Adanya internet telah mengubah gaya hidup masyarakat. Terlebih saat pandemi saat ini, di mana kita tidak bisa berdekatan satu sama lain. Internet menjadi makanan sehari-hari. Kebutuhan akan internet semakin naik. Orang-orang memanfaatkan internet sebagai sumber informasi juga untuk alat aktualisasi diri.

Berbagai macam platform media sosial berbasis internet semakin digandrungi masyarakat. Mulai dari Youtube, Facebook, Instagram, Twitter dan lainnya bertambah dan berkembang terus. 

Media sosial memungkinkan orang dapat mengakses segala macam informasi dari seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat. Dalam hitungan detik, sebuah informasi bisa cepat tersebar.

Ingin dikenal dan dilihat orang banyak, saat ini jauh lebih mudah. Banyak orang membuat konten video yang ‘aneh-aneh’ demi bisa terkenal dan aksinya dilihat banyak orang. Terkadang hal-hal yang tabu dan tidak etis disebarluaskan di media sosial demi mendapatkan viewer, follower, dan subscriber.

Dengan cara tersebut mereka menjadi terkenal dengan jalan pintas. Tidak hanya itu, kegunaan lainnya adalah mendapatkan keuntungan materi dari banyaknya viewer, follower, dan subscriber.

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan beredarnya video tindakan asusila oleh seorang selebriti. Video tersebut diunggah oleh seseorang hingga video tersebut beredar luas di berbagai media sosial. Singkat cerita, polisi segera memburu pengunggah video asusila tersebut karena melanggar UU ITE.

Terlepas perkembangan saat ini siapa saja yang menjadi tersangka, ironis sekali jika alasan orang mengunggah video tersebut adalah untuk menaikkan jumlah follower di akun Twitternya. Demi ingin menambah follower dengan cepat, harus ditempuh dengan cara menyebarluaskan kejelekan dan aib seseorang.  

Masih ingatkah pula kita akan peristiwa video tentang pembagian sembako yang berisi sampah dan diberikan kepada para waria? Video ini akhirnya mendapatkan banyak kecaman dari masyarakat. 

Di saat banyak orang kesulitan akibat pandemi Covid-19, ada oknum-oknum yang memanfaatkan kondisi ini untuk membuat konten yang kurang bermoral.

Mengeksploitasi kelemahan dan kekurangan orang lain dan pastinya merugikan orang lain. Video ini akhirnya marak di dunia maya. Pelaku pembagi sembako ini akhirnya diburu polisi dan ditangkap untuk dimintai pertanggungjawaban atas ulahnya.

Awal bulan Oktober 2020, terjadi peristiwa yang menjadi perhatian di media sosial. Ada seorang mahasiswa mengunggah video yang telah dieditnya sehingga seolah-olah tampak masjid itu memutar musik dengan kencang. Padahal, sebenarnya musik itu tidak ada dan masjid tidak sedang memutar musik.

Akhirnya polisi mengamankan pelaku karena dianggap telah meresahkan masyarakat dan melanggar UU ITE. Terungkap bahwa motif pelaku adalah untuk menambah follower di akun media sosialnya.

Pelaku dengan gampangnya mengunggah sebuah video yang berisiko menimbulkan kegaduhan dan memancing kemarahan umat muslim demi untuk menambah follower.  Hal ini tidak pantas dilakukan karena dapat menjatuhkan nama baik tempat ibadah yang dianggap suci oleh umat Islam

Melihat dan mendengar berita tersebut jadi teringat pepatah kuno Arab “bul ala zamzam fatu’rof” yang artinya kencingi air Zamzam niscaya kau akan terkenal. Kencing semestinya dilakukan di tempat yang tertutup seperti di WC atau toilet. Kencing juga tidak semestinya dilakukan di air yang tergenang apalagi air tersebut menjadi sumber air minum.

Bagi umat Islam air Zamzam bukan sekadar air minum tetapi memiliki nilai historis, spiritual dan kesehatan. Menurut pepatah tersebut, mengencingi air Zamzam adalah perbuatan yang sangat tercela, tidak pantas, dan dapat mengundang perhatian orang banyak hingga membuat seseorang jadi terkenal.

Dengan bertambahnya viewer, follower dan subscriber, seorang youtuber atau pemilik akun media sosial mendapatkan keuntungan material dari banyaknya yang menonton video tersebut ditambah dari sponsor. 

Sangat disayangkan jika untuk mendapatkan keuntungan materi dengan cara menambah viewer, follower, dan subscriber melalui cara yang kurang elok dan tidak pantas untuk dilakukan.

Sangat naif rasanya, agar video yang dibuatnya bisa terkenal dan dilihat banyak orang dengan cara merendahkan atau melecehkan harkat martabat orang lain, mengeksploitasi kekurangan dan aib orang lain, bercanda berlebihan yang membuat geger masyarakat.

Banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk mencapai tujuan, banyak cara agar menjadi terkenal. Untuk menjadi terkenal dengan banyaknya subscribe, viewer dan follower, tidak harus dengan cara-cara yang tidak etis. Tidak harus dengan merugikan atau merendahkan martabat dan harga diri orang lain.

Tidak juga harus dengan melakukan perbuatan atau ucapan yang kontroversial, yang membuat resah masyarakat dan melanggar norma yang ada. Bila itu yang dilakukan sama artinya ingin terkenal dengan cara mengambil jalan pintas.  

Konten yang kita unggah di media sosial adalah cerminan diri kita. Maka untuk menjadi terkenal cukup dengan menunjukkan siapa jati diri kita. Kita dapat menunjukkan hasil karya-karya, kreativitas, dan ide cemerlang kita.

Banyak konten-konten video yang menunjukkan kreativitas dan kelebihan seseorang. Sebut saja Mas Alip Ba Ta (nama panggilan di media Youtube). Dia mampu menunjukkan kepiawaiannya dalam bermain gitar dengan gaya freestylenya. Kemampuannya diakui oleh seniman musik mancanegara.

Contoh lainnya adalah video lucu dan kreatif yang dibuat oleh akun Ucup Klaten. Video kreatifnya mendadak ramai diperbincangkan karena mengangkat keluguan seorang nenek tua bernama Mbah Minto. 

Walaupun videonya berlatar lingkungan pedesaan dan menampilkan keluguan orang desa di Klaten, Jawa Tengah, tetapi ada pesan moral di setiap videonya.

Media sosial ibarat dua sisi uang logam yang berseberangan. Bisa menjadi senjata dan bisa menjadi bumerang buat kita. Menjadi senjata bila kita dapat menampilkan hal-hal yang baik dan bermanfaat tetapi dapat menjadi bumerang jika berisi gurauan yang berlebihan. 

Dengan media sosial kita bisa dipuji setinggi langit juga bisa dihujat habis-habisan. Maka berhati-hatilah dalam menggunakan media sosial.