Indonesia patut berbangga dengan keanekaragaman perspektif, disamping itu Indonesia juga patut berbangga karena banyak tokoh pendiri bangsa yang pada umumnya terinspirasi dengan ideologi kiri. Soekarno, Sjahrir, Hatta, Tan Malaka dan banyak tokoh lainnya yang terinspirasi dengan pemikiran kiri. Kiri bukan berarti jalan menuju neraka, kiri berarti yang bergerak progresif meenggugat sistem kapitalisme. "RATAKAN," begitu semangat proletariat yang terus menggema sampai kini. 

Buku kiri bukanlah buku fiksi, buku kiri juga bukan hasil angan-angan belaka, buku kiri ditulis atas analisa dan pertimbangan yang serius. Jadi jangan samakan buku kiri dengan kitab suci, sebab buku kiri bukanlah fiksi. Dalam membaca kita melihat bahwa tidak ada satupun dalil yang mengharamkan membaca buku, justru membaca adalah suatu perintah. Bacalah.

Semakin buku itu dibredel maka semakin besar pengaruh dan manfaatnya bagi generasi bangsa kedepan. Jika buku dibakar maka yang membara adalah pengetahuan dari buku tersebut. Kita tak ingin bangsa ini loyo didoktrin paham teologi yang begitu radikal sebab yang kita butuhkan adalah semangat revolusi menuju merdeka 100 %. Untuk itu betapa pentingnya bagi kita untuk kembali ke jalan yang kiri bukan sekedar jalan yang benar. Merdeka atau nunduk-nunduk ? Maka jawabannya adalah merdeka.

Tidak lama lagi kita akan memasuki abad pencerahan yang dimana Ketika pendidikan agama telah dihapus, maka menjamurlah paham-paham marxis sebagai metode ampuh menuju kejayaan bersama. Kita menyadari bahwa hanya orang yang mempercayai takhayul yang masih mempelajari agama, bahkan Nietzsche yang menyuarakan Tuhan telah mengamini kesadaran manusia lebih utama daripada pemujaan tanpa substansi. "Andai Tuhan tidak ada," tulis Voltaire di tahun 1770, "ia harus diciptakan."

Menjadi rasional dan menampik "mistik adalah misi yang ditegaskan Tan Malaka. Dalam Madilog, ia memperlihatkan dengan agak pedantik pertautan antara materialisme dan ilmu pengetahuan, Tan Malaka menulis: "Disini dengan jelas dan terus-terusan saya Maia mengatakan, bahwa Madilog sama sekali tepat berlawanan dengan "ketimuran" yang digembar-gemborkan lebih dari mestinya. Lebih jelas pula saya mesti terangkan bahwa yang saya maksud dengan ketimuran itu, ialah segala-gala yang berhubungan dengan Mystika, kegaiban, dari manapun juga datangnya di timur ini, tiada pula saya maksudkan, bahwa sudah tak ada yang gaib di dunia, yakni sudah semua diketahui. 

Pengetahuan tiada akan bisa habis dan tiada boleh habis. Demikianlah juga pengetahuan baru menimbulkan persoalan baru, terus-menerus. Tetapi persoalan baru itu akan terus-menerus pula bisa diselesaikan. Barang siapa mengaku, bahwa ada batas pengetahuan atau batas persoalan, maka dia jatuh ke lembah mystika kelerangkap dogmatisme." Begitu menginspirasinya buku Madilog karya Tan Malaka, buku yang sebagai kitab suci bangsa Indonesia ini harus dipertahankan oleh sejarah terus menerus agar kita tak mudah berpaling dari setiap persoalan yang membeku.

Manusia boleh kekurangan ibadah dalam beragama, tetapi manusia tak boleh kekurangan pikiran untuk membaca buku yang memiliki paham ideologi kiri. Sesat secara iman tak menjadi masalah karena bagi Tan Malaka misi utama sebagai bangsa adalah melawan paham takhayul. Bangsa kita membutuhkan suntikan motivasi berupa keberanian untuk berpikir melampaui iman, prinsipnya adalah tanpa pemikiran yang matang dan kokoh, maka iman adalah omong kosong. Bukan iblis dan setan yang menjadi musuh manusia melainkan keyakinan beragama yang berlebih akan yang absurd merupakan musuh itu sendiri. 

Jangan ada paksaan dalam beragama melainkan paksalah anak didik kita untuk berpikir sebagaimana tokoh ideologi Rusia. Mungkin banyak diantara kita selama ini sepela tak tahu bahwa sarang intelektual itu ada pada tokoh pemikir Rusia. Ketiklah di google dan search para pemikir kiri Rusia, maka akan muncul nama-nama penggagas revolusi yang mengguncang rasa ingin tahu. Dalam beberapa bulan ini saya habiskan beberapa juta untuk memborong buku-buku kiri, setelah saya pertimbangkan memang besar manfaatnya, tidak ada rugi, perjuangan inspirasi membutuhkan modal, walau kantong sakit-sakitan, dan pacar marah-marah ngambek karena jarang diajak makan enak saya tetap bersyukur bisa membaca buku, ada kenikmatan puas plus-plus dalam mencapai orgasme intelektual tersebut.

Bangsa akan menjadi cengeng bila bacaan buku hanya terpatok kepada tulisan Boy Candra, memang kemanusiaan itu butuh ketenangan dan kenyamanan, namun untuk menjadi nyaman seseorang ada baiknya refreshing di tepi pantai, menghabiskan waktu membaca buku-buku terbitan Resist Book Yogyakarta. Pengetahuan akan semakin kaya dan mental akan kokoh mudah bangkit dari kesedihan. Puisi itu baik namun tulisan yang membuat galau ada baiknya diistirahatkan dan marilah kita gerakkan semangat literasi kiri. 

Penerbit Resist Book dan Media Pressindo berupa Penerbit Narasi merupakan ujung tombak lahirnya semangat perjuangan egaliter. Pramoedya Ananta Toer beserta tetralogi pulau buru adalah buku bacaan wajib bagi generasi millenial dan bukannya buku Boy Candra. Bila generasi kita kebanyakan disodorkan film FTV, tayangan dangdut penuh sensasi, Katakan Putus, serta aksi Uya Kuya yang banyak lawak-lawak gak jelas, maka hancurlah kita, sebab negara tanpa ideologi kiri bagaikan mayat penuh pencitraan.