Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang mengedepankan cita-cita kehidupan yang harmonis, tentu kita sama sekali tidak setuju terhadap aksi teror, kekerasan, kekejaman, dan kebiadaban yang dilakukan oleh siapa pun, di mana pun, dan atas nama apa pun. 

Sebab, semua aksi-aksi tersebut hanya akan menyebabkan korban sia-sia dan hanya akan merusak tatanan peradaban yang sudah ada.

Kita bisa bayangkan di belahan dunia sana, bangunan-bangunan yang susah payah dibangun puluhan tahun, harus hancur seketika. Belum lagi korban yang meninggal dan korban yang luka. Aksi-aksi yang tak berprikemanusiaan seperti itu kita pastikan tidak terjadi di Indonesia, sehingga bintik-bintik yang mengantarkan kepada perpecahan dan merusak kebhinekaan harus kita singkirkan sejak dini.

Kita patut bersyukur, suasana bangsa kita masih dan semoga tetap kondusif, aman, dan damai seperti saat ini. Maka seyogianya tugas kita saat ini adalah giat dalam merawat, menjaga, serta melestarikan suasana itu, seraya memastikan diri kita tidak menginginkan Indonesia masuk ke dalam pusaran konflik atau perseteruan dengan sesama, baik sesama saudara seiman, sesama anak bangsa, maupun sesama umat manusia yang berbeda keyakinan/agama.

Tak bisa dipungkiri dewasa ini, masih ada pihak-pihak yang ingin mengusik keutuhan bangsa dan kerukunan hidup beragama. Tampaknya, ditengah keragaman suku, agama, dan budaya yang ada, masih saja ada yang belum menyadari akan arti keragaman dan kebhinekaan itu sendiri.

Terutama di platform-platform media sosial atau media online, kita masih kerap mendengar ungkapan-ungkapan bernada hasutan, menyalahkan, menganggap diri paling benar, dan menganggap pihak lain salah, bahkan tak segan melontarkan label kafir, munafik, dan sesat, yang tentu dalam pandangan Islam, kata-kata itu tidak saja bersifat konseptual, tetapi juga bermuatan negatif bahkan provokatif.

Sejarah sudah membuktikan, terjadinya perang saudara diakibatkan karena label-label tersebut. Istilah-istilah munafik atau kafir yang sering kali dijadikan klaim dalam wilayah hitam-putih sekaligus pembenaran untuk memerangi, bahkan membunuh mereka yang tidak seakidah. 

Sifat inilah yang tidak boleh kita terima dalam konteks Indonesia yang memiliki keragaman suku, ras, budaya, begitu pula ragam keyakinan/agama.

Di sisi lain, yang lebih membahayakan ialah, label-label tersebut tidak saja dilontarkan kepada yang tidak seakidah, tetapi juga kepada sesama umat Islam yang tidak seideologi. Inilah yang menjadi salah satu munculnya bintik-bintik kebencian, kekerasan, dan perseteruan antar saudara, sekaligus perusak kerukunan antarumat seagama dan antarumat beragama.

Karena itu, acap kali terdengar orang yang mengesankan Islam sebagai agama keras, agama perang, dan agama anti-perdamaiaan. Padahal, semua itu hanya ulah segelintir orang yang mengatasnamakan Islam, yang ingin mencoreng dan merusak wajah Islam yang ramah dan toleran, baik terhadap sesama agama maupun yang berlainan agama.

Ada banyak ayat dan hadis yang menyatakan hal demikian. Bahkan, nama Islam itu sendiri sejatinya berarti ‘damai’, ‘selamat’, dan ‘kepasrahan’. Kita bisa melihat dalam QS. Al-Baqarah/2: 208 yang menyebutkan, “Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan”.

Jika saja kita mengacu kepada pemaknaan Islam yang berarti ‘damai’ atau ‘selamat’, maka arti ayat tersebut kurang lebih berbunyi, “Masuklah kalian ke dalam kedamiaan secara keseluruhan” atau “Masuklah kalian ke dalam keselamatan secara keseluruhan”. 

Ini artinya bahwa takkala seseorang telah mendeklarasikan diri untuk memeluk Islam, maka dia harus selalu siap dengan segala konsekuensi keislamannya, yaitu menciptakan kedamaiaan dan keselamatan.

Damai dalam pengertian kewajiban bersama yang harus dijalankan oleh umat Islam dan selamat dalam pengertian orang lain sesama muslim bahkan non-muslim selamat dari segala bentuk kekerasan, penindasan, penghinaan, penganiayaan dan seterusnya. 

Sebagaimana ayat di atas dengan sangat jelas mengisyaratkan bahwa umat Islam harus totalitas menjaga kedamaiaan dan keselamatan antarsesama, yang bukan saja memberikan rasa damai kepada kelompok atau kepada orang yang seakidah, melainkan juga kepada sesama manusia lainnya, bahkan seluruh alam, atas dasar kasih sayang dan saling mencintai. Inilah yang menjadi ciri khas Islam sebagai agama “Rahmatan lil ‘Alamin”.

Dengan demikian, takkala sewaktu-waktu muncul konflik atau perselisihan di tengah masyarakat, maka umat Islam sudah seharusnya bersikap lebih arif dan bijaksana, mengambil jalan damai, dan menempuh cara-cara yang humanis, bukan jalan kekerasan dan keributan, apalagi mengatasnamakan agama, sebab, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru.

Maka sudah seharusnya umat Islam menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa. Sudah saatnya pula umat Islam menyadari bahwa kesatuan dan kedamaianlah yang menjadikan bangsa kita kuat, bukan perselisihan, bukan pula saling tuduh menuduh dan saling menyalahkan yang tiada akhir.

Kita bersama-sama mendoakan, mudah-mudahhan Islam senantiasa menjadi oasis di gurun pasir, bukan sebagai alasan pecahnya konflik seperti di negara-negara gurun pasir. Oleh karena itu, mari mempertebal diri kita dengan keimanan, serta membentengi diri kita dengan ketakwaan, sebab, tantangan zaman semakin berat, disamping kita harus terus membenahinya.