Hasutan waktu tak mampu melawan pikiran dan jari-jariku yang masih ingin berimajinasi dengan kenangan masa lalu. Kemudian aku tuangkan dalam setiap alfabet yang menjadi karsa, hingga tulisanku hidup dan bernapas bagaikan manusia.

Hatiku masih mampu menerima sosok lain dalam kehidupanku, sedangkan pikiranku masih bermain dengan bayangan Karin yang sudah jelas tidak akan memilihku. Karena sampai saat ini kenangan tentangnya masih tersusun rapi tanpa ada yang berani mencurinya.

Menghilangkan Karin dari pikiranku, hanya merupakan usaha yang sia-sia. Bahkan aku berani membentak jika ada malaikat yang mencuri kenangan itu. Biarlah kenangan itu menghilang dengan sendirinya, seiring dengan melemahnya otakku.

Hati ini bukan miliknya, karena aku masih mampu menghempaskan Karin dari hatiku. Walaupun harus melawan rasa sakit yang berlipat karena melawan hasrat dari pikiranku.

Memiliki hati yang lemah dan gampang tergores luka, bukanlah satu hal yang mudah. Pernah ada wanita yang menjaga hati ini dengan baik dan juga ada yang menggores hingga terluka, tapi bukan Karin. Karin hanya berani bermain dalam ruang otakku, sehingga menjadi pertimbangan disetiap langkahku.

Ada wanita yang sedang berjuang menjaga hatiku, yang menghiraukan sosok Karin dalam pikiranku. Wanita yang tangguh menyembunyikan rasa sakit dan selalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa, ketika dia tahu aku sedang bermain dengan kenangan Karin. Aku belum ingin menulis tentangnya, tapi aku tahu dia selalu membaca tulisanku secara diam-diam.

Hatiku pernah merasakan luka yang perih berbarengan dengan rasa bahagia oleh satu wanita. Satu-satunya wanita yang menjaga hatiku secara berlebihan, sedangkan aku membiarkan hatinya meloncat ke berbagai arah. Mampu membuat hari-hariku menjadi cerah dan mampu menjadikan hari-hariku gelap.

Wanita yang memiliki ego besar dan hati yang keras seperti batu, tapi selalu aku nikmati setiap perbuatannya. Dia yang melukai hati dan dia pula yang mengobati. Aku tidak marah pada waktu, yang telah meninggalkanku bersamanya. Apalagi menyesal pernah menjadikan wanita itu sebagai bagian dari kisah hidupku. Karena aku tidak pernah menyesali orang yang dekat denganku, walaupun hanya membawa luka.

Adakah yang pernah rasa bagaimana tergantikan dalam hitungan detik? yang diutamakan tapi dikhianati secara diam-diam. Hati bukanlah bola basket yang bisa dimainkan semau kita, dan dilempar ke berbagai arah. Terkadang aku membalas semua perbuatannya, tapi malah menjadi bumerang bagiku hingga dimusuhi oleh semua temannya.

Temanku pernah dijadikan musuh baginya, sedangkan temannya sudah ku anggap temanku sendiri. Aku tidak pernah marah atau menuntut keadilan, ketika teman-temanku pun memusuhiku disebabkan oleh hasutannya. Kubiarkan mereka memercayai setiap kalimat darinya, tanpa harus ada penjelasan dariku sebagai perbandingan. Aku rela tak dipercaya oleh orang terdekat, bahkan rela berjalan dikegelapan demi memenuhi hasratnya.

Pertengkaran, perdebatan dan saling meninggalkan sudah terbiasa kunikmati. bahkan menikmati setiap luka yang dia berikan. Ego yang besar menjadikannya percaya diri bisa lebih hebat dariku, bahkan selalu berusaha membuatku tak disukai banyak orang. Akupun hanya bisa diam dan menerima setiap perlakuan itu, karena hatiku sudah terbiasa dan tak ingin menghilangkan kebiasaan itu. kebiasaan menikmati rasa sakit itu pun menjadi candu bagiku.

Dia membuatku jauh dari setiap orang terdekatku, kemudian dia tinggalkan sendiri di dalam kegelapan tanpa ada cahaya sedikitpun, hingga akhirnya Karin datang mengulurkan tangannya. Dialah Yuni, wanita yang memusuhi sosok Karin bahkan pernah memusuhi wanita tangguh yang sekarang  sedang berjuang menjaga hatiku.

Hatiku juga pernah hanya dijadikan sebagai tempat berteduh sementara oleh seorang wanita, seakan dia hanya butuh perhatian saja. Wanita yang pernah termakan hasutan Yuni, tapi dia terima segala hasutan itu tanpa marah dan tanpa mengakhiri hubungan. Wanita yang manja dan selalu menyembunyikan rasa sakit, yang selalu memberikan perhatian, tapi akhirnya meninggalkanku sendiri dan dia kembali dengan masa lalunya.

Begitu banyak irama yang dirasakan hati ini, terluka dan tersakiti yang sudah menjadi candu. Tergores hingga berdarah bukanlah hal yang harus disesali, karena semua itu adalah pilihanku agar terus melangkah kedepan.