Jamal Khashoggi dan Nasib Jurnalisme Kritis"Saya meninggalkan rumah saya, keluarga saya dan pekerjaan saya dan saya menyuarakan pandangan saya dengan tegas," katanya," jika tidak melakukannya sama saja dengan mengkhianati orang-orang yang dipenjara. Saya bisa bersuara, sementara banyak orang lain tidak bisa.""Saya bisa mengatakan Mohammed bin Salman bertingkah laku seperti Putin. Dia menerapkan hukum dengan sangat berpihak," _Jamal Khashoggi.

Totalitas Jamal Khashoggi sebagai jurnalis yang kritis terhadap realitas tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi karena totalitasnya pula, ia harus menerima kematian yang keji, sebuah pembantain yang sadis dan brutal.

Suara kritis Jamal Khashogi harus berakhir. 2 Oktober 2018, didinyatakan hilang di dalam konsulat Arab Saudi, di Istanbul Turki. Pemerintah Turki secara terang-terang menyatakan bahwa Kashoggi dibunuh oleh para agen Arab Saudi di dalam konsulat. Rekaman video CCTV konsulat menunjukkan beberapa orang dengan alat sensor di tangan sedang mengumpulkan potongan-potongan tubuh Khashoggi. 

Tulisan ini ingin menelusuri rekam jejak Khashoggi dan kiprahnya sebagai jurnalis yang kritis terhadap kekuasaan. Hingga kematiannya Khashoggi dikenal sebagai jurnalis yang paling konsisten mengkritisi kebijakan putra Mahkota Muhammad Bin Salman. 

Dia tidak bungkan terhadap kekuasaan yang represif dan tidak membawa kebaikan bagi masyarakat. Khashoggi mengatakan  “Saya tidak senang mempublikasikan artikel ini di The Washington Post, tetapi bersikap diam tidak melayani negara saya atau mereka yang ditahan.” Untuk segala sesuatu yang tak terkatakan, orang harus mengatakannya. 

Mengenal Jamal KhashoggiJamal Khashoggi Lahir di Madinah pada tahun 1958. Khashoggi muda mempelajari jurnalisme di Indiana University di Amerika Serikat dan memulai kariernya sebagai koresponden untuk surat kabar berbahasa Inggris, Saudi Gazette.Dia dipercaya meliput perang Afganistan saat konflik disana mencapai puncaknya.

Dari tahun 1987 hingga 2017, Khashoggi sudah bekerja di berbagai surat Kabar, mulai surat kabar Asharq Al-Awsat,  Al-Hayat. Arab News, Al Watan, AL Arab, dan yang teranyar dia menjadi kolumnis di surat kabar Washington Pos. Selain bekerja di surat kabar, Khashoggi juga berprofesi sebagai komentator politik dan sering muncul di sejumlah saluran TV di Arab Saudi. 

Sebagai Jurnalis sekaligus editor, Khashoggi dikenal sangat kritis dan tidak menyukai status Quo. Dia gemar berpikir di luar kotak dan melanggar batas-batas yang sering kali dikonstruksikan pemerintah dan pihak koran sendiri  untuk membatasi peran dan kontribusi kritis pers dalam menyuarakan kebenaran. Karena sikapnya yang tidak kompromistis ini, beberapa kali, Khashoggi dipecat dari jabatannya secara tidak hormat.

Khashoggi juga dikenal sebagai wartawan seniorn yang sering turun langsung meliput kejadian-kejadin besar yang terjadi di wilayah Timur tengah. Berbagai hasil reportasinya tentang peristiwa-peristiwa di Afghanistan, Aljazair, Kuwait, dan Timur Tengah pada tahun 1990-an menjadi rujukan utama berbagai media-media internasional. Dia juga semakin di kenal karena pernah bertemu dan mewawancarai secara langsung Osama bin Laden beberapa kali pada pertengahan dekade tersebut, sebelum bin Laden melanjutkan untuk menjadi pemimpin al-Qaeda.

Di negaranya sendiri, Khashoggi gemar menkritik kebijakan pemerintah monarkis Arab yang tidak pro masyarakat. Walaupun dekat dengan lingkaran kerajaan Saudi, suara kritis Khashoggi tidak melemah. Malahan naluri kritisnya sebagai semakin kuat ketika menyaksikan rezim Muhammad Bin Salman, sebagai putera Mahkota baru,  tidak menepati janji-janji reformasi atas Arab Saudi.  

Alih-alih menjanjikan kebebeban pers, dan mendukung perbedaan pendapat, penghentian serangan brutal terhadap Yaman, yang membuat kota itu luluh lantah, serta janji penegakkan HAM, malahan MBS berlaku sebaliknya. Demi mengamankan kepentingan dan nalusi kuasanya, MBS memerintahkan  penangkpan para pangeran, pengusaha terkemuka, aktivis, dan pemimpin Muslim, yang berseberangan dengan kebijakannya. 

Pada 2017, karena terancam, Khashoggi pindah ke Washington DC dan kemudian menjadi kolumnis surat kabar The Washington Pos.  Melalui surat Kabar ini, Khashoggi semakin gencar menyuarakan kritiknya atas MBS dan kebijakannya yang tidak populis. Surat Kabar ini menilai bahwa kritik yang datang dari Khashoggi terhadap Arab Saudi dianggap "membahayakan" oleh para petinggi monarki, karena, ia dipandang bak pembelot yang buka suara soal aib di dalam negaranya sendiri.

