Siapa yang tak mengenal Jogja, kota yang dijuluki sebagai miniatur Indonesia. Berbagai pelajar yang mempunyai latar belakang beragam yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul jadi satu. 

Berkumpulnya para pelajar dari sudut Indonesia menggambarkan pantasnya Jogja di sebut sebagai wajah Indonesia. Berbeda sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat jogja, realitas yang terlihat menjadikan Jogja sebagai kota pelajar yang berbudaya.

Selain sebagai tujuan belajar oleh para pelajar, Jogja mempunyai daya tarik tersendiri di banding dengan kota lain yang juga mempunyai Perguruan Tinggi yang berkualitas. Kondisi geografis dan lingkungan menjadi salah satu alasan para pelajar memilih kota Jogja sebagai tujuan belajar. Keberagaman di Jogja terjadi secara kultural akibat dari peran berbagai kepentingan yang ada.

Identitas sebagai kota pelajar dan budaya, Jogja mempunyai implikasi yang begitu besar terhadap kehidupan dan peranan dalam menjaga culture masyarakat luas yang ada di Indonesia. Keberagaman yang menjadi corak tersendiri bagi masyarakat Indonesia harus ditata ulang dan dicari posisi yang pas untuk memantik kesadaran kita terhadap keberagaman. 

Karena, sebenarnya keberagaman sudah menjadi hal biasa dan sudah ada di realitas kehidupan masyarakat. Akan tetapi, kesadaran akan sesuatu yang ada masih bersifat absurd sehingga masih disadari hal yang biasa.

Selayaknya kita harus berbenah ulang dan rekleksi dari kota Jogja dalam berbhineka, disini berbagai latar belakang keilmuwan berjubel dimana-mana. Setiap sudut di temui berbagai sumber belajar yang tak hanya terkukung dengan suasana ketegangan dalam kelas bak sidang pendadaran. Keilmuwan disini ditemui di setiap sudut yang menciptakan Jogja mempunyai romansa intelektual dan budaya bagi setiap pengunjungnya.

Musim politik yang hari ini bising dengan wacana-wacana yang membuat isu  kontroversial masih saja terjadi, yang implikasinya membuat kita masuk dalam ranah perdebatan yang tak berkesudahan. Kita dibuat bingung oleh elite politik yang sekarang sedang membual dengan segala wacana yang dilemparkan di publik. Tidak sama sekali memberikan kita contoh kecerdasan sama sekali. 

Walaupun wacana yang digulir berbungkus “demokrasi” dan “politik” yang katanya elemen penting dalam negara kita. Seperti perang tagar antara #2019GantiPresiden dan #2019TetapJokowi yang sebenarnya tak memberikan kita sepeserpun sebuah kedewasaan dalam mengedapkan sebuah sikap menghargai perbedaan pilihan, yang ada hanya perang tagar di linimasa media sosial masing-masing.

Efeknya sudah jelas, begitu keributan ramai sekali diranah pendukung arus bawah, bagi yang fanatik terhadap pilihan mereka menilai kalangan yang berseberangan dilabeli dengan anti pancasila (Pendukung Prabowo) atau Pendukung PKI (Pendukung Jokowi). Perang tagar seperti ini tak mecerdaskan para netizen kita. 

Entah setelah pengumuman bakal calon yang diumumkan KPU akan ada apa lagi yang akan menghampiri publik kita tentang kedua kubu. Yang harus kita sadari bersama ialah kita seharusnya capek dengan kondisi perpolitikan yang dicontohkan oleh kalangan elite kepada kita, kalau kita sadar akan keburukan hal-hal seperti itu sudah seharusnya kita hindari sejak awal segala hal yang berbau politik kebencian dan adu domba.

Kita harus kembali kepada jati diri kita, sebagai anak bangsa yang bersaudara. Berbeda bukan sebuah ancaman yang menghilangkan persaudaraan, musim-musim kampanye yang akan menghampiri harus kita jadikan sebagai waktu untuk saling mengenal satu sama lain yang berbeda pandangan dengan kita. 

Jangan sampai politik kepentingan menghilangkan hakikat politik kebangsaan itu sendiri. Negara yang seharusnya dijadikan dasar berkontestasi ditinggalkan hanya untuk meraih kekuasaan demi kelancaraan segala nafsu individu dan kelompok.

Marilah sejenak kita melipir ke Jogja yang Berhati Nyaman. Disini kita sudah biasa dengan perbedaan, entah dalam pikiran, ide, gagasan, maupun tindakan. Bukan hanya ribut dalam perbedaan agama ataupun partai politik. Elite politik harus banyak belajar akan masyarakat Jogja, setiap sebungkus nasi kucing disini erat kaitanya dengan gemah ripah loh jinawi bangsa kita.

Dari nasi kucing kita belajar akan sebuah kenikmatan tidak harus dengan kemewahan dan kem-modern-an, sebungkus nasi kucing memberikan kita pelajaran akan sebuah kesederhanaan dalam memandang sebuah realitas hidup sehari-hari. Menu di angkringan sendiri mengajarkan kita bahwa berbeda-beda jenisnya tidak memberatkan harga setiap perbedaan itu sendiri.

Jadi, marilah kita sudahi mempermasalahkan perbedaan, yang harus dilakukan sekarang ialah menyatukan kembali perbedaan itu dengan kembali kepada ideologi Pancasila kita. Kita buat musim politik yang akan datang dengan kesejukan pikiran dan tindakan dalam menyikapi perbedaan yang ada. Seperti cerminan Jogja sebagai kota pelajar, Jogja kota Budaya, kita harus belajar dari Jogja sebagai Intelektual yang Mbhineka.