“Ojok kagetan dadi arek iku” (Jangan menjadi orang yang mudah terkejut), ingatan melayang ke sebuah peristiwa beberapa tahun lalu, di tahun pertama menjadi mahasiswa. Sepotong kalimat yang dilontarkan oleh seorang senior di tengah perbincangan bersama kawan-kawan yang sedang bersantai di emperan sekretariat unit kegiatan mahasiswa.

Sepotong kalimat tersebut sederhana, tapi cukup relevan untuk melihat fenomena yang banyak terjadi dewasa ini. Khususnya menghadapi pesatnya perubahan di tengah era percepatan pengetahuan dan kecanggihan teknologi yang tidak terbatas. 

Informasi begitu cepat tersebar untuk kita dapatkan dan ketahui dengan mudah. Tetapi, apakah kuantitas informasi tersebut berbanding lurus dengan kualitas di dalamnya?

Banjir Informasi

Dewasa ini, media saling berlomba adu popularitas satu sama lain. Adu cepat demi viewers yang terus melonjak, pembaruan harian hingga sepersekian detik informasi tidak henti disajikan. Informasi bak air bah yang membanjiri di musim penghujan. Satu peristiwa dapat dikabarkan saat itu juga, tidak perlu menunggu esok hari tercetak di koran pagi.

Segala macam informasi disajikan, dari polemik politik, fluktuasi ekonomi, hingga informasi bersifat entertain seperti kehidupan pribadi para bintang hiburan tanah air dan mancanegara. Media beradu kreativitas menyajikan apa pun untuk konsumsi publik, selama bisa menjadi perbincangan khalayak ramai.

Konten informasi juga berusaha dikemas sedemikian rupa untuk menarik minat para pembaca. Seperti pengemasan informasi hingga pemilihan judul yang sering kali cukup menipu, click bait misalnya. Judul bombastis, menggelitik keingintahuan, tetapi dengan isi informasi yang tidak sesuai. 

Belum lagi penyajian yang sengaja disajikan terpotong-potong atau dibagi beberapa halaman. Lagi-lagi berorientasi profit, makin banyak klik, membuat presentase keuntungan makin menukik.

Orientasi semacam ini kerap membuat pengenyampingan substansi dari infomrasi itu sendiri. Sering kali konten informasi yang beredar cukup mengecewakan, apalagi ketika pemberitaan menyimpang jauh dari kebenaran. Hingga terjadi hoaks, pembohongan publik. Entah berasal dari kurangnya verifikasi data di lapangan akibat diburu waktu, hingga setting media guna mencuri perhatian pembaca semata.

Meluapnya informasi ini membuat banyak masyarakat merasa ambigu dengan berbagai informasi yang beredar. Percepatan pengetahuan yang didukung kecanggihan teknologi membuat fakta menjadi abu-abu. Mengingat keabsahan data kurang dapat dipertanggungjawabkan. 

Meski tidak semua media berlaku demikian, tetap saja membuat kebingungan, bukan? Bahkan di setiap waktu, kita dapat dikagetkan dengan berbagai informasi yang cukup mengejutkan.

Mis – Disinformasi 

Alih-alih mencari kebenaran, banyak orang-orang yang dengan mudah percaya tanpa mencari tahu lebih dalam atau justru ikut terlibat menyebarkan informasi yang jelas kebohongannya. Bagaimana bisa? Hal ini berkaitan dengan informasi-informasi tersebut dicerna hingga muncul istilah mis-informasi dan dis-informasi.

Mis-informasi merupakan informasi yang salah, tetapi orang-orang tetap mempercayainya. Entah karena kurang dalamnya pengetahuan yang dimiliki, terkecoh pengemasan berita, hingga rendahnya budaya literasi masyarakat Indonesia yang berbanding terbalik dengan tingkat konsumsi digital.

Rendahnya budaya literasi menjadi peluang bagi media-media curang yang hanya mencari keuntungan. Tidak sedikit orang yang membaca sebuah tulisan tidak membaca keseluruhan, hanya membaca sebagian, bahkan tidak sedikit yang hanya membaca judulnya saja. Penggunaan judul bombastis dan pola click bait menjadikan peluang kesalah pahaman dan berita bohong laris dikonsumsi.

