Minggu siang ini adalah sebuah minggu siang yang lucu. Lucu karena tenggorokan saya sakit akibat karaokean 3 lagu india, dan nyaris tersedak gara-gara membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seseorang yang memegang jabatan sebagai manajer riset di sebuah kampus.

Yang dibahas di artikel tersebut nggak lain dan nggak bukan adalah topik terhangat bulan ini yaitu LGBT (ya, sehangat-hangatnya topik haram halal Valentine, masih lebih panas topik LGBT untuk dibahas). 

Artikel tersebut membahas analisa empiris si penulis tentang pengaruh sikap pro LGBT sebuah negara terhadap pertumbuhan ekonominya. Saya bukan ahli ekonomi, tak pernah pula belajar ekonomi kecuali saat SMP dan SMA dulu. Jadi saya tidak akan membahas aspek ilmiah dari analisa beliau.

LGBT Tak Berhubungan dengan Tingkat Pertumbuhan Penduduk

Yang saya ingin bahas adalah pernyataan penulis yang menyatakan bahwa dengan semakin meningkatnya kecenderungan LGBT di suatu negara, maka semakin rendah tingkat pertumbuhan penduduk. Yang bersangkutan juga menuliskan bahwa Eropa memiliki kecenderungan pertumbuhan penduduk negatif.

Tunggu dulu! Kok tingkat pertumbuhan penduduk yang rendah jadi salah LGBT? Karena LGBT nggak bisa punya anak begitu? Apakah dengan semakin banyaknya orang-orang yang LGBT di suatu negara maka semakin menurun tingkat kelahiran di negara tersebut?

Karena penasaran, saya mencari informasi tentang tingkat pertumbuhan penduduk di Uni Eropa. Dari hasil pencarian sekilas yang saya lakukan melalui website Eurostat, tingkat pertumbuhan penduduk di Uni Eropa sebenarnya naik.

Di tahun 2015 sendiri, jumlah penduduk Uni eropa secara keseluruhan naik 101.5 juta bila dibandingkan dengan tahun 1960. Bahkan berdasarkan data tahun 2014, kenaikan jumlah penduduk di Uni Eropa  justru dikarenakan faktor alami yaitu jumlah kelahiran, bukan karena datangnya imigran.

Memang, meskipun terlihat ada peningkatan jumlah penduduk di Uni Eropa secara keseluruhan, namun ada 11 negara yang memiliki pertumbuhan penduduk yang negatif, termasuk di antaranya Yunani, Bulgaria, Romania, Latvia, Hungaria.  Apakah pertumbuhan penduduk yang negatif di sebelas negara tersebut disebabkan oleh semakin banyaknya LGBT atau akibat dukungan pemerintah terhadap hak-hak LGBT (seperti yang diduga oleh penulis artikel tersebut)? Ternyata bukan!

Penyebabnya bukan LGBT dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan LGBT atau kebijakan pemerintah yang pro LGBT. Penurunan tingkat pertumbuhan di sebelas negara Eropa tadi disebabkan keengganan para dewasa muda di sana untuk berkeluarga dan memiliki anak.

Keengganan ini disebabkan berbagai alasan, tapi terutama faktor ekonomi. Biaya kesehatan, biaya pendidikan, biaya rumah tangga, dan biaya-biaya lain. Bahkan seperti dilansir oleh surat kabar Telegraph, beberapa studi terbaru menyatakan di Italia, Yunani, dan Spanyol (tiga negara yang baru saja mengalami krisis ekonomi), warga dewasa muda bahkan semakin tidak ingin memiliki anak karena sulitnya kondisi ekonomi di negara-negara tersebut.

Bagaimana mau memiliki keturunan kalau pekerjaan susah didapat, harga barang kebutuhan pokok mahal, belum lagi biaya lainnya? Wajar saja di negara-negara yang sedang krisis ekonomi, warga mudanya enggan untuk berkeluarga atau memiliki keturunan.

LGBT tetap bisa memiliki keturunan

Yang lucu lagi dari artikel yang membuat saya nyaris tersedak itu adalah klaim bahwa mereka yang LGBT tidak dapat memiliki keturunan. Membaca pernyataan itu membuat saya ingin menjedot-jedotkan kepala ke dinding. Sungguh!

