Demonstrasi pada 20 Maret 2019 yang terjadi di Sukoharjo, Jawa Tengah tidak lain adalah sequence atau rangkaian dari penolakan kehadiran dan operasional PT RUM (Kapas Rayon Utama Makmur) yang telah beroperasi sejak awal tahun 2017.

Permasalahan sudah dimulai sejak sebelum pendirian PT tersebut, yakni dari pembelian lahan pertanian masyarakat disertai dengan pemaksaan dan intimidasi dari perangkat desa setempat yang dihargai hanya dua puluh lima ribu rupiah per meter.

Selain itu, izin yang digunakan untuk disosialisasikan kepada masyarakat adalah untuk kepentingan pertanian tanam kapas, sehingga nantinya masyarakat daerah setempat bisa mendapatkan mata pencaharian bekerja sebagai buruh tani di lahan kapas tersebut.

Namun, apa yang terjadi? Semuanya nihil, bahkan mendatangkan kesialan bagi masyarakat desa setempat. Lantas apa yang sebenarnya terjadi di sana? Bagaimana keadaan warga di sana? Sebenarnya pabrik apa PT RUM itu? Milik siapa?

Saya tidak akan fokus pada pertanyaan tersebut di atas, sebab telah banyak disorot oleh media lain, contohnya Tirto.id dan media lokal Jawa Tengah. Jika Anda ingin mengintip dokumentasi lebih detilnya juga tersedia di laman Instagram S.A.M.A.R, kependekan dari Sukoharjo Melawan Racun.

Di sini saya akan melihat secara ekplisit gerakan sosial yang terbentuk di sana, yaitu sebuah kekuatan massa dari grassroot level yang bergerak secara dinamis dan aktif untuk memerangi elite-elite penguasa, baik pihak PT RUM, aparat desa, hingga aparat pemerintahan pendukung keamanan, termasuk di dalamnya Polisi dan TNI.

Masyarakat desa, khususnya P3L (Persatuan Perempuan Pejuang Lingkungan dan anak muda), dibantu oleh LBH Jawa Tengah, yaitu dari Semarang. Pihaknya terus mengusahakan beberapa pengajuan untuk keadilan rakyat. Pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab adalah “Apa sih yang diperjuangkan?"

Mereka memperjuangkan kehidupan yang tenang, damai, dan tanpa gangguan pencemaran lingkungan, baik pencemaran udara, air, dan tanah. Sekali lagi, mereka memperjuangkan hak layak hidup sebagai manusia.

Tidak dapat dimungkiri bahwa akibat dari pencemaran lingkungan ini membawa dampak yang sangat berat. Bau menusuk hidung yang dihasilkan dari limbah PT RUM membawa mereka kepada kesialan, penyakit, nafsu, dan kualitas hidup yang makin memburuk.

Apa pendapat aparat desa? Jawabannya adalah tidak ada konflik, warga kondusif dan aman, tenang-tenang saja di desa. Kenyataan berbanding terbaik.

Yang menjadi highlight di sini adalah para perempuan hebat yang hidup di sekitar PT RUM. Mereka tidak takut pada PT RUM, baik sendiri maupun kolektif. Mereka tak segan menegur pihak PT RUM dengan sindiran dan aksi-aksi yang bisa saya bilang cukup sopan.

Merujuk pada Spivak, can subaltern speak? Saya berani mengatakan mereka sebagai masyarakat yang tergolong subaltern. Seperti Spivak bilang bahwa subaltern adalah masyarakat lapisan bawah yang paling menderita, ia tersubordinasi, tidak memiliki akses dan paling tertindas dalam kekuasaan.

Ini persis karakteristik dari beberapa perempuan tangguh itu. Mereka adalah orang Jawa asli yang memaknai segalanya berdasar falsafah hidup orang Jawa. Mereka adalah petani.

“Kami ini ngalah, dan kami tidak akan begini jika tidak dimulai duluan!” kira-kira begitu jika Bahasa Jawa krama inggil-nya diterjemahkan.

“Kami hanya minta PT RUM ditutup. Kami menolak kehadiran PT RUM, dengan alasan apa pun! Karena bukan hanya baunya yang mengganggu, tapi demi kesehatan anak cucu kami, kami rela berjuang mendapatkan keadilan! Kami hanya ingin merasakan kelayakan hidup sebagai manusia!” lanjut terjemahan dari Bahasa Jawa krama inggil.

Saya rasa mereka cukup sopan dalam meminta, meminta keadilan sebagai seorang manusia. Meskipun perlu digarisbawahi di sini bahwa daerah tersebut memang telah dicanangkan sebagai daerah industri oleh pemerintah setempat.

Para perempuan pejuang lingkungan itu kemudian melanjutkan, “Kami menolak PT RUM atau perusahaan lainnya yang berbasis bahan kimia dan mengganggu kehidupan kami! Silakan bangun pabrik apa pun tanpa mengganggu hak hidup kami! Tolong hentikan pencemaran lingkungan yang berakibat penyakit fatal!”

Saya pun menyadari apa yang dirasakan mereka berat. Bagaimana tidak? Selama hampir setiap waktu mereka merasakan aroma tidak sedap yang tak kunjung hilang dan menusuk tenggorokan, hingga tenggorokan menjadi kering. Belum akibat lain-lain yang lebih parah dari itu, seperti ISPA, vertigo, dan gatal-gatal.

Keberanian dari perempuan-perempuan itu tidak berhenti pada satu waktu saja. Secara rutin, bahkan di tengah malam, mereka berani menyuarakan protesnya kepada PT RUM lewat kebun samping rumahnya, yang tak jauh terlihat pagar tinggi PT RUM.

Perlu diketahui bahwa jarak PT RUM dengan pemukiman warga tidak lebih dari seratus meter. Sehingga salah seorang maupun dua orang dari perempuan-perempuan hebat tersebut secara rutin tidak segan meneriaki PT RUM dengan tujuan untuk memberhentikan mesinnya agar baunya hilang.

Namun, yang bereaksi hanyalah satpam. Ia melihat ke arah ibu-ibu dan melakukan dialog kecil. Intinya adalah meminta agar yang di dalam pabrik keluarlah dan rasakan bau tidak sedap yang menyebar di daerah pemukiman. Apalah daya seorang satpam yang juga seorang bawahan? Tidak banyak berpengaruh.

Beberapa catatan lainnya terkait Persatuan Perempuan Pejuang Lingkungan adalah mereka tidak akan berhenti untuk memperjuangkan tanah mereka dari pencemaran lingkungan. Sekali lagi, masalah utama pada kasus ini bukanlah agraria, namun pencemaran lingkungan.

Sebab, jika konteks ini termasuk dalam konflik agraria, seharusnya yang dilirik sebagai sasaran adalah aparat desa yang mengintimidasi rakyat dalam masalah jual beli tanah, dong?