Pernahkah Anda mengenal kata MLM? Multi-Level Marketing merupakan salah satu bisnis yang populer pada zaman ini. Bisnis ini konsepnya seperti hierarki. 

Modal yang dibutuhkan cukuplah mudah dan terjangkau. Anda hanya mengeluarkan ratusan hingga dua juta rupiah dan Anda sudah bergabung dalam lingkaran MLM.

Tetapi, pekerjaan di bidang MLM ada satu keahlian. Pertama dan utama, Anda diminta untuk merekrut orang di sekitar Anda sebanyak lima orang. Setelah Anda mendapatkan lima orang, pangkat Anda akan naik menjadi seorang manajer. 

Salah satu MLM menyebutnya sebagai Star Manager (SM). Jika lima orang yang Anda rekrut tadi merekrut masing-masing lima orang, Anda akan naik menjadi Ruby Star Manager (RSM).

Setelah Anda menjadi PSM, jika semua anak buah Anda naik pangkat, Anda akan naik menjadi PSM (Pearl Star Manager). Kemudian sama berlanjut ke ESD (Emerald Star Director) dan masuk dalam DSD (Diamond Star Director). 

Posisi Anda terus naik apabila bawahan Anda terus bekerja merekrut dan menjual produk dengan baik.

Kemudian, jika lima orang yang Anda rekrut tadi berhasil mencetak masing-masing menjadi Star Manager, Anda akan naik pada pangkat yang terakhir, yaitu Crown Star Director (CSD). Jadi Anda juga berhak untuk berlibur ke luar negeri dan mendapat penghasilan hingga puluhan juta rupiah. 

Selain penghasilan dan pergi berlibur ke luar negeri, Anda juga mendapatkan cicilan rumah dan mobil impian. Pihak perusahaan akan mencicil rumah dan mobil yang Anda impikan. Anda juga dapat menaikkan status sosial. 

Selain itu, Anda juga dikenal seperti seorang raja yang memimpin suatu perusahaan. Anda hanya duduk diam dan menunggu kawan-kawan Anda bekerja dengan keras untuk menghidupi Anda.

Penghasilan, rumah, dan mobil impian menjadi sebuah senjata para perusahaan MLM. 

Setiap kali saya melihat postingan para bos CSD tersebut, mereka hanya memberikan motivasi-motivasi yang membuat pikiran kita menjadi terarah dan tertuju. Mereka seolah-olah menghipnotis dengan sejumlah impian-impian yang sebenarnya sangat sulit dicapai.

Hampir setiap minggu para CSD, DSD, ESD, RSM, PSM, dan SM mengeluarkan motivasi-motivasi agar mereka dapat merekrut dengan mudah dan mereka mendapatkan penghasilan. Kata-kata yang sering ia ucapkan membuat orang menjadi takjub dan ingin ikut dalam perusahaan MLM. 

Para pekerja CSD, ESD, dan SM sering menyasar pada siswa SMA dan masih belum mengenal apa itu bekerja. Setelah mereka tertarik dan modal yang dikeluarkan cukup dengan ratusan hingga jutaan rupiah, mereka ikut. 

Ternyata sistem yang mereka gunakan yakni sistem kapitalis. Mereka hanya memberikan motivasi tetapi tidak membantu para bawahannya untuk maju bersama. 

Mereka hanya memberikan beberapa pelajaran seperti bagaimana mencetak omset satu juta per hari atau bagaimana cara closing suatu produk dengan baik. Hal-hal seperti itulah yang mereka ajarkan.

Salah satu tantangan terbesar yang biasa mereka hadapi yakni penolakan. 

Baca Juga: Balada Agama MLM

Seperti diketahui bahwa barang-barang MLM tergolong cukup mahal. Salah satu perusahaan MLM menjual produk kesehatan dan kecantikan. Produk tersebut biasanya dijual dengan kisaran harga dua puluh ribu ttrupiah hingga satu juta rupiah.

Memang, mereka menjanjikan produknya menjadi produk herbal dengan bahan-bahan terbaik. Tetapi, dengan harga yang cukup mahal, membuat para konsumen menjadi tidak mampu untuk membeli produk tersebut. Alhasil, mereka harus menghadapi penolakan sebagai imbas produk yang mereka jual tergolong produk yang mahal.

Para direktur yang menjadi atasan (upline) mereka hanya mengarahkan dan memberi nasihat bagaimana mencari solusi jika menghadapi penolakan. Lagi-lagi, mereka hanya memberikan teori-teori yang sebenarnya sulit untuk dijalankan. 

Salah satu teori yang mereka ajukan kepada downline (bawahan) mereka yaitu tetap semangat hadapi penolakan tersebut niscaya Anda akan closing.

Para bawahan hanya melihat bos mereka jalan-jalan ke luar negeri sementara mereka harus bersusah payah mencari pelanggan, menjual produk, dan merekrut orang. Itulah jahatnya masuk dalam perusahaan MLM (Multi-Level Marketing). 

Menjadi pengusaha di bidang MLM merupakan langkah yang paling bodoh. Mengapa? Anda secara tidak sadar dipekerjaan seperti halnya Anda menjadi buruh lapangan. Bos Anda hanya memberi arahan dan Anda harus melakukan sendirian.

Melihat fenomena MLM, dapat dikaitkan dengan sistem Marxisme. Marxisme dapat diartikan sebagai lanjutan teori kelas Karl Marx. Mereka kaum Marxisme melihat ada kesenjangan antara kaum proletar dan kaum borjuis. Mereka saling berlawanan dan saling membutuhkan. Maka teori yang diajukan Karl Marx yaitu teori tanpa kelas.

Pertentangan antarkelas ini ada tiga hal yang penting dalam teori Karl Marx. Pertama, yaitu materialisme historis. 

Materialisme historis merupakan sejarah perjuangan kelas. Sejarah ditandai dengan terjadi penindasan yang dilakukan oleh kelas sosial yang berkuasa kepada kelas sosial yang lain yang mendorong gerakan-gerakan perjuangan kelas.

Pertentangan kelas berpuncak pada pertentangan kelas antara pemilik modal dan kaum proletar. Marx mengungkapkan bahwa telah terjadi penghisapan terhadap kaum pekerja. Kaum pekerja teralienasi (terasing) dari hasil kerjanya (proses produksi), dari dirinya sendiri, dari persaingan. 

Baca Juga: Bisnis Zaman Now

Marx membandingkan dengan kerja dalam konteks Yunani kuno yang pada saat itu pengungkapan diri dengan kerja pada masanya, yakni mencari uang (nilai tukar).

Maka jika dilihat dari kacamata Marx, yaitu mengenai alienasi, cukup jelas. Perusahaan MLM hanya menghisap pekerja di bawahnya untuk mencari pelanggan, menjual produk, dan merekrut orang. 

Mereka merasa terasing dari atasannya dan merasa tersaingi dengan kawan yang lain. Jika mereka tidak dapat menjalankan bisnis tersebut, mereka tidak akan mendapatkan keuntungan dan terancam rugi.