Pertanian adalah masalah yang paling disalahpahami, rumit, terabaikan, dan tidak diinginkan. ~David Ray Griffin~

Inilah kondisi yang dialami oleh para petani Indonesia: pertanian dianggap sebagai masalah yang rumit, susah, dan tidak diinginkan. Hal ini tentunya tidak terlepas dari kondisi yang dialami oleh petani-petani senior (lanjut usia) yang masih belum akrab dengan teknologi dan berbagai inovasi di bidang pertanian. Akibatnya, hasil tani mereka tidak mampu bersaing di pasar, dan ini lantas memperburuk situasi ekonomi rumah tangganya.

Jika menilik ke belakang, tentu kita belum lupa akan kondisi pertanian Indonesia yang sempat berkuasa pada masa orde baru. Kita mampu swasembada pangan beras dan tidak melakukan impor. Kondisi pertanian kita kembali memburuk tepat setelah runtuhnya orde baru. Kita selalu melakukan impor bahan pangan secara besar-besaran, ketahanan pangan kita bergantung pada negara lain.

Ini disebabkan lahan pertanian kita yang hampir tidak tersentuh oleh pembangunan, dan penerapan teknologi yang kurang oleh pemerintah sehingga para petani tidak mampu mengolah dan memproduksi hasil yang cukup untuk kebutuhan dalam negeri. 

Cahaya terang untuk dunia pertanian muncul pada Pemerintahan Jokowi. Tepat setelah kemudi NKRI pindah ke tangan bapak kurus ini, semua berubah drastis. Pertanian yang dulu nampak kumuh, sekarang mulai digandrungi oleh anak muda.  Hal ini tidak terlepas dari program kerja pemerintah yang telah menyihir dunia pertanian Indonesia dan mengubah mindset masyarakat tentang dunia pertanian.

Indonesia sekarang telah mengekspor beras, jagung, nanas, dan masih banyak lagi. Pembangunan pertanian benar-benar merata dan terlaksana dengan mekanisme yang lebih modern. Pembangunan irigasi bahkan sampai pemanfaatan lahan rawa untuk tanam padi juga berjalan dengan baik. Ini adalah bukti keseriusan pemerintah dalam memajukan pertanian Indonesia yang tentunya akan membawa dampak positif terhadap para petani kita.

Namun, pandangan sinis kerap menerpa program dari pemerintah ini. Bukan dari luar, justru dari dalam, yaitu rakyat Indonesia itu sendiri. Banyak pengamat mengemukakan data yang tidak sesuai di lapangan, mereka mencoba membutakan pandangan umum tentang perkembangan sektor pertanian Indonesia saat ini.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, dalam sesi wawancara dengan salah stau reporter Detiknews menyatakan bahwa banyak pengamat yang berasal dari barisan sakit hati karena tidak bisa lagi 'bermain' di badan Kementerian Pertanian, mereka kerap menjatuhkan dan menjelek-jelekkan perkembangan pertanian Indonesia saat ini. Ia juga mengatakan bahwa Indonesia berhasil menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang masuk dalam Index Keberlanjutan Pangan atau Food Sustainability Index (FSI). Tentu ini menjadi suatu kebanggaan bagi kita.

Namun, bukannya mendapat pujian, program Pemerintah ini malah mendapat tanggapan pesimis dari kalangan-kalangan yang tergolong elit dan memegang jabatan. Tentunya ini bukan citra yang baik untuk ditiru oleh masyarakat awam karena dapat menumbuhkan sikap pesimistis di kalangan bangsa ini. Apa pun yang terjadi, yang baik tetaplah baik dan itulah yang harus kita tiru.

Sebagai generasi muda pertanian, saya ingin mengajak pembaca untuk cermat dalam membaca berita, terutama seputar perkembangan dunia pertanian kita. Pertanian kita telah malaju dengan kecepatan yang maksimal dan sekarang tinggal tugas kita untuk menjaga dan membantunya.

Pembangunan pertanian tidak hanya bertumpu pada pemerintah tetapi juga bertumpu pada seluruh elemen masyarakat. Banyak mahasiswa pertanian yang enggan turun ke sawah untuk jadi petani karena dianggap kurang menguntungkan. Saya mau bilang, itu adalah pemikiran jaman dulu. Pertanian sekarang sangat jauh lebih menguntungkan dari yang kita pikirkan.

Ingat, salah satu penopang perekonomian Indonesia ini adalah sektor pertanian dan itu sangat sentral sekali. Kita bisa membangun negara yang maju jikalau pertanian kita benar-benar maju dan berteknologi modern dan itulah yang sedang dibangun oleh pemerintah saat ini. 

Busungkan dadamu, kawan, tegakkan pandanganmu, lihatlah bahwa tahun 2045 kita akan menjadi lumbung pangan dunia. Semua mata dunia sedang tertuju kepada kita saat ini dan mereka siap-siap untuk merebut, merusak, dan mengambil alih yang kita miliki. Jadilah bagian dari kemajuan dunia pertanian kita. Jangan malu jadi petani.