Saat ini di lingkungan kita sehari-hari marak yang namanya LGBT. Lesbian, Gay, Biseksual, dan transgender. Hampir di setiap kota terdapat yang namanya LGBT. Seperti yang diketahui, LGBT merupakan suatu penyimpangan sosial, yang mana LGBT tidak sesuai dengan perilaku normal sehari-hari.

LGBT tidak hanya tidak sesuai dengan lingkungan sosial namun juga tidak sesuai dengan ketetapan agama. Karena ketidak sesuaian itulah yang menyebabkan para LGBT dibenci dan juga dijauhi oleh masyarakat sekitar. Mereka diasingkan, dicaci maki bahkan dipermalukan di depan masyarakat.

Memang keberadaan mereka merupakan suatu penyimpangan. Namun, haruskah memberantas kaum LGBT dilakukan dengan cara mencaci, menjauhi dan bahkan mempermalukan mereka didepan umum? Apakah dengan menjauhi LGBT akan menjadi manusia normal kembali?
Apakah dengan caci maki mereka akan sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah? Apakah dengan mempermalukan mereka di depan umum akan membuat poplasi kaum LGBT berkurang? Tidak adakah cara yang lebih baik dan lebih layak lagi untuk menjadi usaha pemusnahan LGBT.

LGBT memang bukan perilaku yang baik, perilaku mereka memang tidak layak. Namun sebagai manusia yang sudah diciptakan layak oleh sang pencipta kita tidak memiliki hak sama sekali untuk menghina, mencaci, bahkan mempermalukan sesama makhluk ciptaan. Masih banyak cara lain, cara yang layak untuk kita lakukan dalam mengurangi LGBT.

Banyak yang menjadi korban LGBT karena mereka berasal dari keluarga yang "broken home". Keluarga yang rusak, tidak mendapatkan keharmonisan, kasih sayang dan juga didikan dari orang tua membuat anak mencari sebuah kenyamanan pada lingkungan lain. Menerima kenyamanan dari dunia lain tanpa mengetahui apakah hal itu benar atau tidak.

Korban bullying juga menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi mengapa sesorang dapat menjadi korban LGBT. Hinaan dan cacian yang mereka dengar setiap hari dapat menyebabkan mereka tidak layak dan merasa ditolak diantara lingkungannya. Membuat mereka juga memiliki cara berpikir yang salah mengenai diri mereka.

Sebagai contoh, seorang anak perempuan yang memiliki 4 saudara laki-laki. Sang anak perempuan selalu bergaul dengan keempat saudara laki-lakinya. Keempat kakak laki-lakinya selalu mengatakan bahwa dirinya adalah anak yang lemah, perempuan yang manja dan tidak memiliki kekuatan dalam melakukan segala sesuatu.

Setiap harinya, sang anak perempuan selalu mendengarkan hinaan dan cacian sang kakak sehingga menyebabkan dirinya memiliki cara berpikir yang salah mengenai anak perempuan. Hinaan dan cacian keempat kakaknya membuat sang anak perempuan merasa tertolak dan memiliki pola pikir yang salah.

Karena merasa tertolak dan juga memiliki pola pikir yang salah, sang anak perempuan akan berusaha untuk diterima dengan keempat kakaknya, ia pasti akan berusaha untuk menjadi seperti keempat kakaknya agar dapat diterima dan diakui oleh keempat kakaknya. Berusaha bersikap dan berperilaku sebagai laki-laki dan melupakan sikap dan perilaku perempuannya.

Lalu setelah perubahan yang dialami sang anak (berubah dari perempuan menjadi laki-laki), apakah keempat kakaknya akan tetap menerimanya sebagai saudara? Tidak, tentu tidak karena perubahan yang dialami sang anak membuat keempat kakaknya menjadi merasa aneh, jijik, bahkan malu mempunyai adik yang melakukan penyimpangan sosial.

Mereka pasti akan menjauhi sang adik, tidak akan berbicara lagi dengan sang adik. Padahal, sang adik menjadi seperti itu karena ingin merasa diakui, dihargai dan diterima oleh sang kakak namun yang terjadi adalah sebaliknya, ia dijauihi, dihina, diasingkan bahkan dipermalukan di depan umum.

Setelah dijauihi, ia akan mencari orang-orang yang mau menerimanya dan mau bergaul dengannya yaitu sesama korban bullying. Merasa diterima, maka akan merasa bahwa apa yang dilakukanya adalah benar, sehingga mereka tetap melakukan penyimpangan tanpa tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah.

Disinilah peran besar masyarakat dalam memberantas LGBT dengan cara yang baik, benar, dan layak yaitu dengan tidak menjauhi keberadaan mereka. Mereka membutuhkan sebuah lingkungan yang mau menerima mereka tanpa harus merubah kepribadian mereka. Mereka membutuhkan lingkungan yang mampu mengubah pola pikir mereka.

Jangan sampai mereka mencari sebuah kebenaran di lingkungan yang membenarkan sebuah penyimpangan. Seperti yang dialami oleh sang anak peremupuan yang ada pada contoh diatas. Disinilah peran kita, yaitu dengan cara mendekati mereka, menerima mereka lalu berkomunikasi dengan mereka untuk memberitahukan hal yang benar.

Kita sudah mengetahui faktor yang melatarbelakangi penyebab LGBT yaitu kekurangan kasih sayang, kurangnya didikan dan bimbingan orang tua dan juga penolakan dari masyarakat. Sebaiknya kitalah yang menjadi peran pengganti tersebut. Sebaiknya kitalah yang memberikan kasih sayang kepada mereka.

Sebaiknya kita mendekati mereka dan membawa kereka pada lingkungan yang tidak menyimpang sehingga mereka dapat mengerti bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah dan mau untuk berubah dari perilaku yang menyipang menjadi perilaku yang tidak menyimpang. Karena yang dibutuhkan oleh korban LGBT bukanlah hukum, bukankah kamar penjara.

Hukum dan kamar penjara sama sekali bukan usaha yang tepat dalam mengatasi permasalahan LGBT. Mereka membutuhkan kasih sayang, lingkungan yang mau menerima dan juga didikan yang benar yang sebelumnya tidak mereka dapatkan dalam lingkungan mereka. Dekati mereka ubahlah pola pikir mereka sedikit demi sedikit. Beritahu mereka dengan pelan-pelan.