Selain itu, ada pula informasi yang sudah diketahui ketidakbenarannya, tetapi banyak orang yang menyebarkannya dengan sengaja. Hal ini kemudian disebut disinformasi. Kedua macam istilah ini kemudian dibagi ke dalam tujuh jenis berdasarkan bentuknya, antara lain:

  1. Parodi atau satire: Informasi yang bersifat lucu yang bertujuan hiburan saja. Tidak ada niat untuk menyakiti, tapi berpotensi membodohi.
  2. Konten menyesatkan (misleading content): Konten yang sengaja dibuat menyesatkan untuk membingkai sebuah isu atau menyerang individu. Informasi didalamnya “dipelintir”.
  3. Konten aspal (imposter content): Informasi yang dikemas seolah-olah sumbernya asli, tetapi palsu.
  4. Konten pabrikasi (fabricated content): Konten yang sengaja dibuat untuk menyesatkan. Tanpa fakta dan tidak benar sama sekali.
  5. Tidak relevan (false connection): Judul berita, foto, dan caption tidak relevan dengan isi berita di dalamnya.
  6. Konteksnya salah (false context): Informasi dengan menghilangkan konteks asli. Sehingga informasi yang diperoleh di luar konteks yang sebenarnya.
  7. Konten Manipulatif (manipulated content): Informasi asli atau kontennya dimanipulasi.


Ragam bentuk mis-disinformasi ini didasarkan oleh beberapa alasan, seperti jurnalisme yang lemah tergerus tuntutan kecepatan informasi dan kecanggihan teknologi. Alasan bercanda atau lucu-lucuan juga ikut andil dalam penyebaran mis-disinformasi hingga mencari keuntungan lewat iklan dengan pola click bait

Belum lagi tujuan-tujuan tidak terpuji yang berlandaskan kepentingan, seperti kegiatan provokasi, propaganda, partisanship, dan gerakan politik tertentu.

Manusia VS Teknologi

Cukup dilematis, banjir informasi dengan ragam mis-disinformasi yang beredar justru menuntut manusia berpikir lebih kritis. Kecanggihan teknologi yang diciptakan dengan tujuan menyederhanakan pekerjaan manusia, juga memaksa manusia berpikir rumit di waktu yang sama. 

Informasi bertebaran di mana-mana, tanpa ada jaminan kebenaran terkandung di dalamnya hingga informasi mana yang kita butuhkan dan tidak penting dikonsumsi.

Menghadapi fenomena semacam ini kemudian membutuhkan kemampuan melek media yang signifikan, seperti teliti dalam berbagai hal. Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan memanfaatkan kemampuan berpikir manusia itu sendiri yang dibantu dengan pemanfaatan teknologi. Lebih waspada dan lebih jeli menanggapi beragam informasi yang datang silih berganti.

Kejelian dan ketelitian dapat diterapkan dengan membiasakan diri mencari informasi hanya di website resmi dan situs media mainstream seperti halnya kompas.com, tempo.co.id, dan sejenisnya. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan domain .com/.co.id/.org dan sebagainya. 

Untuk memastikan lebih lanjut, dapat memeriksa profil media (about us/tentang kami) atau melalui domainbigdata.com, mengingat tidak sedikit website abal-abal yang beralamat blogspot.com.

Termasuk detail visual, banyak media abal-abal yang menyamar sebagai media mainstream. Mulai dari tata letak, gambar, hingga font huruf yang digunakan butuh dicermati dengan baik. 

Selain dari kemasan, penyajian judul juga menjadi sarana memeriksa keabsahan informasi, waspadai judul-judul sensasional. Banyaknya iklan dalam sebuah artikel informasi menjadi ciri media pencari click bait.

Selanjutnya kejelasan isi dari informasi dapat diketahui dengan memeriksa isi keseluruhan informasi, coba bandingkan dengan ciri-ciri atau standar informasi yang disajikan oleh media mainstream. Seperti nama penulis tertera dengan jelas, lengkap dengan tanggal kapan informasi tersebut terbit. 

Penulisan informasi dengan kalimat yang jelas, baku, dan rapi dengan tidak mengenyampingkan sumber informasi atau narasumber yang kredibel.

Dapat mengetahui ciri-ciri ini tentu butuh membaca banyak media mainstream, untuk dapat membandingkan dan memeriksannya kemudian. Termasuk membaca di banyak media mainstream yang lain bagaimana informasi serupa disajikan.

Pemanfaatan teknologi selanjutnya dapat menggunakan Google Research Image Service (https://www.images.com/) untuk memeriksa kebenaran sebuah data berupa gambar, verifikasi lokasi (https://www.google.com/maps) untuk memeriksa kebenaran sebuah tempat, hingga melakukan proteksi ganda terhadap gawai dan akun daring untuk meminimalisir pencurian data.

Pentingnya optimalisasi kemampuan berpikir dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi membantu manusia menghadapi fenomena arus informasi yang tidak terkendali. 

Berpikir kritis, teliti, jeli, ditambah bantuan teknologi membuat kita tidak mudah terkejut dan bingung dengan banyak informasi simpang siur yang mengagetkan bukan? Mangkane ojok kagetan (makanya jangan mudah terkejut), yuk melek media mulai sekarang!