Malam di Kafe Am. Aku duduk tidak semeja dengan mereka. Ada sebuah meja yang memisahkan aku dan mereka.

Setelah kudengar obrolan mereka, aku berkesimpulan bahwa Iyung ingin bikin perhitungan dengan Jup. Kedua kawannya, Pian dan Angga, menyetujui.

“Tapi biar aku sendiri yang datang ke kampungnya,” kata Iyung.

“Jangan bersikeras begitu Yung. Nanti kalau kau dikeroyok oleh kawan-kawannya bagaimana,” kata Pian.

“Aku tahu caranya,” kata Iyung.

“Kalau kami melihat saja kau memanggilnya bagaimana. Kami melihatnya dari jauh di tempat gelap. Kami di atas onda, mesinnya kami matikan. Biar tenang kami melepas kau,” kata Angga.

“Tidak,” kata Iyung sembari melemparkan puntung rokoknya sehingga memercikkan bara di lantai. “Aku datang sendiri saja.”

Kulihat Iyung lalu menyelipkan pisau bersarung yang terletak di meja ke pinggangnya. Wajahnya menyangar.

Segera saja ia berdiri, keluar kafe, memberi kode tentang siapa yang membayar minum mereka, dan keluar kafe. Lantas, menuju sepeda motornya yang parkir di pelataran.

Sepeda motor itu menyala, gas diobok-obok. Kemudian meninggalkan pelataran kafe menuju jalan beraspal.

***

Aku tahu masalahnya.

Pada pesta kawinan anak Rubiati. Orgen tunggal diadakan hingga tengah malam. Rubiati bermantukan orang Pulau Jawa. Anaknya, perempuan, yang kerja di Tangerang menikah dengan orang Surabaya. Seeokor sapi disemblih jadi rendang untuk mengisi acara kawinan itu. Tenda kawinannya besar. Baralek gadang (pesta besar).

Orgen tunggal dari jam sembilan pagi hingga tengah malam. Silih berganti orang ikut menyumbangkan suara. Artis orgen tunggal menghoyak panggung dengan joget bagai tiada lelah. Hidangan prasmanan silih-berganti orang memakannya.

Mulanya tak kusangka orgen tunggal berlangsung hingga malam. Selepas Magrib musik orgen tunggal mengalun lagi. Itu mengundang pemuda-pemuda datang. Tak terkecuali pemuda dari kampung sebelah.

Iyung kuketahui datang jam sepuluh malam. Bersama kawannya, Pian dan Angga. Sudah ramai pemuda-pemuda datang sewaktu mereka tiba. Mendengar lagu dan menyaksikan penyanyi orgen tunggal yang punya tubuh bahenol.

Sedangkan para tamu undangan boleh dibilang sudah tidak ada. Pelaminan tempat mempelai duduk sudah dari jam lima sore kosong. Seperti giliran acara untuk pemuda.  

Semakin naik malam, artis orgen tunggal semakin hot saja. Ia berputar-putar, menampakkan ketiaknya. Meloncat-loncat, menampakkan pahanya. Keringat nampak membasahi sekitar dagunya.

“Siapa lagi yang mau bergoyang,” katanya di sela-sela lagu.

Seorang laki-laki umur 30-an habis berjoget dengannya. Laki-laki itu sudah turun dari pentas tapi tubuhnya terhuyung-huyung. Ia mendatangi kawan-kawannya yang duduk-duduk asyik ngobrol di pojok tenda. Figur di meja ia tuangkan isinya ke dalam gelas. Sekejap ia tandaskan isinya. Ia berjalan lagi menuju pentas, dan naik.

“Mari...mari,” kata penyanyi orgen tunggal.

Kawan-kawan laki-laki itu, sepertinya pernah merantau ke Jawa, berteriak,”Sawerannya, Kang.” Si laki-laki umur 30-an itu seketika menaikkan sebelah tangannya ke atas dengan jari telunjuk mengarah ke atas. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Sementara kakinya melangkah ke arah si penyanyi. Mereka sesaat berdiri sejajar. Dan si penyanyi terus saja bergoyang.

