Sedari tadi kau tak berhenti mondar-mandir di sepetak kamar sempit ini. Benda kecil putih yang tak kutahu namanya itu kau genggam erat-erat. Terkadang kau membuka genggamanmu dan meliriknya takut. Memangnya ada apa dengan benda itu, Mama?

Lagi-lagi kau mondar-mandir. Keringat dinginmu membanjir. Raut wajahmu menggambarkan kecemasan luar biasa. Aku ikutan gelisah melihat tingkahmu, Mama. Tidak bisakah kau duduk atau berbaring saja? Aku pusing.

Kau melirik salah satu nomor kontak di ponselmu. Tapi tak kunjung menelepon. Sepertinya kau ingin mengabarkan kepada lelaki itu secepatnya, tapi kau takut. Takut akan reaksinya.

Dua hari berlalu dengan canggung. Kegelisahanku bermutasi menjadi kekesalan melihat tingkah uring-uringanmu. Kau berkali-kali mencoba menghubungi lelaki itu, namun nihil. Nomornya tidak aktif. Lelaki itu menghilang dari peredaranmu.

Hari demi hari terus melaju. Sejak itu kau tak lagi masuk kerja. Kerjaanmu hanya makan dan tiduran. Kekesalanku bermutasi menjadi rasa kasihan. Belakangan ini hidupmu menyedihkan. Ada apa sebenarnya Mama? Air matamu tidak berhenti menetes. Aku ingin menghapus bulir-bulir yang berjatuhan itu tapi aku tak mampu. Bergerak sedikit saja, kau membentakku, bagaimana mungkin aku mampu menghiburmu.

Waktu melesat demikian cepat. Tiga bulan sudah lelaki itu raib dari hidupmu. Tuhan memang Mahabijaksana menentukan momentum. Di saat kita sedang bersantai sore di cafe favoritmu, secara tidak sengaja lelaki itu muncul.

Dia agak terkejut melihat keadaanmu sekarang. Aku tidak suka melihatnya Mama, ayo kita pulang saja. Namun kau mengacuhkanku demi berbicara dengan lelaki itu. Lelaki yang membuat hidupmu tak menentu beberapa bulan belakangan.

Kalian kelihatan sedang berbicara serius, sampai-sampai lupa menyentuh hidangan yang sudah diantarkan pelayan restoran sekitar satu jam yang lalu. Aku sudah lapar Mama, tapi kau kelihatannya tidak peduli.

Obrolan kalian semakin lama terdengar semakin sayup. Lebih mirip bisikan. Aku penasaran tapi aku tak mampu mendengar. Setelah obrolan terakhir itu, terbitlah senyum sumringah diwajah kalian berdua.

Aku senang melihatmu tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Setelah pertemuan itu kau terlihat semakin bersemangat. Saban hari kau sambangi gym dekat kontrakan kita. Olahraga berat jadi santapanmu sehari-hari sampai malam menjelang. Kalau saja tempat fitness itu diperbolehkan menginap, pasti sudah pula kau lakukan. Pulangnya kau langsung terlelap. Aku ikutan lelah melihat kegiatan barumu, Mama.

Semakin hari kau semakin menggila. Olahraga seperti orang kesetanan, Padahal instrukturmu sudah memberi peringatan. Kau juga teratur minum suplemen yang tidak kutahu apa khasiatnya. Ada apa dengan sikap barumu mama?

Sebulan lebih semua itu berlalu. Namun kau tampak tidak puas. Aku tidak tahu apa yg kau inginkan. Sehatkah, berat badan idealkah?

Kau lagi-lagi uring-uringan.Tangismu perlahan-lahan kembali. Hampir tiap malam kau menelepon lelaki itu, meluahkan emosi dan tangis-tangis panjangmu yang semakin lama semakin berlarut-larut.

Akhirnya kau memutuskan menemui lagi lelaki itu. Dia memelukmu erat, menenangkanmu, karena tangismu lagi-lagi pecah. Aku malah sesak nafas melihat kelakuan kalian.

Beberapa hari setelah pertemuan itu,  kita bersama lelaki itu pergi ke pinggiran kota, ke sebuah bangunan kecil yg tersembunyi diantara bangunan lainnya. Seseorang perempuan setengah baya menyambut kedatangan kita. Kemudian kau, lelaki itu dan perempuan setengah baya itu terlibat perbincangan serius.  Aku tidak dengar apa yang kalian bicarakan.

Hanya akhir kalimatmu yang kudengar sayup-sayup mama.

"Kami ingin membuangnya"

"Membuang apa mama?"

"Kami belum siap menikah Mbah, dan kami masih terlalu muda, secara mental kami belum siap untuk punya bayi," kudengar lagi ucapan lelaki itu.

Bayi? Apakah kalian sedang membicarakanku? Apakah aku yang ingin dibuang Mama? Kenapa Mama? Kenapa kau membuangku? Aku menangis, aku teriak, aku menendang sekuatku. Aku mau hidup mama. Bukankah aku ada karena cinta dan kerelaan yang kau beri cuma-cuma pada lelaki itu? Lantas mengapa kau ingin membuangku?

Bukankah ketika Tuhan menghadirkanku melalui ragamu aku diberi hak untuk hidup dan melihat dunia? Mengapa kau mencampakkanku?

Kau  jahat Mama. Ternyata kau lebih mencintai lelaki itu ketimbang aku. Kau lebih takut pandangan menghakimi dunia dan manusia ketimbang penghakiman dari Tuhan.

"Kami akan memiliki anak,  ketika sudah siap dan sudah menikah," kau melanjutkan kalimatmu.

Ya, kau benar Mama, kau mampu memiliki 'aku-aku' yang lain setelah menikah. Jangan lahirkan aku.