Bermalam minggu dengan pertanyaan yang resah “akankah ICMI terkubur seiring dengan terkuburnya allahuyarham B. J. Habibie?”. Pertanyaan itu saya lontarkan ketika bertemu secara daring dengan pengurus MASIKA ICMI.

Bagi kita yang terlahir di abad 20, B. J. Habibie merupakan “idola” yang menempati hati dan pikiran anak-anak. Saya tidak tahu pasti, apa benar ini ungkapan Habibie “hati Mekkah, otak Jerman”. Memadukan dua pusat kecemerlangan. Jerman sebagai lambang kecerdasan, sebagai Makkas sebagai pusat keimanan.

Frasa itu menjadi percakapan untuk memotivasi. Bahkan Jerman menjadi negara destinasi yang sampai saat ini tidak pernah saya jejaki dalam rangka belajar. Walau hasrat memendam asa itu selalu.

Dua puluh tahun setelah Habibie turun takhta dari kursi kepresidenan, hasrat menjejak langkah ke Jerman baru bisa terwujud. Menyesap langsung atmosfer di mana Habibie muda belajar saat itu.

Tumbuh semasa sekolah menengah dengan mengikuti berita Habibie. Kabinet boleh berganti, tetapi Habibie tetap saja sebagai menteri riset dan teknologi.

Nanti pada 1999, semasa berpindah kursi ke wakil presiden, akhirnya posisi itu diserahkan kepada orang lain. Termasuk ketika ICMI menerbitkan koran Republika. Di awal pendirian, saham PT Abdi Bangsa ditawarkan ke publik.

Semasa itu masih duduk di bangku sekolah menengah, saya pun pergi membeli saham yang dijual di bank. Ikut antrean dan menyisihkan uang jajan untuk turut melihat koran yang diterbitkan organisasi muslim.

Begitu Republika terbit, bersama kawan berbagi ongkos berlangganan. Walau teknologi saat itu, percetakan koran di ibu kota republik. Jadi, menerima koran pagi di sore hari.

Keresahan di malam itu terobati. Seperti menemukan harta karun. Semasa mengantar anak untuk membeli buku tulis sebagai persiapan kenaikan kelas, saya menemukan buku yang ditulis Yudi Latif.

Buku itu saya bawa ke mana-mana. Saya bahkan menyimpannya dekat tempat tidur untuk kemudahan saya mencarinya. Sejak menemukannya, saya membacanya bolak-balik, dan juga membaca berulang kali soal yang terkait dengan HMI, dan juga ICMI.

Walau disertasi, tetapi gaya penulisan yang ringan menjadi mudah untuk membacanya. Buku setebal 674 halaman justru menjadi sangat ringan untuk dibaca. Sekali lagi, saya seperti menemukan harta karun. Lama dinanti, akhirnya ketemu juga.

Saya ingat, diterbitkan Mizan, mencari sampai habis hitungan jari sehingga menyerah. Rupanya takdir itu berubah, buku yang saya tidak cari justru berada di depan mata.

Bahkan dengan percetakan lain, diterbitkan Kencana. Buku ini merupakan disertasi Yudi Latif, tentu dalam bahasa Inggris. Hadir dalam Bahasa Indonesia sebagai terjemahan disertasi yang terbit berjudul “Genealogi Inteligensia”.

Tantangan pemerintahan Habibie yang kemudian disebut sebagai pemerintahan transisional menjadikan krisis legitimasi. Padahal, secara konstitusional, Habibie dapat meneruskan mandat Soeharto sampai 2003.

Untuk mendapatkan legitimasi itu, digelarlah pemilu yang dipercepat pada tahun 2009. Kebebasan dan demokrasi berkelindan sehingga menyuburkan tumbuhnya partai politik sampai mencapai jumlah 48 partai.

Begitu laporan pertanggungjawaban Habibie ditolak, menyatakan tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden pada periode berikutnya. Ini tentu multitafsir, tetapi salah satu pemaknaan yang dapat dilakukan adalah di mana adanya kemauan untuk tidak memperpanjang jabatan yang sementara diemban, itu mendapatkan tempat tersendiri bagi Habibie.

Dengan berhentinya Habibie dari politik, tetap saja di penghujung abad 20, sarjana muslim yang merupakan bagian dari perkembangan keilmuan dan juga berdirinya perguruan tinggi keagamaan menjadi bagian dari dinamika politik.

Partai Kebangkitan Bangsa, walau bukan partai dengan corak keagamaan tetapi memiliki kedekatan dengan santri dan juga Nahdlatul Ulama. Bahkan para santri yang menjadi pilar partai sesungguhnya merupakan sarjana muslim.

Begitu pula dengan Partai Amanat Nasional, juga dimotori oleh para sarjana muslim. Hanya saja tidak menggunakan atribut keagamaan. Baik PAN maupun PKB masing-masing punya kedekatan emosional dengan kalangan muslim.

Sampai saat ini, PKB dan PAN tetap bertahan. Sementara partai seperti Partai Bulan Bintang, di mana Yusril sebagai bagian dari ICMI dan juga DDII yang berikhtiar menjadi penerus Masyumi, pada pemilu 2019 terakhir justru tidak lolos dari ambang batas minimal perolehan kursi.

Begitu pula setelah lengsernya Gus Dur sebagai presiden, wakil presiden berikutnya adalah Hamzah Haz, sebagai Ketua Umum PPP.

Walau Habibie tidak lagi berada dalam kekuasaan politik, tetapi santri kemudian menjadi bagian utama kabinet. Jikalau posisi utama selama ini dipegang oleh para penguasa yang tidak berlatar belakang keislaman, atau walau muslim tetapi abangan.

Sementara akhir abad dua puluh, sarjana muslim menempati kursi-kursi pemerintahan yang tersebar dari pusat sampai ke daerah. Belum lagi ketika memasuki abad dua satu dengan system pemerintahan yang dipilih langsung.

Buku Yudi Latif, terkait khusus dengan abad 20. Perkembangan dua puluh tahun terakhir di abad 21 merupakan bagian yang sama menariknya untuk dikaji. Berebut Wacana (Kersten, 2018) merupakan satu pilihan untuk menambah itu.