8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) memberi selaksa kisah perjuangan perempuan dalam meraih keadilan. Dengan kerinduan yang cukup dalam, mereka haus akan keadilan yang dulu harus dibayar dengan keringat bahkan darah. 

Setiap malamnya harus dihantui akan keraguan, “apakah hari esok masih memberi hidup?” Setiap siangnya terus disergap pertanyaan, “apakah aku masih menjadi objek seksual?” Hampir ketidakadilan inheren dengan dirinya, sehingga ia takut akan kehidupan karena ia merasa asing dengan dirinya sendiri.

Perempuan dan cinta itu tumbuh dengan perasaan yang sama, yaitu keadilan. Seharusnya, baik kalangan akademisi, birokrasi, parlemen, sistem peradilan, merenungkan kredo ini. Perjuangan perempuan itu sinopsis dari konstruksi ketidakadilan. Karena diskriminasi masa lalu maupun masa kini tetap membekas di sudut hatinya. 

Jika coba saya rumuskan di dalam abstraksi pikirannya, maka terdapat diktum stigma “aku lahir berkedudukan di bawah laki-laki”. Dalam diktum itulah ia meresa bukan penyandang hak politik; ia submisif dalam seks; ia bukan pemikir rasional; dan pada akhirnya ia juga merasa aku bukanlah diriku.

Sejarah tradisi Sati (membakar diri) di India, tradisi setrika payudara di Afrika, pembunuhan bayi perempuan di Pakistan, tradisi wanita diarak dan dipukuli sebelum menikah di Brazil. Kasus a quo tentu menyakiti dalam bentangan peradaban. 

Mungkin kita mengacu kepada perjuangan Elizabeth Cady Stanton (1815-1902) dalam memperjuangkan konvensi hak-hak perempuan di tahun 1848 di Seneca Falls dan mendukung hak suara kaum perempuan di Amerika Serikat, di mana seratus tahun kemudian PBB secara resmi menyampaikan deklarasi tentang hak asasi manusia, termasuk hak perempuan dan laki-laki.

Namun, di sisi lain, ketidakadilan mencapai tingkat imperatif sehingga itu pula yang menjadi kedok psikologi kekuasaan laki-laki menjadikan ia sebagai objek mangsa dan bukan objek cinta!

Bahwa kamera infotainment adalah mata laki-laki. Ada lagi sogokan seks itu hak pembimbing akademik. Ada juga tawaran belajar menjadi tawanan seks. 

Peradaban telah membuat kelam separuh umat manusia tersakiti hanya karena ia bukan laki-laki! Teks sejarah bukti perjuangan perempuan, tapi tetap saja dinafikan dengan catatan pelecehan yang tetap marak hari-hari ini.

Tubuh perempuan hampir dilekatkan dengan berbagai ketidakadilan dalam bidang politik, budaya, sosial, seksual, dan lain-lain. Aristoteles pun yakin bahwa perempuan itu budak, Immanuel Kant pun mengalami ambivalen dalam argumen bahwa perempuan pun tak bisa berpikir rasional.

Lebih lanjut Bentham bahwa kebahagiaan diperoleh jika memuaskan mayoritas padahal di banyak negara menjadikan teori ini sebagai basis kebijakan publik untuk dijadikan kebahagiaan produk nasional dan itu dituliskan di atas secercak pikiran laki-laki sebagai mayoritas pemangku kekuasaan.

Tak hanya utilitarianisme yang digunakan sebagai basis kebijakan publik di berbagai negara tapi juga libertarianisme. Jadi ia mencomot konsep liberalisme untuk ditempelkan pada kebijakan publik sebagai insinuasi bahwa maksudnya untuk memperoleh hak setiap individu untuk menghasilkan kebahagiaan dirinya sendiri. 

Jadi setiap orang memiliki preferensi sendiri tentang kebahagiaan yang tak mungkin diakumulasikan dan dihitung dengan agregat.

Khotbah moral sering diucapkan berjalan seiring dengan perbuatan immoral. Seolah-olah ucapan baik hanya untuk melanggengkan nafsu berpikir feodalistik, patriarkis, dan doktriner. 

Doa laki-laki yang pikirannya dipenuhi dengan maksud picik “Tuhan terima kasih aku tidak dilahirkan sebagai budak, dan tak dilahirkan sebagai perempuan”. Tepat di titik ini arus nadir hingga zenit memperlihatkan siapa yang telah menciptakan ketidakadilan itu.

Di Indonesia sendiri yang baru saja terjadi kasus ayah memperkosa anak kandungnya yang lebih parahnya lagi anak laki-lakinya turut memperkosa juga. Tak terdapat byte-byte moral di ujung garis pikirannya, sehingga pikiran itu oleng akhirnya kebobolan oleh perangai nafsu. 

Tentu kisah ini akan dicatat dan diingat oleh masyarakat kita bahwa terdapat pikiran manusia yang setali tiga uang dengan insting binatang. 

Apakah ini yang mau kita tunjukkan kepada dunia luar? Sehingga mereka bisa membaca dalam psikogram kita terdapat involusi suatu bangsa? Yang demikian harus kita pangkas bahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Reputasi demokrasi adalah kita. Sekelumit dan seuntai sinopsis demokrasi harus dikonstruksikan kembali, yaitu aku dan kamu, laki-laki dan perempuan yang selanjutnya disebut kita. 

Dengan meruncingkan intuisi dan mengaktifkan akal budi, maka kita sedang memindahkan mimpi dalam dunia faktual. Demokrasi tak akan tumbuh dalam budaya patriarki; demokrasi tak akan tumbuh dalam ontologi absolutis aku ada karena aku laki-laki; demokrasi tak akan tumbuh tanpa cinta! 

Jadi laki-laki dan perempuan harus menyatukan akal budi agar ia tidak saling meniadakan. Jangan jadikan pikiran menjadi amorf; jangan jadikan mental omnipoten; jangan pula megalomania karena itu semua bentuk defisit pikiran.

Perempuan itu penolong. Laki-laki akan pincang tanpa perempuan. Ia tak dapat berdiri gagah di depan panggung politik, di depan panggung dunia, di depan kontestasi pers, dan berbagai latar konfrontasi karena akulturasi. Hampir di semua lini ada kekuatan perempuan yang menopang agar laki-laki berdiri tegak! 

Perempuan itu mengilo, maka ia mampu mengisi rasa sepi laki-laki. Tuhan tak serta-merta menciptakan perempuan hanya untuk tunduk kepada laki-laki, tetapi ia bahkan mampu menasihati tatkala laki-laki mulai keluar dari jalur.

Cinta itu memberi tanpa mengharap kembali. Teras pemikiran ini harus ada tatkala pikiran dalam keadaan mendung. 

Di dalam mendung terbendung selaksa maksud agung, yaitu menghargai perempuan sebagai objek cinta. Cinta yang baik adalah bagaikan matahari yang bersinar untuk semua orang namun ia tak mengharapkan kembali sinarnya dan ia akan tiba lagi menyinari di pagi hari sesuai dengan hukum Ilahi. 

Dari benih cinta yang demikianlah maka laki-laki dan perempuan menciptakan konvergensi; ia tak lagi sendiri-sendiri tetapi saling mengisi. Dengan begitulah perempuan menjadi dirinya. Dan pada akhirnya lukisan keadilan akan terselesaikan dan pelukisnya adalah kita.