…tatanan pola pikir yang seolah terbimbing oleh alam lingkungan yang begitu memikat…

Pesona Alam Lingkungan Memperkaya Kreativitas Pikiran

Sumatera Barat, alam lingkungan hidup penuh pesona.

Limpahan keanekaragaman hayati menjadi anugerah yang selalu terjaga oleh kebijakan lokal turun temurun, perilaku menghargai seisi bumi yang menuai kelestarian alam.

Hati menuai rindu akan biru langit, hamparan sawah menghijau kekuningan, danau nan teduh, ngarai nan sunyi, debur ombak pantai nan ramah, barisan pohon kelapa rimbun terbelah oleh jalan raya beraspal hitam tiada lubang, bagai potret lukisan pemandangan anak-anak sekolah dasar, hamparan sawah dan teduh biru lautan terbelah oleh jalan raya yang kanan kirinya nyiur kelapa melambai-lambai.

Keanekaragaman hayati yang selalu terjaga itu, tak hanya membuat alam begitu terpandang memesona, namun juga tatanan pola pikir yang seolah terbimbing oleh alam lingkungan yang begitu memikat.

Alam lingkungan yang turut memberi sumbangsih akan banyaknya anak-anak bangsa asal Sumatera Barat, yang menggurat tinta emas mewarnai perjalanan sejarah bangsa.

Sebut saja mulai Tuanku Imam Bonjol, Agus Salim, Mohammad Hatta, HR Rasuna Said, Mohammad Yamin, Abdoel Moeis, Usmar Ismail hingga Buya Hamka. Semuanya adalah tokoh-tokoh nasional yang tercatat telah memberikan teladan dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

Termasuk, anugerah alam juga telah menjadi pemerkaya kazanah olahan masakan khas Sumatera Barat.

Betapa rumah-rumah makan yang menyediakan aneka masakan khas Sumatera Barat, yang seringkali populer disebut Rumah Makan Padang ataupun Rumah Makan Kapau, telah menyebar merata mulai dari Sabang sampai Merauke, yang tak hanya bisa ditemui di kota-kota besar bahkan hingga pelosok-pelosok terpencil sekalipun.

Tak hanya terkenal se-Indonesia, masakan khas Sumatera Barat pun dikenal mendunia.



…anugerah alam yang kudu dihargai dengan cara membantu sesama…

Wawasan Alam Lingkungan Dalam Paket Serba 10 Ribuan

Adalah Rendang khas olahan Padang, dinobatkan menjadi salah satu masakan terlezat sedunia, bersanding dengan olahan masakan khas Nusantara lainnya yang kepopulerannya juga mendunia yakni Nasi Goreng, Sate, Soto dan Gado-gado.

Seolah tiada pernah berhenti berinovasi, keberadaan penyedia masakan khas Sumatera Barat terus mengembangkan cara, agar keberadaan rupa-rupa olahan masakannya tak hanya bakal memanjakan kehadiran para petualang cita rasa, namun juga terus memupuk kerinduan. Bagai terpikat akan keberadaan pesona alam lingkungan Sumatera Barat yang selalu dirindukan.  

Bahkan, mindset keberadaan Warung Tegal, Warteg, sebagai penyedia sajian masakan dengan harga terjangkau mulai terpinggirkan, sejak ada trend paket Nasi Padang yang berharga serba Rp. 10.000,- sejak sekira setahun lalu.

Sebuah inovasi dari pengusaha penyedia masakan olahan khas Minang, Sumatera Barat, yang jauh lebih memenuhi gizi juga selera karena lauknya lengkap protein hewani, dibanding paket Amanat Penderitaan Rakyat, Ampera, sejak puluhan tahun lalu, yang hanya berisikan Nasi dan sayur Bada, nangka muda berkuah santan pedas.

Bukan kaleng-kaleng, paket Nasi Padang Serba 10.000 yang biasanya tersedia di banyak rumah makan Padang, kebanyakan justru memiliki cita rasa olahan yang otentik. Karena bumbu-bumbu segar masak sendiri, bukan pesan di lapak pasar penyedia paket bumbu-bumbu dasar.

Sehingga paket Nasi Padang Serba 10.000 sering kali ditemui menghasilkan masakan yang cita rasanya sangat mendekati cita rasa olahan masakan dari asalnya tercipta, di Sumatera Barat sana. Hanya saja, kualitas santannya lebih tipis. Maklum pohon kelapa langka di Jawa.

Terbungkus ketat dan rapi yang memerlukan kompetensi membungkus nasi tersendiri, maka bungkusan Nasi Padang punya ciri bakal berdiri tegak menjulang apabila terbungkus lebih dari 10-an menit. Ibarat waktu yang menempa tekad tetap berdiri tegak meraih cita nan menjulang.

Bisa menjadi bahan permenungan betapa para pengolah masakan ala Padang penyedia paket Serba 10.000 sangat lekat dengan cara pandang bahwa kelestarian alam lingkungan sepermai Sumatera Barat, adalah anugerah alam yang kudu dihargai dengan cara membantu sesama, di manapun para perantau asal Sumatera Barat berada.

Cara pandang demikian pun lalu menginspirasi masakan paket serba Rp. 10.000,- yang dalam kenyataannya, setidaknya selama setahunan ini, tetap bertahan malah tambah banyak, bahkan bisa menular ke daerah-daerah lain, dari wilayah barat Jawa ke tengah lalu melipir hingga ke timur, kelak bakal tambah rame itu paket Nasi Padang Serba 10.000.

Sedikit banyak, paket nasi bungkus yang laku keras ini telah membawa hikmah, bahwasanya ketahanan dan kedaulatan pangan kudu diawali dengan kegiatan-kegiatan menghargai alam, berwawasan kelestarian lingkungan hidup.

Coba kalo harga kuliner yang berorientasi pada kebutuhan pokok, bukan demi gaya ini menular ke aneka paket masakan lain.

Paket Warung Tegal Serba 10.000,

Paket Warung Sunda Serba 10.000,

Paket Gudeg Krecek Ayam Serba 10.000,

Paket Soto Ambengan Serba 10.000,

Paket Sate Gule Serba 10.000,

Paket Pecel Bacem Jerohan Serba 10.000,

Paket Mie Ayam Bakso Serba 10.000

Paket Steik Serba 10.000,

dan lain-lain, pokoknya yang Serba 10.000.

Lalu, dua tahun lagi karena persaingan alami, harga paket Serba 10.000 pun bisa turun lagi dengan kuantitas maupun kualitas yang sama, menjadi Rp. 5.000,- per paket.

Nah, jika demikian, maka itu bukan lagi sekedar ketahanan pangan. Tapi juga isi dompet pun turut bertahan.

Isi dompet sih bisa bertahan, hanya saja bagi pria yang tak lagi membujang, berharap seisi dompet punya kedaulatan? Oho, lupakan.