Saat ini Real Madrid sangat potensial mengusung sepakbola tiki-taka: tika. Apa itu tiki-taka? Pasti semua sudah mengenalnya. Ia adalah filosofi permainan yang indah dengan ciri khas operan-operan pendek dan penguasaan bola yang dominan.

Tiki-taka merupakan taktik yang sangat bertumpu pada skill individu, kreativitas serangan dan ketajaman visi dari pemain gelandang. Xavi Hernandes dan Andreas Iniesta disebut-sebut sebagai tokoh kunci yang berjasa besar mengembangkan filosofi tiki-taka.

Xavi merupakan sang maestro yang mengemas sepakbola modern menjadi permainan yang mudah dan sederhana. Ketika legenda Barcelona ini memasuki lapangan hijau, dia seolah-olah datang bukan untuk menghadapi pertandingan, tapi lebih ingin menikmati permainan.

Dengan kecerdasannya, dia mudah sekali mengendalikan ritme permainan. Dia juga tidak kelihatan rumit mengatur sirkulasi bola. Saya mengamini testimoni yang disampaikan pemain Athletic Bilbao, Joseba Etxeberria. Menurutnya, Xavi adalah sosok yang bisa menggerakkan semua pemain yang ada di lapangan, termasuk pemain lawan, sesuai keinginannya.

Tugas Xavi menjadi seorang playmaker begitu mudah dijalankan berkat kolaborasinya yang sangat sempurna dengan Iniesta. Konsentrasi kubu lawan tidak hanya terfokus untuk menghentikan alur bola yang dikendalikan Xavi. Mereka juga harus mengawasi pergerakan Iniesta. Pecahnya konsentrasi ini membuat Bercelona semakin mudah mengacak-acak pertahanan kubu lawan.

Iniesta yang diplot sebagai gelandang penetratif sangat piawai membuka celah. Walaupun dia kerap membantu Xavi menjaga kohesivitas tim, tugas pokoknya adalah menggedor barikade pertahanan yang rapat.

Penetrasinya ke dalam kotak pinalti tidak dilakukan dengan kecepatan dan kekuatan fisik. Pemain bertubuh mungil ini lebih banyak menari-nari dengan kedua kakinya dalam menciptakan peluang dan menyodorkan umpan matang bagi rekan-rekannya di lini depan.

Jika dulu sewaktu menukangi Barcelona Pep Guardiola punya Xavi dan Iniesta, saat ini Zinedine Zidane memiliki Luka Modric dan Isco di Los Blancos. Level permainan kedua pesebakbola ini tidak kalah dibanding Xavi dan Iniesta. Bermodal talenta individu yang luar biasa, Modric dan Isco berpotensi besar mengubah gaya permainan Madrid dengan sentuhan bola-bola pendek ala tiki-taka.

Setara level permainannya (hampir) setara pula postur tubuhnya. Untuk ukuran tinggi rata-rata pesebakbola Eropa, baik Xavi, Iniesta, Modric dan Isco tergolong pemain bertubuh tidak jangkung. Tinggi badan Modric persis sama dengan Iniesta (1,74 meter). Perawakan Isco lebih tinggi sedikit (1,76 meter), sedangkan Xavi memiliki postur tubuh paling mungil. Tinggi fisiknya hanya 1,7 meter.

Tapi sebagaimana Xavi dan Iniesta, Modric dan Isco yang bertubuh kecil lincah menggiring bola. Gocekan kakinya merupakan daya magis yang bisa menyihir pemain lawan. Sekalipun Modric dan Isco memiliki bawaan fisik yang pendek, tapi mobilitas dan daya jelajahnya sangat tinggi. Jika laju pergerakan kedua pemain ini tidak bisa dibendung, kita dapat merasakan corak permainan Madrid akan tampak lebih dinamis.

Sejak hengkang dari Tottenham Hotspur dengan banderol 33 juta pound pada musim panas 2012, Modric bisa cepat beradaptasi dengan irama permainan klub barunya, Madrid. Kapten timnas Kroasia ini mendapat kepercayaan penuh sebagai dirijen lapangan baik di era Jose Mourinho maupun di bawah asuhan Carlo Ancelotti.

Dalam skema permainan apapun, Modric tidak pernah tergeser posisinya. Baik bermain dengan sepakbola menyerang ala Ancelotti maupun menurunkan formasi parkir bus model Mourinho, Modric tetap menjadi sosok yang diperlukan kehadirannya di atas lapangan.

Xabi Alonso yang dulu berseragam Los Blancos dan pernah berduet sebagai double pivot bersama Modric mengakui kehebatan tandemnya itu. “Dia adalah kunci dari Real Madrid. Itu ditunjukkan ketika dirinya berada di lapangan dan Anda sangat merasakan perbedaannya ketika dia tak ada,” ujar Alonso seperti dilansir Marca, Rabu (28/9/2016).

Mewarisi kontribusi besar Modric yang sudah dipoles oleh dua entrenador pendahulunya, Zidane tentu tinggal melanjutkan saja. Tapi ternyata tidak. Dia memberikan sentuhan lain, yaitu meminta sang anak asuh menjadi dinamisator serangan Madrid. Di bawah arahan Zidane, Modric mencapai puncak level permainannya dengan menggondol tropi Liga Champion dua musim berturut-turut.

