Krisis yang melanda AS-Iran hari-hari ini mengkhawatirkan banyak pihak. Bahkan, seluruh dunia mengamati dengan penuh kehati-hatian dan ketakutan. Eskalasi ini membuat banyak orang khawatir dengan masa depan peradaban in this roaring 20s. Namun, penulis justru mengalami pengalihan perspektif yang berbeda. Selain masa depan, penulis menjadi teringat dengan masa lalu. 

Kapan masa lalu tersebut? Masa lalu itu dimulai pada 1925, tahun di mana era Dinasti Pahlavi mulai berkuasa di Iran. Dalam menggapai kekuasaan tersebut, Reza Shah Pahlavi melakukan kudeta militer terhadap Ahmad Shah, pemimpin terakhir dari Dinasti Qajar. Singkat cerita, kudeta tersebut berhasil dan Reza Shah diakui sebagai pemimpin baru Persia.

Sebagai pemimpin dan pencetus dinasti baru, Reza Shah memiliki rencana modernisasi yang ambisius. Beliau ingin menciptakan industri skala besar, membangun infrastruktur, membangun jalur kereta api Trans-Iran, serta memperbaiki pendidikan dan kesehatan penduduk. Selain itu, ia yakin bahwa pemerintahan yang tersentralisasi, dikombinasikan dengan personel yang terdidik, mampu mewujudkan rencana tersebut (Ghasemi dalam iranchamber.com, 2020).

Ternyata, rencana tersebut mulai terwujud dan menunjukkan hasil. Muncul kelas menengah profesional dan pekerja industrial baru. Kualitas pendidikan juga meningkat pesat. Sehingga, Iran mulai berubah menjadi negara industri urban. Akan tetapi, seluruh output tersebut dihasilkan oleh pemerintahan yang diktatorial. Gaya inilah yang menimbulkan discontent di antara kelas terpelajar dan religius.

Lantas, Reza Shah meninggal pada1944. Setelahnya, ia digantikan oleh anaknya, Mohammad Reza Pahlavi. Meski awalnya dianggap sebagai simpatisan Nazi, Shah Reza memosisikan diri sebagai kawan Dunia Barat di Timur Tengah. Posisi ini pun dilegitimasi oleh reformasi sosial ayahnya yang berujung pada Westernisasi. Dan ia ingin membawanya lebih jauh.

Dalam upaya tersebut, Shah Reza mengintensifkan sentralisasi kekuasaan. Peran Shah dalam bidang politik-pemerintahan makin meningkat. Bahkan, dapat dikatakan bahwa Shah menjadi kepala pemerintahan sebenarnya. 

Sebagai kepala pemerintahan, beliau sungguh otokratik. Partai Kiri Pro-Soviet seperti Tudeh dibubarkan. Militer Iran juga diperkuat agar mendukung kekuasaannya. Polisi rahasia SAVAK pun dibentuk pada 1957 untuk menekan pemberontakan (Ghasemi dalam iranchamber.com, 2020).

Selain menarik simpati kalangan polisi-militer, Shah Reza juga berusaha menarik simpati rakyat kecil dan kaum terdidik. Mengapa menarik simpati? Sebagai kawan setia Blok Barat, ia harus melawan bibit-bibit komunisme di negaranya. Rakyat kecil di pinggiran dan kaum terdidik dianggap memenuhi kriteria bibit tersebut. Sehingga, harus ada perubahan sosial-ekonomi besar untuk mencegah Red Revolution.

Revolusi Putih (White Revolution) 1963 menjadi wujud perubahan tersebut. Pemerintah mengadakan reformasi agraria, berbagai program kesejahteraan, hak pilih untuk wanita, dan pengentasan buta huruf. Dengan upaya ini, diharapkan muncul mobilitas sosial-ekonomi dan pembentukan sebuah kelas menengah baru. Sebuah kelas menengah terdidik yang simpatik terhadap Dinasti Pahlavi and what it stands for.

Akan tetapi, the revolution went wrong pada pertengahan 1970an. Krisis ekonomi karena state overspending menerpa Iran. Rakyat kecil yang kini menjadi pemilik tanah justru antipati terhadap kekuasaan Shah. Justru, mereka menjadi pengikut setia para ulama yang merasa dirugikan oleh revolusi tersebut. Begitu juga dengan kaum terdidik. Mereka menginginkan sebuah pemerintahan yang demokratis. Suasana opresif dalam ruang publik membuat mereka enek.

Sehingga, para kaum terpelajar, rakyat kecil, dan ulama bergabung menjadi sebuah kekuatan besar. Terlebih lagi, sebuah koalisi solid yang bersatu di bawah satu misi; menggulingkan kekuasaan otoriter Shah. Dipimpin oleh ulama karismatik Ayatollah Khomeini, mereka melancarkan berbagai aksi demonstrasi dan disrupsi di ruang publik. Setelah empat tahun berjuang, mereka berhasil menggulingkan kekuasaan Dinasti Pahlavi pada tahun 1979.

Setelah Shah digulingkan, Iran menjadi sebuah republik Islam teokratik dan anti-Barat. Kini, kebencian Iran terhadap semua yang berbau Barat begitu membara. Iran Hostage Crisis yang menjadikan 52 warga AS sebagai sandera terjadi pada 1979-1981. Selanjutnya, tujuh warga AS disandera oleh teroris pro-Iran di Lebanon pada tahun 1985.

Lantas, hal menarik yang menjadi titik balik hubungan AS-Iran adalah penyelesaian dari krisis tersebut. Umumnya, pemerintahan Barat menjadikan premis "No negotiation with terrorists" sebagai dasar penyelesaian krisis sandera. Lebih baik mati berkalang tanah daripada mengajak teroris berunding. Namun, kegagalan Operation Eagle Claw untuk menyelamatkan para sandera dalam Iran Hostage Crisis membuat AS memutar otak.

Akhirnya, AS menemukan sebuah cara yang menghancurkan semua konvensi. Mereka berbicara dengan rezim baru di Iran. Setelahnya, mereka pun sepakat untuk menukarkan sandera dengan senjata. Iran menerima senjata, sementara AS menerima warganya kembali serta $30 juta dari penjualan senjata. Dengan kata lain, AS main mata dengan Iran, musuh bebuyutannya (history.com, 2019).

Lantas, uang sebesar $30 juta ini dialokasikan pada kelompok Contras di Nikaragua. Mereka adalah kelompok anti-komunis yang ingin menggulingkan rezim Sandinista yang komunis. Inilah yang disebut sebagai Iran-Contra affair. Terungkapnya skema ini membuat marah rakyat Amerika Serikat. Mereka menganggap Presiden Reagan sudah bermain api di belakang rakyat.

Kalau rezim Reagan bermain api, maka rezim Obama berusaha meminimalisir ancaman Iran. Bersama dengan anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman, Beliau membuat Iran Nuclear Deal. Intinya, kesepakatan ini membatasi pengembangan nuklir dan mewajibkan Iran mengikuti prosedur inspeksi internasional. Sebagai gantinya, embargo ekonomi Amerika terhadap Iran diangkat (bbc.com, 2019).

Sayangnya, Iran melakukan penundaan pemenuhan komitmen kesepakatan tersebut pada Mei 2019. Hubungan AS-Iran pun terus memburuk. Sampai akhirnya Presiden Trump mengambil pendekatan konfrontasi terhadap Iran. Konfrontasi ini membawa hubungan AS-Iran menuju uncharted waters.

Masa depan menjadi semakin tidak pasti. Maka dari itu, mari bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang dapat muncul dari konflik ini. May God help us all.