“Triping,” kata kawan-kawan laki-laki itu. Seorang di antara mereka menuangkan pula figur ke dalam gelas.

“Ya...sebentar lagi lagu Rhoma Irama, Piano,” kata si penyanyi.

Pemuda-pemuda duduk berkelompok-kelompok. Lampu-lampu di dalam tenda, yang tidak terang betul, memperlihatkan muka mereka yang antusias dan terhibur. Ada dari mereka yang bergoyang sambil duduk. Asap rokok mengepul dari mulut-mulut yang mengobrol dan menonton.

Di jalan, sekali-kali kendaraan lewat, dan pengendaranya menengok ke arah pentas.

Baru saja lagu Piano dimainkan, seorang laki-laki pula, bersijingkrak dan melompat-lompat di atas pentas. Rambutnya gondrong, bersepatu kulit-kalap pirang yang sudah pudar.

“Nadanya pelan, Mas,” kata si penyanyi kepada pemain orgen tunggal.

Laki-laki berambut gondrong itu semakin bersijingkrak dan mengangguk-nganggukkan kepala. Kadang ia berjoget seperti kuda lumping. Ia tak dekat dengan si penyanyi tapi mereka berdiri sejajar. Lampu panggung yang bersinar remang sekali-kali memutarkan warna-warni cahaya.  

Iyung, Pian, dan Angga hanya duduk saja memperhatikan semua itu, tak hendak ikut bergoyang di atas pentas. Angga sekali-kali kulihat menganggukkan kepalanya.

Namun, dari sorot matanya, Iyung terlihat geram kepada laki-laki berambut gondrong. Lambat-laun laki-laki berambut gondrong itu mendekat ke penyanyi orgen tunggal. Dan memainkan sebuah lirik lagu secara bersama.

“Dia memegang tangan Susi, Yung,” kata Pian.

Iyung hanya diam. Angga membakar lagi sebatang rokok.

“Dia berpegangan, seperti berbimbingan, Yung,” kata Angga.

Iyung melihatnya. Benar-benar melihatnya. Seketika ia berdiri. Dengan rokok masih di tangan, ia berlari ke atas pentas. Seketika menghapiri si laki-laki berambut gondrong, yang bernama Jup.

Iyung menarik kerah baju Jup dan membawanya ke bawah pentas. Sontak membuat Jup hampir jatuh. Pemuda lain ada yang teralihkan perhatiannya kepada peristiwa itu, tapi sebagian lagi masih asyik-asyik saja menikmati lagu yang dibawakan penyanyi orgen tunggal.

Tak lama adu mulut antara Iyung dengan Jup. Karena para pemuda kawan Jup berlari ke tempat kejadian dan melerai pertengkaran itu.

Aku tak tahu pasti apa yang dikatakan Iyung waktu itu. Tapi terdengar juga Iyung berkata,”Jangan kelewatan.”

Nampak Iyung begitu emosi. Bibirnya gemetaran. Ia mau meninju, tapi dipegang tangannya bersama-sama oleh para pemuda kawan Jup.

***

Susi nama penyanyi orgen tunggal itu. Dulunya pacar Iyung. Sewaktu Iyung ikut dengan orgen tunggal sebagai tukang pasang pentas. Selentingan kabar yang kudengar, Iyung putus dengan Susi karena Susi meminta Iyung supaya berlatih biar bisa memainkan orgen tunggal, sedangkan Iyung tidak menginginkannya. Tujuan Susi, agar Iyung tak hanya jadi tukang pasang pentas terus-menerus.

Iyung pun coba mengalah. Ia berlatih tapi ia tak bisa-bisa juga. Iyung lalu geram kepada Susi.

“Apa salahnya pacarmu tukang pasang pentas,” kata Iyung suatu hari.

“Aku ingin ada peningkatan, Yung,” hanya itu yang diucapkan Susi.

"Seperti orang berumah tangga saja, pakai ada peningkatan," kata Iyung seperti mencemooh.

Iyung pun berhenti ikut dengan orgen tunggal karena bosan. Tak lama mereka pun putus.

