Mundurnya Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di Kongres Tahunan 2019 tentu mengejutkan banyak pihak. Dalam berbagai wawancara dengan berbagai media sehari sebelum pelaksanaan kongres, Edy Rahmayadi masih ngotot menjadi ketua umum PSSI.

Alasan utama yang disampaikan oleh Edy Rahmayadi adalah kegagalannya membersihan kompetisi sepak bola dari skandal pengaturan skor. Kasus kekerasan yang terus terjadi dalam sepak bola juga menjadi alasan lain yang disampaikannya. 

Meskipun Edy Rahmayadi menyatakan bahwa pengunduran dirinya tanpa tekanan pihak lain, namun kabar yang berkembang menyebutkan adanya usaha dari para voters yang datang untuk melengserkannya. Jika demikian, Edy Rahmayadi memang benar-benar dikhianati oleh para pemilik suara yang dulu mendukungnya.

Edy Rahmayadi menjadi Ketua Umum PSSI saat organisasi ini berada dalam kondisi yang berantakan. Dualisme kompetisi, konflik antar-pengurus dan yang paling menyita energi adalah konflik antara PSSI di bawah kepemimpinan La Nyala Mattaliti dengan pemerintah di tahun 2015 sampai dengan 2016. Pembekuan PSSI oleh Menpora Imam Nahrawi telah menyebabkan kompetisi berhenti.

Edy Rahmayadi awalnya adalah sosok yang dianggap menjadi konsensus antarpihak yang bertikai di PSSI. Latar belakangnya sebagai seorang jenderal awalnya juga diharapkan mampu membawa ketegasan untuk menyelesaikan konflik yang membelit PSSI, sekaligus menjadikan sepakbola Indonesia kembali berprestasi.

Di sepanjang sejarah PSSI, tercatat beberapa nama yang berlatar belakang militer yang mengemban amanah sebagai ketua umum. Pendiri PSSI, Soeratin memiliki latar belakang militer dengan pangkat tertinggi Letnan Kolonel. Soeratin terlibat dalam perjuangan melawan Belanda di awal revolusi. 

Maladi, Ketua Umum PSSI di tahun 1950-1959 dikenal bukan hanya sebagai kiper legendaris Persis Solo dan PSIM Yogyakarta, namun juga pernah bergabung Tentara Keamanan Rakyat. 

Selanjutnya ada nama figur berlatar belakang militer lainnya, seperti Maulwi Saelan, Ali Sadikin, Azwar Anas dan Agum Gumelar yang pernah menjabat ketua umum PSSI.

Sayangnya, di masa kepemimpinan Edy Rahmayadi persoalan yang membelit PSSI tidak segera terurai. Di tingkat akar rumput, pertikaian antarsuporter terus terjadi. 

Yang lebih ironis, konflik antarsuporter melibatkan aparat keamanan. Alih-alih aparat keamanan menjadi pihak yang seharusnya melerai pertikaian, yang terjadi justru mereka menjadi bagian dari pertikaian.

Meninggalnya Banu Rusman, seorang suporter Persita Tangerang saat terjadi kerusuhan pasca pertandingan Persita vs PSMS Medan (2017) menjadi gunung es kekerasan suporter sepakbola di Indonesia. 

Kematian Banu Rusman dikaitkan dengan keberadaan aparat keamanan yang diduga melakukan penganiayaan. Sayangnya tidak ada investigasi menyeluruh terhadap kasus kekerasan ini, sehingga tidak pernah terungkap fakta yang sebenarnya terjadi. Video yang viral di media sosial menunjukan adanya keterlibatan oknum yang dicirikan berlatar belakang militer.

Masuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian dalam sepakbola sebagai peserta kompetisi melalui klub PS TNI, yang kemudian berubah nama menjadi PS TIRA, dan Bhayangkara FC membawa konsekuensi suporter yang vis a vis berhadapan dengan suporter cum aparat keamanan. Kasus yang menonjol adalah bentrokan antara suporter Persegres Gresik dengan suporter PS TNI (2016).

