Politik memang tak dapat diterka. Betapa tidak, kadang kita melihat ada kebaikan dan ada kemunafikan. Kadang memaparkan fakta dan kadang memaparkan hoaks (berita bohong). Padahal, politik adalah usaha yang ditempuh warganegara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles).  

Namun, apapun itu, begitulah politik. Politik itu tak terduga, seperti kata Otto van Bismarck (1815-1898), Politics is the art of the possible, artinya sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Politik tak dapat diterka dan dapat berubah seketika, bahkan dapat berubah saat injury time.

 Terlepas dari itu, sebenarnya, politik itu baik, seperti kata dosen saya, politik itu adalah seni untuk mencapai tujuan. Mencapai tujuan itu tentunya dengan cara yang baik dan santun. Maka, sangat wajar bila kita meminta dan mendorong politisi untuk memainkan politik secara baik dan benar agar orang lain tidak risih berpolitik.

  Saat ini politik seperti dipermainkan. Hal itu terlihat jelas ketika politik transaksional, politisasi agama, politik identitas, kampanye hitam dan lain sebagainya, menguasai setiap kontestasi politik seperti Pilkada, Pileg dan Pilpres. Kondisi itu menjadi membuat orang lain takut ikut bergabung dalam partai politik.

  Kita lihatlah, kontestasi politik sekarang seringkali melihat identitas orang lain, dimana masyarakat diajak untuk memilih pemimpin yang sama suku, agama, ras dan antargolongan.  Jika tidak sama, maka tak perlu dipilih.

Begitu juga yang terjadi dalam Pilkada DKI Jakarta yang lalu, dimana ada spanduk-spanduk yang bernada bila memilih pemimpin yang tidak seiman, maka jenazahnya nanti tidak disholatkan. Mungkin kita masih mengingat hal tersebut.

 Ada intervensi terhadap masyarakat dalam memilih pilihannya, sehingga rasionalitas pemilih menjadi kacau. Itulah yang disebut agama diikutsertakan dalam politik atau politisasi agama. Hal itu membuat politik tidak lagi jernih dan berkualitas.

Belum lagi, ada mahar politik jika kita ingin turut dalam kontestasi politik. Mahar itu diberikan kepada sebuah partai politik sebagai kendaraan politik menuju pada singgasana kekuasaan.

Waktu lalu juga kita dengar ada pemberian mahar politik oleh cawapres Sandiaga Uno sebesar Rp. 500 miliar untuk masing-masing dua partai koalisi Gerindra. Keadaan itu membuat orang lain menjadi risih berpolitik.

Masyarakat pun menjadi berpikiran politik itu kotor. Partai politik seperti lahan bisnis dengan adanya mahar tersebut. Sungguh hal itu merupakan suatu pelajaran politik yang tidak baik.

Jangan risih berpolitik 

 Sebagaimana dalam tulisan Hajriyanto Y Thohari, (Kompas.com, 17/6/2014), Berpolitik itu memang memerlukan seni, yakni seni dalam mencapai tujuan itu sendiri. Inilah seninya politik.

Politik yang kita tanggapi sebagai seni, tidak akan menimbulkan stress, rasa paranoid, tidak aman yang terus menerus, apalagi frustasi. Jika seorang politikus punya sedikit kecerdasan dan memandang politik sebagai seni, berpolitiknya pun juga akan penuh keindahan dan kesantunan. Politik dan pemilu bukanlah ladang perburuan kekuasaan, apalagi “peperangan”.

Maka, tak seharusnya kontestasi politik seperti pemilu harus menggunakan cara kotor. Baiknya, bertarunglah secara sehat demi mendapatkan pemimpin yang terbaik.

Jika politik tidak berseni, dimana beragam intrik dimainkan hanya untuk sebuah kemenangan, tentunya akan membuat orang lain terutama orang muda risih berpolitik. Orang menjadi beranggapan politik itu memainkan cara kotor dalam meraih panggung kekuasaan.

Jadi, tugas para politisilah memberikan pendidikan politik yang baik dan benar bagi masyarakat agar mereka mau ikut berpolitik.

 Pendidikan politik yang baik adalah saat oknum politisi tidak memainkan politisasi agama, kampanye hitam dan SARA, serta politik uang. Harus memandang politik itu adalah seni.

Politik itu harus melihat integritas dan kapabilitas dari pemimpinnya, bukan melihat uangnya. Selain dari itu, politik juga diharapkan tanpa ada mahar, sebagaimana beberapa partai politik yang ikut pemilu 2019 menggaungkan politik tanpa mahar dalam proses kontestasi politik.

Jika tanpa mahar politik, maka akan membuat orang lain terutama orang muda tidak risih berpolitik. Mereka tidak terbebani uang yang banyak demi menjamin keikutsertaannya dalam kontestasi politik.

 Politik itu harus menjamah dan ramah terhadap semua orang. Hilangkanlah istilah “Tidak ada makan siang gratis”. Politik memakai mahar, politisasi agama, kampanye hitam dan lain sebagainya harus kita musnahkan demi keikutsertaan semua pihak terutama orang muda di dalamnya dalam politik.

Saatnya berpikir merekrut orang muda ikut berpolitik demi menjamin adanya regenerasi dalam dunia politik.

 Menyikapi itu, maka lahirlah beberapa partai politik yang menggaungkan politik tanpa mahar dan partai ramah orang muda. Dari jargon itu membuat sebagian orang pun tidak takut berpolitik.

Terkait itu, teman dekat penulis pun menjadi ikut serta dalam kontestasi Pileg sebagai calon DPRD tahun 2019 di daerah kelahirannya Kabupaten Dairi, karena adanya jargon politik tanpa mahar dan ramah orang muda dari beberapa partai yang ikut serta dalam pemilu tahun 2019.

Baca Juga: Panggung Politik

Apa yang diputuskannya tersebut adalah langkah besar untuk meyakinkan orang lain untuk tidak risih berpolitik. Politik itu baik bila diterapkan oleh oknum politisi dengan baik juga. Bila sudah dilaksanakan dengan baik, maka tidak ada istilah risih berpolitik.