Namun, setelahnya, setiap Susi mentas, Iyung selalu datang. Biar pun acara orgen tunggalnya tidak sampai malam, Iyung tetap menyempatkan diri melihat Susi manggung.

Dan malam itu, di acara kawinan anak Rubiati, Iyung sedang tidak minum. Ia benar-benar menyaksikan semuanya dalam keadaan sadar.

 ***

Pian dan Angga (kawan Iyung tadi) masih di kafe. Aku sudah tidak lagi di kafe waktu itu. Aku mendapatkan ceritanya dari Am, pemilik kafe, yang kemudian kutambahkan di sana-sini hingga menjadi cerpen.

"Bagaimana kelanjutan cerita Iyung malam itu, Am," kataku.

"Bukannya kau di sini malam itu, Af," kata Am.

"Tidak. Aku pulang tak lama setelah Iyung pergi."

Am sedang duduk di kursi kasir. Ia tentu tak tahu, jika ceritanya akan kujadikan bahan cerpen, demi melengkapi ceritaku yang belum tuntas.

Maka berceritalah Am--tak kucatat atau rekam, hanya mengingatnya saja.

Udara malam yang masuk begitu saja karena dinding kafe yang minimalis terasa semilir. Lampu kafe yang tak punya ragam, hanya bohlam putih seperti di rumah, menampakkan wajah Pian dan Angga yang bete--entah karena apa.

Tiba-tiba, datang sebuah sepeda motor masuk pelataran kafe. Bunyi mesinnya berandalan sekali. Sepeda motor itu milik Iyung. Dan Iyung sendiri yang turun dari atas sepeda motor.

Iyung segera melangkah ke meja kawannya. Pian dan Angga hanya bisa melongo.

“Apa yang terjadi, Yung?” kata Angga.

“Sedang ramai mereka duduk di kedai,” kata Iyung setelah duduk, dan mukanya melihat kanan-kiri.

“Kan di kedai ramainya. Kau kan memanggilnya,” kata Pian.

“Itulah. Pas aku panggil dia sendiri, seorang kawannya mengikuti. Seorang kawannya ini, entah dari mana dia tahu aku membawa pisau, langsung mengambil pisauku yang terselip di pinggang. "‘Akan membunuh orang kau di sini,’ katanya," kata Iyung.

“Lalu apa kata kau Yung,” kata Pian.

“’Itu pisau untuk memotong tali, Da’, kataku” kata Iyung. “Lalu aku disuruh pulang. Mula-mula aku tidak mau, tapi ketika datang kawan-kawannya yang lain, mereka mendesakku supaya pulang, akhirnya aku mengalah."

"Mereka tahu tidak alasan kau memanggil Jup," kata Angga.

"Kukatakan ada urusan sedikit."

Tak beberapa lama mereka ngobrol sembari merokok, terdengar suara sepeda motor berhenti di pelataran. Si pengandara turun. Lantas mendatangi meja mereka. Iyung terkejut, matanya tampak awas. Itu Jup.

Jup lalu membawa Iyung ke pelataran kafe. Mereka ngobrol sambil berdiri. Sekonyong-konyong, sedang mereka ngobrol, datang orang-orang dengan sepeda motor. Suara sepeda motor seketika ramai dan membahana. Terhitung ada sekitar lima sepeda motor dengan masing-masing sepeda motor berisi dua orang.

Jup lalu meninju muka Iyung dan Iyung mundur beberapa langkah ke belakang. Jup terus mendekati Iyung. Dan Iyung terus mundur, dan tiba-tiba terpeleset. Pian dan Angga berlari ke pelataran, mendekati Iyung, menarik tangan Iyung, mendirikannya kembali.

Mereka yang di atas sepeda motor turun satu persatu. Bunyi sandal dan sorak sorai bercampur-baur.

“Ini orang yang mau membunuhku pakai pisau tadi. Berani benar, masuk kampung orang...,” belum selesai Jup berbicara, mereka yang bergerombol yang baru turun dari atas sepeda motor itu seketika mengerumuni Iyung. Mendorongnya, meninjunya, menendangnya, hingga Iyung tersungkur. Pian dan Angga tak mampu melerainya.