Baru-baru ini keluar sebuah pernyataan kontroversial dari capres nomor urut 02, Prabowo Subianto: Karena itu kita tidak bisa kalah. Kita tidak boleh kalah. Kalau kita kalah, negara ini bisa punah (Erdianto dalam Kompas.com, 2018). Tak perlu waktu lama, ungkapan ini menuai reaksi dari berbagai pihak, terutama pendukung capres nomor urut 01.

Bukankah negara justru terancam bahaya jika Prabowo menang? balas Johnny G. Plate, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional capres nomor urut 01. Aksi sahut-sahutan ini menunjukkan adanya intrik politik baru di negeri kita. Intrik ini masih hangat-hangatnya, dan masih berlangsung hingga detik ini.

Masing-masing kita pasti memiliki pendapat masing-masing tentang intrik ini. Namun, bagi penulis, intrik seperti ini tidak seharusnya terjadi dalam perpolitikan Indonesia. Mengapa? Indonesia tidak dibatasi oleh Prabowo maupun Jokowi. Negara kita jauh lebih besar dari itu, Bung!

Kemenangan Prabowo maupun Jokowi bukanlah penentu utama kesuksesan atau kepunahan negara kita. Tidak ada jaminan inkrah bahwa negara ini akan sukses atau gagal jika Bapak Prabowo mengambil tampuk kepemimpinan. Begitu juga jika Bapak Jokowi memperoleh mandat untuk memimpin dua periode di tahun depan.

Lalu, apa penentu kesuksesan atau kepunahan suatu negara? Terdapat tiga faktor yang menentukan hal tersebut. Ketiganya saling melengkapi satu sama lain. Namun, ada satu faktor utama yang menjadi preseden dari kesuksesan (atau kegagalan) faktor yang lain. Untuk mempermudah pembaca, penulis akan menjelaskannya sesuai dengan skala prioritas.

Pertama, mentalitas sumber daya manusia negara tersebut. Sebuah negara yang maju memiliki penduduk yang bermental optimis dan pekerja keras. Optimis berarti setiap warga negara memiliki outlook yang positif terhadap prospek negaranya ke depan. Sementara, pekerja keras berarti setiap warga negara mau mencurahkan segenap talenta dan kemampuan yang ia miliki untuk memajukan negaranya.

Mentalitas ini adalah faktor yang utama dan pertama dalam menentukan kesuksesan atau kepunahan suatu negara. Britania Raya di era Ratu Victoria (Victorian Britain) adalah contoh nyata kesuksesan suatu negara karena mentalitas penduduknya yang patriotik dan pekerja keras. Tanpa kemajuan yang terjadi pada era Victoria, Britania Raya tidak akan menjadi negara maju yang kita kenal sekarang.

Kedua, sistem politik pemerintahan yang berlaku di negara tersebut. Sebuah negara maju adalah negara yang disokong oleh sistem politik pemerintahan yang inklusif (Acemoglu dan Robinson, 2017:531). Apa itu? Sistem politik pemerintahan yang inklusif adalah sistem politik pemerintahan yang mendorong partisipasi warga negara dalam bidang politik dan pemerintahan, melalui sebuah kerangka demokrasi yang partisipatif.

Artinya, setiap warga negara dapat terlibat secara aktif dalam proses politik dan penyusunan kebijakan publik. Pemilihan umum (general election) adalah salah satu wadah untuk mewujudkan keterlibatan aktif warga negara dalam proses politik. Sementara, aplikasi Smart City seperti Qlue adalah salah satu wadah untuk mendorong partisipasi warga dalam pembuatan kebijakan publik.

Akhirnya, sistem politik pemerintahan di suatu negara akan menentukan sistem ekonomi yang berlaku di negara tersebut. Semakin inklusif sistem ekonomi suatu negara, maka semakin tinggi kemungkinan negara tersebut untuk berhasil. Mengapa? Sistem ekonomi yang inklusif adalah sebuah framework yang menjamin adanya kesempatan yang setara bagi setiap warga negara untuk berkompetisi dan berkolaborasi (equal opportunity to compete and collaborate).

Ketika equal opportunity bisa diwujudkan dalam perekonomian suatu negara, maka setiap warga negara akan mendapatkan insentif untuk bekerja keras memperbaiki kualitas hidupnya. Inilah yang sering disebut sebagai the right incentive to work. Alhasil, insentif ini mendorong setiap warga negara untuk terlibat dan memiliki bagian (owning a share) dari perekonomian negaranya.

Salah satu contoh terbaik dari sistem ekonomi yang inklusif (lagi-lagi) datang dari Britania Raya. Namun, contoh ini datang dari Britania Raya pada tahun 1979-1990, yaitu pada masa Thatcher Revolution. Revolusi ekonomi yang dieksekusi oleh Margaret Thatcher ini hanya memiliki satu tujuan; mewujudkan visi Property-Owning Democracy.

Sederhananya, visi ini adalah sebuah perekonomian di mana setiap orang menjadi pemilik modal. Every man and woman a capitalist, tandas beliau pada suatu kesempatan. Sehingga, pada era ini, terjadi privatisasi, deregulasi, serta penjualan rumah sewa milik pemerintah (council houses) kepada rakyat Britania Raya. Dampaknya, jutaan orang bisa menjadi pemilik properti dan modal (property and share owners) dalam perekonomian Britania Raya.

Massa kapitalis kecil inilah yang menjadi fundamen kesuksesan ekonomi Britania Raya untuk tiga dekade ke depan. Tanpa mereka, eksistensi Britania Raya di panggung dunia tidak akan sekuat sekarang.

Inilah tiga faktor yang memengaruhi kesuksesan atau kegagalan suatu negara. Memang, institusi politik pemerintahan dan ekonomi yang inklusif memiliki peran yang sangat penting. Namun, keduanya tidak akan mampu mendorong kesuksesan suatu negara, tanpa mental optimis dan pekerja keras dari warga negara tersebut.

Mentalitas dan institusi kitalah yang menentukan keberhasilan negara ini, bukan pemenang Pemilu 2019. Penulis yakin, kita semua sebagai manusia Indonesia memiliki kekuatan dan keyakinan yang melintasi batas-batas politik. Institusi-institusi kita juga berdasar pada Pancasila dan UUD 1945, yang posisinya berada di atas, jauh melampaui politik.

Our courage as Indonesians, our constitution, and open ideology transcends politics, and by the will of God, it will stay that way.

Maka dari itu, kepada siapapun yang memenangkan Pemilu 2019, kita sebagai manusia Indonesia harus berpesan kepadanya sebagaimana Presiden George H.W. Bush memberikan pesan kepada Presiden Bill Clinton, orang yang mengalahkannya pada Pemilu 1992.

Your success now is our country's success. I am rooting hard for you. Kesuksesan Bapak adalah kesuksesan kita bersama sebagai satu negara. Kita senantiasa mendukung Bapak sebagai pemimpin negara ini.

Daftar Pustaka