Sedangkan Isco gagal menjaga konsistensi permainan. Sempat tampil sangat menjanjikan di periode awal memperkuat Los Galacticos. Laga debutnya versus Real Betis dijadikan panggung heroik untuk unjuk kemampuan. Dia memberi assist sekaligus mencetak gol penentu kemenangan menjelang laga bubar. Dari enam laga perdananya di seluruh kompetisi, dia mencuri perhatian madridista dengan mengemas lima gol dan satu assist. 

Tapi di periode-periode berikutnya, wajahnya jarang menghiasi lapangan. Isco lebih sering diistirahatkan menyusul performanya yang terus meredup. Di samping itu, persaingan ketat antar pemain untuk memperebutkan posisi di lini tengah turut membuat namanya makin tersingkir.

Isco gagal mereproduksi kejayaan masa lalunya. Di Malaga, klub yang dulu membesarkan namanya, Isco menjadi talenda muda Spanyol yang dirindukan. Tapi semenjak berlabuh ke Santiago Bernebau, nasibnya berubah drastis. Dia menjadi sosok yang dilupakan.  

Perjalanan karir sepakbola Isco di Madrid memang lebih banyak diwarnai masa-masa suram. Di bawah naungan satu pelatih ke pelatih yang lain, mulai dari Don Carlo, Rafael Benitez hingga beralih ke Zizou, Isco hanya menjadi penghias bangku cadangan. Label sebagai pemain pengganti begitu melekat pada dirinya. Dia harus menerima kenyataan pahit menyandang status pemain cadangan kurang lebih sekitar tiga tahun.

Setelah penantian panjang, momen kebangkitan akhirnya tiba juga. Momen spesial dalam karirnya ini diraih di penghujung musim 2016-2017 sebagai berkah dari kondisi Gareth Bale yang dibekap cedera.

Zidane menunjuk Isco untuk menggantikan posisi Bale. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan. Penyandang gelar pemain muda terbaik Eropa 2012 ini membayar tuntas kepercayaan sang pelatih. 

Penampilannya terus berkembang. Selain bisa segera memulihkan kepercaayaan diri, Isco menemukan kembali irama permainan terbaiknya. Performa apik inilah yang membuat Zidane memberikan dia porsi bermain lebih banyak.

Sejak kompetisi musim 2017-2018 digelar hingga sekarang, pemain kelahiran 21 April 1992 ini tidak lagi sering menepi di pinggir lapangan. Dia berhasil menyegel satu tempat di posisi gelandang serang. Diturunkan sebagai starter, Isco tidak jarang mempertontonkan aksi-aksi individunya. Dia juga selalu menjadi bagian penting dari setiap serangan yang dilancarkan Madrid.

Tiki-taka ala Madrid

Setiap pelatih memiliki gaya dan ciri khas masing-masing dalam meracik kesebelasan. Pep adalah Pep dan Zidane adalah Zidane. Tapi jika Zidane ingin mengadopsi filosofi tika-taka, berikanlah mandat kepada Modric dan Isco untuk menjalankannya, sebagaimana dulu Pep mempercayakan kepada gelandang jenius, Xavi dan Iniesta.

Saat ini Modric berada pada level permainan yang sangat matang. Dengan segudang pengalaman yang dimiliki, dia begitu jeli membaca situasi di lapangan. Seiring dengan itu, performa Isco  makin impresif. Isco mengalami peningkatan luar biasa dalam mengasah potensinya sebagai kreator serangan. Tidak berlebihan kalau pelatih Tottenham Hotspurs, Mauricio Pochettino, menganggap kreativitas Isco jauh di luar batas normal.

Situasi ini tentu sangat menguntungkan Madrid. Zidane tinggal mennginstruksikan Modric dan Isco agar bisa membangun chemistry di atas lapangan. Dua gelandang kreatif ini harus lebih rajin memainkan sentuhan bola-bola pendek. Isco dan Modric dituntut berkolaborasi dengan sempurna menjaga ritme dan mengatur distribusi bola agar dominasi permainan dan alur serangan tidak berjalan secara sporadis.

Di samping itu, kolaborasi tanpa cacat ini sangat diperlukan karena akan menjadi energi yang bisa menstimulasi rekan-rekannya bermain cepat dari kaki ke kaki. Kolaborasi ini juga akan mendorong kesebelasan memperagakan permainan kolektif.

Selain Isco dan Modric, Los Blancos sebetulnya punya pasukan trio BBC (Bale, Benzema, Cristiano Ronaldo). BBC merupakan trisula maut yang terkenal agresif menebar ancaman di depan mulut gawang. Musim lalu ketiganya berhasil menorehkan 70 gol di seluruh kompetisi.

Tapi, apakah Bale, Benzema, dan Ronaldo bisa dijadikan tokoh kunci untuk memperagakan sepakbola tiki-taka? Saya berani memastikan tidak bisa. Alasannya, ketiga bomber Madrid ini bukanlah karakter pemain yang bisa mengatur tempo permainan. Karakter itu hanya ada pada diri Isco dan Modric.

Isco dan Modrid dibekali kemampuan komplit untuk menyandang status sebagai gelandang kreatif; jago mengolah si kulit bundar, tidak monoton mengkreasi serangan, punya visi cerdas dalam bermain.

Jika kemampuan ini dikelola secara maksimal, Madrid akan dengan mudah mendominasi dalam penguasaan bola. Penguasa Liga Champion ini tidak akan menemui kesulitan untuk mengokupasi zona sepertiga akhir dan memporak-porandakan barisan pertahanan yang solid.