Seyyed Hossein Nasr (2002) dalam bukunya, The Heart of Islam menegaskan bahwa tidak ada otoritas imamat dalam Islam sebagaimana dalam agama Katolik. Karena itu, kesuksesan keberagamaan dalam Islam ditentukan atas dasar realisasi ajaran tauhid sebagai asas pokok kehidupan.

Lebih lanjut, Nasr mengungkapkan, “Successful religious life is the degree to which one is able to realize tawhid, which means not only oneness, but also the integration of multiplicity into Unity.”

Pemahaman keberagamaan harus senantiasa dibaharui (Ulil, Kompas, 18-2012,) karena dalam agama ada dua dimensi yaitu; fundamental dan partikular. Dalam bahasa Ushul fiqh dikenal istilah qhat’i dan dhani, juga dalam istilah sunnah ada istilah tasyr`i dan ghair tasy`i.

Dengan pemahaman keagamaan yang memperhatikan konteks dari pada teks tentu realisasi kehidupan keagamaan akan senapas dengan kehidupan yang ditopang dengan nilai kebaikan universal.

Tetapi sebaliknya jika pemahaman keagamaan tak memperhatikan konteks sejarah bagaimana lanskap ayat suci itu turun sudah barang tentu pengamalan agamanya akan terasa gersang dan jauh dari nilai kemanusiaan. Beragama tanpa pendekatan interdisipliner hanya akan melahirkan tekstualis yang kering kerontang terhadap permasalahan era global.

Misi profetis agama adalah untuk kemaslahatan umat manusia di jagat raya. Kecenderungan kini kaum tekstualis lebih pada fiqh oriented, memahami segala sesuatu hitam-putih tanpa melihat kontektualisasi. Lahir dan tumbuhnya fikih merupakan jawaban-jawaban yang bersifat pragmatis dan ada kecendrungan lokalitas.

Untuk itu diperlukan formula keberagamaan dengan  wawasan penedekatan interdisipliner, melihat Islam dari berbagai kacamata disiplin ilmu, tidak hanya fikih apalagi terbatas pada satu mazhab.

Ada keharusan menguasai disiplin lain yang harus dimengerti, semisal ilmu tafsir, ilmu hadis, semantik, dan tarikh tasyr'i. Sehingga pemahaman keberagamaan seseorang (tokoh agama)  tak mudah mengekor atau mengcopy paste fatwa ustadz Google yang yang belum pasti keabsahahannya.

Islam sesungguhnya mengandung dua pengertian hubungan vertikal dan horizontal. Dengan bahasa lain hubungan tauhid dan hubungan sosial. hubungan sosial ini Islam bisa dialog dengan budaya yang dipandang baik, sebagaimana orang tua kita bilang sembahyang untuk sholat, langgar dan surau untuk musholah, yang dicerna makna esensi walaupun menggunakan bahasa lokal, toh penggunaan bahasa itu tak bertentangan dengan nilai Tauhid.

Begitu juga nilai-nilai sosial lainnya yang bersifat lokalitas. Hingga para ulama klasik berkreasi dalam menafsirkan teks al-Qur`an tidak kaku dan tekstual. Hal ini menyangkut hubungan sosial kemasyarakatan.

Jika saja ayat sosial tidak melihat lokalitas tentu kewajiban zakat ternak  hanya yang disebutkan dalam al-Qur’an, yaitu hanya pada unta, kambing dan sapi, sementara di Nusantara tidak dikenal unta, yang ada hanya sapi, kambing dan kerbau. Kerbau kalau merujuk al-Qur’an tak pernah disebutkan. Di sinilah penafsiran melihat sosiokultur dan lokalitas.

Jika Islam dipandang semuanya berdasarkan teks tentu nilai Islam akan sangat gersang. karena apa yang digambarkan al-Quran menurut sebagian mufasir ada yang berupa alegoris, dengan tujuan agar manusia sekarang mengambil esensi dan pelajaran.

Sayyed Hossein Nasr, (47:1994) memaparkan, penerapan prinsip tergantung konteks kultural dan sosial yang beraneka dalam mana Islam telah tumbuh dan menjadi sangat beragam, sebagai contoh wanita melayu menyembunyikan kecantikanya sangat berbeda dari cara wanita Syria, wanita Pakistan atau Wanita Senegal. Dan bahkan di suatu negara tertentu apa yang disebut hijab belum pernah sama dikalangan nomad, penduduk kota dan desa.

Jika kita berkaca pada catatan sejarah perkembangan dunia Islam yang begitu mengagumkan ternyata di balik kemajuan peradaban Islam tempo dulu, itu karena kesediaannya menerima berbagai unsur nilai peradaban bangsa-bangsa besar pra Islam yaitu, menampilkan Islam inklusif tanpa harus tercerabut dari nilai-nilai asasi Islam (tauhid).

Dalam bahasa Komarudin Hidayat Islam kala itu melahirkan peradaban hibrida karena benar-benar menjadi kekuatan dan model peradaban yang tak tertandingi.

Pemahaman tektualis penyebabnya adalah tafsir egeptik (meminjam istilah KH Husein Muhamad, 2006), mengambil teks-teks parsial yang sebetulnya adalah respons dari sebuah kasus masa lalu di sana, yg ditarik ke masa kini disini, tanpa dilihat logikanya. Teks-teks yang di munculkan adalah teks partikular seperti konteks perang.

Salah satu ayat al-Qur`an menyatakan, orang Islam tidak diperkenankan menjadikan seorang kafir sebagai kawan atau pemimpin. Teks seperti ini adalah teks sejarah yg konstitusi, situasional dan kasuistik (bukan dalam keadaan normal). Maka perlu dilihat konteks sejarahnya alias sababun nujul-nya. Sebab jika tidak dilihat konteks sejarahnya, maka akan terjadi pertentangan interteks.