Masih ingatkah pembaca dengan sebuah lagu berjudul Jangan Ada Dusta di Antara Kita? Jika pembaca adalah millenials atau post-millenials, kemungkinan besar Anda tidak ingat dengan lagu ini. Tetapi, jika pembaca adalah gen xers atau di atasnya, pasti Anda ingat lagu ini. “Jangan ada dusta di antara kita, kasih” adalah lirik ikonik dari lagu tersebut.

Dusta adalah sebuah kata yang menggambarkan kebohongan dan ketidakjujuran. Hal ini tumbuh bak jamur di musim hujan ketika musim pemilu datang. Pada 17 April 2019, akan ada pileg dan pilpres secara serentak di negeri kita. Sehingga, dusta pun semakin marak bermunculan.

Lalu, apa hubungannya dengan sektarianisme? Sektarianisme adalah dusta terbesar yang harus kita berantas bersama. Mengapa? Untuk mengetahuinya, mari kita tinjau definisi dari sektarianisme.

Sektarianisme adalah sebuah istilah yang menggambarkan keterikatan berlebihan seseorang terhadap aliran agamanya dan partai yang menaunginya. Dalam konteks agama, istilah ini menggambarkan fanatisme buta seseorang terhadap aliran agama yang dia anut. Sehingga, orang/kelompok tersebut rela untuk membela aliran agamanya secara mutlak. Bahkan, mereka tidak menyadari bahwa agama itu sendiri tidak sempurna.

Dalam tingkatan yang paling ekstrem, sektarianisme ini dapat berbentuk aksi persekusi terhadap individu lain yang tidak satu aliran, yang dapat menimbulkan korban jiwa. Salah satu contoh dari tingkatan ini adalah Tragedi Ambon Berdarah 1999, di mana umat Islam dan Kristen saling bunuh-membunuh satu sama lain atas dasar agama.

Dalam konteks politik, istilah ini menggambarkan fanatisme buta seseorang terhadap faksi politik yang menaungi mereka, atau ideologi politik yang ia anut. Dalam kasus ini, the political becomes personal. Tidak ada lagi garis pembatas antara kehidupan politik dan pribadi. Seakan-akan, seluruh hidupnya dihabiskan untuk berpolitik.

Sehingga, politisi atau kelompok politik tersebut tidak mau berhubungan dengan orang lain di luar kamp politiknya. Contoh nyata yang dapat kita temukan dalam sejarah adalah Partai Nasional (National Party) di Afrika Selatan, yang berkuasa dari tahun 1948 sampai 1994. Partai ini hanya mencalonkan kandidat Afrikaner dan tidak mau berhubungan dengan kelompok politik lain di luar Afrikanerdom.

Tetapi, apakah keduanya bisa bergabung? Iya. Bahkan, sejarah dunia menunjukkan suatu peristiwa di mana keduanya bisa terjadi. Peristiwa ini dikenal dengan nama The Troubles, yang terjadi di kawasan Irlandia Utara, yang adalah wilayah Kerajaan Bersatu (United Kingdom).

Peristiwa yang terjadi pada 1968-1998 ini adalah sebuah konflik antara faksi Nasionalis Katolik (tergabung dalam partai Sinn Fein) dan faksi Loyalis Protestan (tergabung dalam Ulster Unionist Party dan Democratic Unionist Party). Faksi Katolik Nasionalis adalah kelompok politik yang ingin memerdekakan diri dari Kerajaan Bersatu dan bergabung dengan Republik Irlandia. Selain itu, mereka juga mendukung Hak-Hak Sipil (Civil Rights).

Sementara, faksi Loyalis Protestan adalah kelompok politik yang ingin mempertahankan Irlandia Utara sebagai wilayah Kerajaan Bersatu. Selain itu, mereka tidak mendukung Hak-Hak Sipil (Civil Rights). Hal ini dianggap membahayakan hegemoni Kerajaan Bersatu dan menjadi langkah awal menuju United Ireland.

Namun, bukan perbedaan pendapat politik yang menjadi masalah. Masalah tersebut muncul ketika masing-masing kubu menganggap kubu yang lain sebagai musuh abadi karena perbedaan pendapat tersebut. Persatuan mereka sebagai sesama umat Nasrani sudah dilupakan. Dalam hati mereka hanya tersisa permusuhan dan kebencian terhadap sesama manusia.

Peristiwa ini baru menemukan titik terang ketika ditandatangani Good Friday Agreement pada 1998. Persetujuan ini menunjukkan adanya keinginan dari semua pihak dari kedua kubu tersebut untuk bekerjasama dalam memajukan Irlandia Utara. Akhirnya, Irlandia Utara menjadi wilayah otonomi dari Kerajaan Bersatu, dengan pemerintahannya sendiri (self-government).

Menurut hemat penulis, The Troubles menunjukkan dua hal tentang sektarianisme. Pertama, bahwa sektarianisme adalah dusta dan pembangkangan terhadap kemanusiaan. Kedua, sektarianisme menimbulkan banyak dampak negatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jelas, sektarianisme adalah dusta dan pembangkangan terhadap identitas kita. Mengapa? Manusia adalah makhluk yang selalu berusaha mencari kebebasan sejati. Namun, kebebasan sejati tersebut tidak muncul dari dalam diri manusia. Lantas, darimana kebebasan sejati tersebut muncul?

Almarhum Senator Arizona, John McCain menjawab pertanyaan ini dengan lugas, Nothing in life is more liberating than to fight for a cause larger than yourself. Kebebasan muncul dari sebuah gerakan yang lebih besar dari diri kita sendiri. Gerakan terbesar yang pernah ada dalam sejarah dunia adalah gerakan kemanusiaan (humanity).

Adanya sektarianisme di masyarakat mengerdilkan kemanusiaan. Kemanusiaan direndahkan derajatnya hingga pada tingkat kepercayaan agama dan politik. Jika orang lain tidak satu kepercayaan dengan sectarians, maka mereka layak untuk dibunuh. Pembunuhan berarti merenggut nyawa manusia secara paksa. Ketika nyawa melayang, maka kemanusiaan ikut melayang bersamanya.

Selain itu, sektarianisme juga menimbulkan banyak dampak negatif. Hal ini dimulai dari terjadinya permusuhan antar kelompok politik dan agama yang seharusnya bersatu memajukan kemanusiaan. Ketika ini terjadi, tercipta disintegrasi sosial. Akhirnya, perpecahan ini menimbulkan degradasi dan dekomposisi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Maka dari itu, jangan memutus pertemanan hanya karena berbeda dukungan politik. Jangan biarkan tali silaturahmi itu digunting karena perbedaan politik dan agama. Justru, perbedaan ini membuat kita terikat satu sama lain, dalam sebuah masyarakat yang berbineka.

Daftar Pustaka