Kemunculan beberapa muslim garis keras mengesankan Islam sebagai agama yang meresahkan. Tapi imej itu tidak dapat digeneralisasikan, karena ada juga muslim yang berupaya menampilkan Islam yang damai dan mendamaikan.

Mengatakan Islam adalah agama damai, dengan dalih kata “Islâm” serumpun dengan kata “salâm” yang berarti perdamaian, memang sah-sah saja, terlebih dengan adanya beberapa muslim toleran yang kerap menebarkan kedamaian. Namun eksistensi sebagian muslim yang sering membuat rusuh dapat meredupkan idealitas Islam sebagai agama perdamaian.

Islam, dengan begitu, kadang tampak meresahkan, kadang terlihat mendamaikan. Ketika dianut oleh orang-orang yang meresahkan, Islam terekspresikan secara meresahkan. Saat dipeluk oleh pihak-pihak yang mendamaikan, Islam termanifestasikan secara mendamaikan.

Dalam istilah lain, Islam laksana pisau. Kala dipegang oleh koki, pisau bisa menghasilkan makanan lezat. Saat digenggam oleh pembunuh, pisau dapat melayangkan nyawa. Demikian pula Islam: baik buruk Islam bergantung pada penganutnya.

Tapi, bila Islam “dipisahkan” dari pemeluknya, yaitu muslim, maka Islam sejatinya baik. Nabi Muhammad saw. memperkenalkan Islam untuk memperbaiki prilaku individu dan sosial, melawan kezaliman, membela pihak lemah dan menata kehidupan bersama.

Meski begitu, pengikut Nabi bukanlah Nabi. Islam yang dianut seseorang tidak semurni Islam yang diajarkan Nabi. Latar belakang personal dan sosial seseorang mempengaruhi ekspresi keislamannya. Di titik itulah terlihat ada muslim yang menampikan Islam yang ramah, ada muslim yang menampikan Islam yang marah.

Keburukan ekspresi keislaman sebagian muslim, dengan begitu, tidak bisa secara langsung dialamatkan kesalahannya kepada Islam. Beberapa unsur agama Islam mungkin menjadi stimulus keburukan mereka. Tapi, kerap kali bukan unsur agama Islam itu yang buruk, melainkan penafsirkan muslim atasnyalah yang sering menjadikan muslim dan Islam itu buruk.

Contohnya di ayat perang yang berbunyi “faqtulul musyrikîn haitsu wajadtumûhum (bunuhlah orang-orang musyrik di mana pun mereka berada)” (QS. At-Taubah: 5) Tafsir literal atas ayat itu bisa mendorong muslim literalis membunuh orang yang dianggap menyekutukan Tuhan di mana saja.

Hadits perang juga dapat menimbulkan reaksi serupa jika dipahami secara harfiah. Rasulullah saw. diriwayatkan bersabda “Umirtu an uqâtilan nâsa hatta yasyhadû an lâ ilâha illallâh wa anna muhammadar rasûlullâh wa yuqîmush shalâta wa yu’thûz zakât (aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai dia bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat)” (HR. Bukhari dan Muslim)    

JIka seorang muslim memahami hadits tersebut berdasarkan apa yang tertera, maka dia bisa membunuh tidak hanya orang ateis dan penafi kenabian Muhammad, tapi juga orang Islam yang tidak shalat dan tidak zakat. Kalau muslim berpemahaman letterlijk melakukan hal itu, konflik sosial akan menyeruak.

Muslim garis keras potensial melakukan kekerasan sedemikian rupa berdasarkan pemahaman harfiah atas hadits atau ayat semacam itu. Pihak non muslim tentu membenci perilaku muslim tersebut, dan mungkin membenci Islam juga, karena muslim tersebut merujuk pada ajaran Islam. Yang jadi persoalan: apakah Islam memang mengajarkan apa yang dilakukan muslim garis keras itu, atau teks Islam yang bernuansa intoleran perlu ditafsirkan ulang?

Islam, seperti disinggung di atas, pada dasarnya ajaran yang damai dan mendamaikan. Saat referensi utama Islam menyajikan perintah konfliktual, tafsir kontekstual harus menggantikan pembacaan literal.

Perlu diketahui bahwa ayat dan hadits perang tersebut muncul saat Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya telah diusir dari tanah kelahiran mereka dan berseteru dengan para pengusir mereka. Faktor distingtif mana teman dan mana lawan “kala itu” adalah pengesaan Tuhan, pengakuan kenabian Muhammad, pelaksanaan shalat dan pembayaran zakat.

Waktu Nabi masih ada, rekan seperjuangan adalah orang yang meyakini dua hal pertama dan melakukan dua hal kedua, sementara musuh yang dilawan adalah orang yang tidak meyakini dan tidak melakukan hal-hal tersebut.

Zaman terus berjalan, umat Islam sudah menyebar ke mana-mana, sehingga indikator pembeda antara teman dan lawan pun berubah. Jangankan di masa kini, di masa awal Islam sepeninggalan Rasulullah saja peta aliansi pertemanan dan permusuhan orang-orang Islam pun sudah berganti.

Pada saat Ali ibn Abi Thalib memimpin umat Islam, para pengikut Ali pernah berperang melawan para pengikut Thalhah, Zubair, Aisyah, Muawiyah dan Abdullah ibn Abi Wahab Ar-Rasyidi. Padahal pemimpin mereka sama-sama sahabat Nabi. Mereka semua pun sama-sama bertauhid, menghormati Nabi, rajin shalat dan membayar zakat.

Catatan sejarah itu menunjukkan bahwa teman atau musuh di zaman dulu belum tentu menjadi teman atau musuh di masa berikutnya. Lebih lanjut, Muawiyah, misalnya, adalah orang musyrik yang menjadi musuh Nabi dan Ali pra penaklukan kota Makkah. Usai pembebasan kota Mekkah dan sebelum Ali menjadi khalifah, Muawiyah adalah sahabat Nabi dan Ali. Tapi, setelah Ali menjadi pemimpin umat Islam, Muawiyah kembali menjadi musuh bebuyutan Ali.

Perubahan posisi Muawiyah itu merupakan contoh perubahan konstelasi kawan dan lawan dari masa ke masa. Berdasarkan contoh itu, sunguh naif orang yang menganggap musuh atau teman Nabi/Ali sebagai musuh atau teman abadi.

Rasulullah pernah bermusuhan dengan kaum pagan, Yahudi dan Kristiani, tapi Rasulullah juga pernah berdamai dengan mereka. Ada temporalitas dalam permusuhan dan pertemanan Nabi dengan pihak lain, sehingga sangat keliru untuk menguniversalkan sesuatu yang kontekstual itu.

Supaya tidak terjadi salah paham, teks-teks agama Islam seharusnya tidak dibaca secara tekstual, melainkan secara kontektual dan esensial. Pembacaan kontekstual atas teks itu akan mempertemukan pembaca dengan latar belakang sosio-historis teks itu. Adapun pembacaan esensial atas teks itu akan menghadapkan pembaca dengan intisari teks itu sendiri berikut saripati Islam yang universal.

Bila teks-teks agama Islam, terutama yang terkait dengan hal-hal konfliktual, dibaca secara tekstual, maka bisa diprediksikan bahwa Islam dan muslim yang meresahkan yang akan mengemuka. Sebaliknya, sekiranya teks-teks agama Islam ditinjau secara kontektual dan esensial, maka suasana damai dan mendamaikan di dalam Islam dan muslim yang akan kentara. Selanjutnya terserah Anda, apakah Anda ingin Islam yang meresahkan atau justru Islam yang mendamaikan?