Di tingkat elite, skandal pengaturan skor menjadi isu utama yang membelit PSSI. Elit PSSI, seperti Johar Lin Eng dan Dwi Irianto (Mbah Putih) ditangkap oleh satuan tugas kepolisian yang tengah menyelidiki kasus match fixing dalam sepakbola Indonesia.

Quo Vadis

Tata kelola sepakbola yang terlihat amburadul menjadi sasaran empuk pengkritik PSSI. Edy Rahmayadi yang berada di puncak hirarki federasi sepakbola pun menjadi sasaran yang paling empuk. Para pengkritiknya menyerang ketidakmampuan timnas Indonesia berprestasi. Tercatat hanya timnas sepakbola U-16 yang sukses meraih emas dalam ajang AFF U-16 2018.

Sayangnya gagasan dan tata kelola tentang pembinaan sepakbola Indonesia pun menjadi isu yang terpinggirkan dari wacana publik. Di masa Edy Rahmayadi, PSSI menorehkan sejarah dengan meluncurkan Filosofi Sepakbola Indonesia (Filanesia) sebagai filosofi yang menjadi pondasi dan karakter sepakbola Indonesia, meliputi pembinaan usia dini sampai dengan profesional, baik dari segi individu maupun tim.

Filanesia yang disusun di bawah komando Direktur Teknik PSSI, Danurwindo, menjadi acuan bagi pembinaan sepakbola Indonesia di masa depan. Tentu saja tidak ada efek yang instan dari pembinaan sepakbola. Semuanya butuh proses.

Joko Driyono yang menggantikan Edy Rahmayadi adalah orang lama di PSSI. Bahkan bisa disebut jika PSSI identik dengan Joko Driyono, begitu juga sebaliknya. Tantangan yang harus dihadapinya adalah mengembalikan kepercayaan publik terhadap PSSI. Publik ingin melihat kompetisi yang bersih, tata kelola yang profesional, terlepasnya ikatan politik dalam sepakbola dan prestasi timnas.

Datangnya orang baru di luar football family juga bukan jaminan sepakbola akan lebih baik. Mengurus sepakbola bukan pekerjaan mudah, apalagi di Indonesia yang kompetisi sepakbolanya memerlukan tata kelola dari orang yang berpengalaman. 

Sebagai ilustrasi, klub yang bermain di kompetisi sepakbola di Indonesia hampir sama perjalanan tandangnya dengan klub Eropa yang bermain di Liga Champions. Klub di Indonesia harus bertanding antarpulau, sehingga operator liga harus mampu menata jadwal yang tidak merugikan klub secara finansial maupun waktu.

Kita tentu ingat ketika ada orang baru dalam sepakbola yaitu Arifin Panigoro berusaha mengubah tata kelola sepakbola Indonesia melalui breakaway league bernama Liga Primer Indonesia (LPI) yang kemudian menjadi liga resmi bernama Indonesian Premier League (IPL) ketika PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin Husin. 

Awalnya ada optimisme, namun pengelola liga tidak mampu menata jadwal dengan baik, sehingga muncul kekecewaan dari klub pesertanya. Dengan demikian football family seharusnya bermakna positif, yaitu orang yang mempunyai pengalaman dalam sepakbola dan harus memiliki integritas.

Pekerjaan rumah lain yang harus diselesaikan oleh PSSI adalah mengelola pertandingan sepakbola yang bebas dari kekerasan. Kekerasan yang terutama melibatkan suporter sepakbola telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Tata kelola yang buruk dari panitia pelaksana pertandingan dan pihak-pihak terkait menyebabkan kekerasan terus terjadi. PSSI yang bersih, berintegritas dan profesional akan disegani dan dihormati. 

Selama tiga hal ini tidak terlaksana, tata kelola sepakbola yang buruk dan kekerasan yang menyertainya terus terjadi. Puncaknya, prestasi timnas sepakbola hanyalah seperti pepatah bagaikan pungguk merindukan bulan.