Pendidikan adalah jenjang pengetahuan terstruktur dalam kurikulum pembelajaran. Sebuah kebutuhan yang kini menjadi suatu kewajiban, pada kualitas perkembangan dan kerap dikaitkan dengan kepandaian logika seorang manusia. Salah satu yang turut memprakarsai proses perkembangan tersebut ialah Sains Modern.

Sains atau lebih dikenal dengan ilmu alam adalah suatu bidang pendidikan yang dikumpulkan dari proses-proses pemikiran ilmiah—mengenai gejala-gejala alam beserta hukum dan teori yang ditemukan, sehingga membentuk suatu pengetahuan.

Kata sains yang berarti pengetahuan dalam bahasa latin scientia, mengalami proses panjang pembaruan pengetahuan dengan berbagai pembuktian empiris dalam berbagai penerapan. Di antaranya dengan melakukan pengamatan gejala atau pembentukan alam, analisis data, merumuskan permasalahan, hingga menyimpulkan suatu hipotesis yang bersifat teoritis.

Namun, pada perkembangannya sains telah mengalami kelahiran terus-menerus dari Era Klasik di abad ke-8 seperti Thales, seorang filsuf yang memikirkan mengenai asal mula terjadinya alam semesta. Hingga  Ibn Al-Haytham seorang ilmuwan Islam di abad pertengahan yang melakukan penelitian mengenai konsep cahaya.

Sains yang merupakan pengetahuan berabad-abad lamanya, kini semakin mengalami kebaruan pemikiran serta modifikasi penerapan yang dikenal dengan istilah sains modern. Dengan semakin berkembangnya informasi teknologi dan penemuan-penemuan, maka sains modern semakin meluas dengan berbagai disiplin ilmu yang tercakup di dalamnya. Seperti ilmu sosial, digital komputer, dan matematika.

Sains modern kini menjadi sebuah metode pengetahuan fungsional yang semakin melekat pada masyarakat di berbagai bidang, terutama di dalam dunia pendidikan. Sistem komputasi yang turut membantu dalam memecahkan suatu analisis permasalahan.

Sebut saja, metode cloud computing (layanan data berbasis internet) seperti PDF dan Google Drive. Termasuk sebuah teknik yang banyak diperbincangkan karena kemampuan membaca minat para penggunanya, yakni metode algoritme.

Pada dunia pendidikan, sains modern memiliki peran yang cukup signifikan dengan teori-teori, pemikiran, serta penemuan yang berlangsung hingga sekarang. Namun, pendidikan adalah sebuah realisasi dari luas dan besarnya pengetahuan. Sebuah pengetahuan yang berkembang dari berdirinya ilmu di dalam tradisi keilmuan Islam.

Mengutip pernyataan dari Bapak Duma Rachmat—seorang konselor, penulis, dan kepala sekolah dari sebuah sekolah karakter yang mengemukakan bahwa, “Tradisi intelektualitas dalam Islam berfungsi untuk memperbaiki pemahaman manusia mengenai realitas. Para pelaku keilmuan adalah mereka yang melatih dirinya, pikirannya, dan menjernihkan hatinya agar mengalami pengetahuan itu di dalam dirinya. Mengetahui pengetahuan tanpa media konsep dan representasi. Pengetahuan yang akan hadir utuh langsung, menjadi ‘realisasi’ di dalam dirinya.”

Ilmu dalam istilah Arab dikenal dengan sebutan al-‘Ilm atau alima yang memiliki kumpulan pengetahuan sebagai idrak, yaitu mengetahui hakikat keberadaan realitas dengan keseluruhan akal, pancaindra, dan batin di dalam hati manusia. Keilmuan yang dikumpulkan dari proses pengenalan, pengindraan, dan pencerapan yang menjelma menjadi suatu pengetahuan.

Tradisi keilmuan yang menggabungkan antara pengetahuan tentang diri dan keberadaan akan kehadiran Tuhan. Sebuah epistemologi mengenai keyakinan akan perkembangan ilmu yang tak dapat terlepas dari pengetahuan akan diri, ketuhanan, dan realitas (keberadaan materi di dunia).

Bila sains modern meneliti dan menggali pemikiran mengenai keberadaan materi di muka bumi, maka tradisi keilmuan Islam mulai menyatukan pengetahuan secara keseluruhan. Para intelektual muslim dan filsuf seperti Al-Biruni yang mulai mempelajari karya-karya klasik filsuf Yunani, saat mendalami studi ilmu filsafat pada masa keemasan sains Islam di wilayah Asia Tengah.

Ia juga telah menyempurnakan penemuan teori trigonometri sederhana milik Ptolomeus, menggunakan ilmu logika matematika modern hasil pemikirannya. Begitu pun beberapa teori dan penemuan intelektualitas Barat, yang telah dikembangkan oleh banyak cendekiawan Timur lainnya.

Pengenalan akan diri menjadi hakikat penting dari berkembangnya pengetahuan dan pendidikan. Ilmu tentang ketuhanan yang turut memperdalam sudut pandang dan menggali dasar-dasar logika manusia. Ketika kita telah mengenali keberadaan Tuhan dalam segala aktivitas dan pembelajaran yang dilakukan, maka manusia akan mengalami langsung pengalaman realitas―pemahaman tentang konsep kehidupan di dalam dirinya.

Tradisi keilmuan yang tidak hanya lahir dari proses mencari dan berpikir di luar batas pengetahuan secara objektif, metodis, serta sistematis. Namun, memiliki khazanah batin yang bersifat universal dan mencakup keseluruhan pengetahuan. Proses mengetahui dan mempelajari hal di dalam diri, serta pengamatan dan penelitian tentang beragam pertanyaan yang timbul atas realitas amatan.

Terdapat tiga tahapan perkembangan intelektual berdasarkan teori dari seorang filsuf sekaligus Bapak Sosiologi Dunia, August Comte. Pertama adalah tahapan teologis, yakni ketika manusia mulai meyakini bahwa segala materi yang tercipta memiliki bentuk (eksistensi) dan jiwa yang berasal dari Tuhan.

Tahapan kedua adalah metafisis, yaitu mulai terbukanya pemahaman akan konsep entitas (wujud) material dan imaterial di alam semesta. Pemikiran mengenai eksistensi makhluk dan benda atas keberadaannya. Tahapan ketiga adalah tahapan positivis yang mulai memakai data ilmiah dan bukti empiris sebagai landasan pemikiran.

Dalam intelektualitas Islam, konsep teologis lebih dikenal dengan sebutan ilmu kalam. Disiplin ilmu mengenai firman dan prinsip ketuhanan atas  pemikiran rasional filosofi Islam. Sebuah keyakinan mendasar, bahwa seluruh pengetahuan dan keberadaan alam semesta tidaklah terlepas dari hadirnya Tuhan sebagai satu-satunya sumber keilmuan kekal di dalam diri manusia.

Pendidikan sains modern dan tradisi keilmuan Islam adalah runtunan perkembangan cara berpikir, yang telah dibawa oleh ilmuwan-ilmuwan Timur ataupun para orientalis dari Barat. Mereka bukanlah hanya sekadar kalam―pemikiran yang dituliskan atas pertanyaan pada realitas alam. Ia adalah pengetahuan besar dan rahasia di dalam diri manusia. Sebuah tradisi intelektualitas keilmuan dalam jagat pendidikan.