk menjaga permainan tradisional agar tidak memudar ditelan kecanggihan teknologi. Sebab, permainan tradisional adalah warisan budaya bangsa yang wajib dilestarikan, dieksplorasi, dan dikenalkan.

Di dalam keluarga, seorang ayah atau ibu alangkah baiknya mengedukasi dan mengajak anak bermain permainan tradisional di waktu senggang. Selain tidak memerlukan biaya besar, permainan tradisional mengajarkan banyak hal di dalamnya. Bermain congklak, contohnya. 

Congklak merupakan satu di antara banyak contoh permainan tradisional yang murah. Bukan cuma itu, permainan ini mengajarkan anak untuk pandai menyusun strategi dan berbuat jujur.

Sementara itu, supaya tetap bertahan dan dikenal oleh generasi masa kini, permainan tradisional harus dikuatkan ke dalam mata pelajaran di sekolah. Bisa juga diselipkan pada pelajaran olahraga. 

Alternatif lain, guru dapat mengajak muridnya bermain lebih dahulu sebelum atau sesudah belajar. Pengenalan permainan tradisionalnya bisa dilakukan di dalam kelas atau di lapangan sekolah. Agar penerapannya berjalan dengan baik, kegiatan permainan tradisional dalam belajar-mengajar harus dilakukan secara konsisten.

Selanjutnya, tokoh atau komunitas masyarakat harus sadar untuk mengajak generasi milenial mencintai permainan tradisional. Tentunya mengenalkan permainan tradisional pada generasi milenial sifatnya harus kekinian. 

Salah satu caranya bisa dengan mengecat yoyo atau bakiak dalam beragam bentuk dan warna. Sehingga cara ini mengundang ketertarikan anak-anak zaman now untuk mengenal permainan tradisional.

Festival Permainan Tradisional

Di nusantara, ada beberapa daerah yang telah membuat festival permainan tradisional sebagai pertunjukan rutin. Sayangnya, masih banyak pula yang belum menerapkannya. 

Sejatinya, kegiatan melaksanakan festival di tempat terbuka menjadi solusi jitu guna mendongkrak popularitas permainan tradisional. Dengan demikian, permainan tradisional dapat dikenal luas oleh banyak orang.

Oleh karena itu, dengan melibatkan banyak stakeholder, mulai dari pemerintah – dalam hal ini Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, lalu menggandeng institusi pendidikan, komunitas anak atau budaya, sponsorship dari perusahaan besar yang ada di Indonesia, serta warga umum untuk meramaikannya, ini akan menjadi pertunjukan yang menarik. Di samping itu, kegiatan festival permainan tradisional bisa menjadi ajang promosi sebuah daerah untuk menggaet wisatawan.

Lebih baiknya lagi, ada kebijakan yang mengatur festival permainan tradisional ini menjadi agenda tahunan di tiap daerah. Bila perlu, jadikan satu hari sebagai Hari Permainan Tradisional.

Telah terbayang di benak saya, ketika semua lapisan masyarakat peduli untuk melestarikan permainan tradisional, itu artinya keberadaan permainan tradisional masih tetap ada. Tidak akan tergerus oleh zaman. Secara tidak langsung, cara tersebut sekaligus dapat menguatkan pendidikan dan memajukan kebudayaan di Tanah Air.