Bila kaum yang kontra dengan LGBT berkoar-koar soal "God made Adam and Eve, not Adam and Steve" lalu menyalahkan menurunnya populasi penduduk di suatu negara akibat LGBT, saya ingin meminta mereka melek sains dan teknologi.

Hey, ini sudah abad ke-21. Sperma sudah bisa dibekukan. Sekarang ovum pun sudah bisa dibekukan. Ada yang namanya "ibu pengganti" atau surrogate mother. Bahkan ada yang namanya "surrogate womb", di mana rahim seorang wanita 'disewa' untuk menumbuhkan fetus yg berasal dari inseminasi sperma dan ovum individu yang lain.

Teknologi sudah maju, sains terus berkembang. Ada banyak cara untuk memiliki keturunan. Mereka yang gay bisa memiliki anak melalui surrogate mother, mereka tinggal menyumbang sperma. Yang lesbian bisa hamil dengan bantuan sperma dari sperm bank.

Tidak berkeinginan meneruskan keturunan tapi ingin mengasuh anak? Banyak anak yatim piatu yang bisa diadopsi atau diasuh di berbagai negara. Jadi banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan bagi mereka yang LGBT untuk memiliki keturunan.

Jadi, klaim bahwa LGBT tidak dapat memiliki keturunan sehingga berkontribusi terhadap rendahnya tingkat pertumbuhan penduduk di negara-negara yang pro LGBT sungguh sangat tidak masuk akal dan tidak melek sains!

Bernalarlah sebelum Bersikap

Mengapa saya mengeluarkan tulisan ini? Karena begini, silahkan saja siapapun ingin menentang atau mendukung keberadaan LGBT, tapi dukung atau tentanglah dengan alasan yang jujur. Bila alasan di balik suatu tindakan saja sudah tidak jujur, saya sungguh meragukan kapabilitas orang tersebut.

Penulis artikel tersebut ingin menyatakan bahwa dia kontra dengan LGBT, berusaha menyajikan data-data, padahal sebenarnya dari tulisannya saya sudah bisa membaca bahwa dia kontra LGBT karena alasan sederhana. Agama yang dia anut melarang LGBT. 

Saya sangat menyayangkan bila ada akademisi atau ilmuwan yang kemudian mengeluarkan pendapat menggunakan data namun dipertanyakan keabsahan datanya, keabsahan metode analisanya. Sementara dalam melakukan penelitian saja, kita harus jungkir balik mengumpulkan data, memilih metode analisa, dan bahkan setelah itu pun tak mudah membuat suatu kesimpulan.

Sesungguhnya akademisi dan ilmuwan yang sembarangan menyajikan data bahkan memanipulasi data, ikut bertanggung jawab terhadap pembodohan masyarakat di tempat dia berada. Orang awam yang membaca artikel yang menyajikan hasil analisa data tidak akan mempertanyakan keaslian datan, keabsahan metoda analisa, dan sebagainya. Mereka akan menelan mentah-mentah dan kemudian menjadikan artikel tersebut untuk berargumen di kemudian hari.

Bila ternyata data itu salah, keliru, dimanipulasi, di mana tanggung jawab seorang akademisi/ilmuwan? Mau bagaimana membenarkan persepsi yang terlanjur salah akibat data yang sembarangan diajukan itu?

Bila tak menyukai suatu persoalan karena alasannya adalah aturan agama, ya sudah. Mau itu akademisi atau ilmuwan atau politikus atau desainer atau tukang becak, ya nyatakan saja bahwa dia tidak menyukai suatu persoalan karena alasan agama.

Jangan meleber dan membawa-bawa sains, teknologi, pertumbuhan penduduk atau apalah lainnya. Karena alasannya jadi mentah, jadi dibuat-buat. Apalagi analisa datanya juga tidak valid, dan variabel yang diambil tidak nyambung.

Isu yang panas memang enak untuk dikunyah-kunyah. Tapi seharusnya mereka yang memiliki kapasitas lebih dalam memandang suatu persoalan tidak begitu saja terbawa arus melepehkan isu yang dia kunyah tanpa diperiksa terlebih dahulu tekstur, rasa, warna, dan bau dari isu tersebut.

Selamat bernalar ;)