Walaupun serng kali menerima ancaman, bahkan ancaman pembunuhan, dari pihak pemerintahan Arab Saudi, semangat Kritis Khashoggi tidak melemah. Ia tetap menyuarakan kebenaran yang diyakininya. Kecintaanya terhadap negara kelahirannya terlalu besar, sehingga tidak ada yang dapat menghalanginya untuk terus menyuarakan perlawanan terhadao rezim MBS yang dari hari-ke hari semakin menyengsarakan Masyarakat Arab. Karena, kecintaannya ini pula, suara kritisnya semakin tersulut. Ia tidak  berhenti menyuarakan suara dari mereka yang tak bersuara. Khashoggi menjadi juru bicara warga Arab Saudi, yang kebebasan, serta haknya untuk bersuara terpasung oleh kuasa absolut sang Putera Mahkota. 

Nasib Jurnalisme KritisHari-hari, penulis memperhatikan di satu sisi rakyat dipertontonkan praksis kuasa yang semakin absolut, kekuasaan yang menentukan segala sesuatu, kekuasaan yang sudah sadar salah tapi anehnya tidak mau di koreksi alias kuasa yang alergi kritik. Praksis kekuasaan seperti  ini bahkan tidak hanya terjadi dalam ranah pemerintahan secara umum, tapi juga terjadi dalam komunitas intelektual seperti kampus serta komunitas-komunitas kehidupan kita. Kekuasaan seperti ini mengkhawatirkan dan bukan tidak mungkin berubah menjadi praksi penindasan.

Di satu sisi, di hadapan praksis kekuasaan seperti di atas, aktivitas jurnalisme kritis hampir-hampir menjadi suatu kemewahan. Banyak media elektronik pun media massa lokal pun nasional, tidak netral dan menjadi instrumen kampanye politis pejabat tertentu. Media saat ini alih-alih menjadi media  yang membantu masyarakat untuk bersikap kritis dan mengambil posisi yang jelas terhadap sebuah fenomena, malahan jatuh menjadi media yang sentimentil, suka ”memanas-manasi” atau mengoreng isu-isu politis tertentu demi menaikkan rating dan oplah. Isu yang sebenarnya remeh temeh digodok hingga jadi isu besar, sehingga hal-hala substansial terkait isu-isu kerakyataan, demokrasi dan masalahnya tidak menjadi fokus utama. 

Media hari ini terjebak dalam kapitalisasi informasi, di mana media bukannya menguak, mengkritisi dan menyuarakan masalah masyarakat, tapi digunakan demi kekuasaan sebagai basis untuk menegaskan eksistensi kedirian, prestasi politis atau saya bilang ajang narsisme politis. Media pun beroperasi tanpa orientasi, alih-alih sebagai pembawa terang bagi demokrasi.

Memang harus diakui bahwa kritisme adalah momok bagi kekuasaan yang absolut dan totaliter, tapi  kekuasaan yang tidak mau dikritik adalah momok bagi kritisisme. Dan persis kematiaan Jamal Khashoggi adalah kematian kritisime atas kekuasaan. Kekuasaan yang tidak mau dikoreksi akan selalu mencari cara membungkam pengkritiknya, walau dengan cara yang tidak manusiawi sekalipun. Kalau begitu apakah ini kematian Khashoggi juga menandakan kematian jurnalisme kritis?

Hemat saya, kematian Khashogi bukan sebuah kematian jurnalisme kritis. Kritisme tidak mesti menyerah tanpa syarat di hadapan kekuasaaan yang kejam dan brutal. Melainkan sebaliknya ia harus semakin lebih kuat digaungkan. Raga Khashoggi boleh mati, tapi jiwa, semangat dan jurnalisme kritis yang dia sudah perjuangkan mesti tetap hidup dan mengilhami karya jurnalisme. 

Hanya dengan itu, kematian beliau yang tragis dan tidak manusiawi dihormati sekaligus menjadi kematian yang membawa inspirasi untuk terus menyuarakan kebenaran dan kebaikan dalam hidup bersama. 

Seorang teoritis politik klasik, Machevialli pernah mengatakan,  “Seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman penggunaan kekuatan”. Filosof  mengingatkan kita, bahwa kekuasaan selalu memilki kecendrungan untuk menjadi absolut. 

Kekuasaan yang tidak dikontrol, merusak relasi antar manusia, dia adalah gangguan untuk berdialog, serta rentan berubah menjadi sombong dan mengabdi kepentingan diri. Maka sebelum kekuasaan menjadi  terlalu absolut  dan antikritik, seperti yang dijalankan MBS di Arab Saudi, penting untuk media mempertahankan semangat kritisnya. 

Satu-satunya corong masyarakat untuk mendapatkan pendidikan politis adalah media, maka bila media sesat dan menyesatkan dirinya, bukan tidak mungkin masyarakat akan tersesat. Sebaliknya bila media kritis, maka masyarakat pun akan menjadi kritis. 

Mengutip Malcom X tokoh Islam Amerika Serikat, “Jika engkau tidak berhati-hati, media akan membuatmu membenci orang yang terzalimi, dan mencintai orang yang melakuhingga kan kezaliman. Media mempunyai kontrol penuh atas massa,  ia memiliki kekuatan dasyat dalam mempengaruhi pikiran. Karena itu, semoga media kita hari ini,  seperti Khashoggi terus konsisten menyuarakan suara kritis dan menginspirasi kritisme dalam masyarakat, sehingga kematian tragis Khashoggi tidak pula menjadi kematian jurnalisme Kritis. RIP Jamal Khashoggi.