Saat ini saya sedang bersekolah di salah-satu pondok pesantren modern di Madura, yang mewajibkan seluruh santrinya berdiam di asrama. Kami jauh dari orang tua, keluarga dan tempat kelahiran kami. Di pesantren kami hidup mandiri. Semua kebutuhan, kami kerjakan sendiri.

Kami berasal dari berbagai daerah di penjuru Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Ada yang berasal dari Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara, Madura ada juga yang berasal dari Malaysia. Kami hidup dengan banyak perbedaan mulai dari suku, bahasa, minat, kesukaan, dan budaya.

Pemahaman terhadap budaya yang didominasi keikhlasan dan penghormatan menjadikan Inkulturasi yang berjalan dengan damai dan sangat sistemaris. Di sinilah, membuktikan pemahaman terhadap inkuturasi perlu dibenarkan, sehingga keberagaman warna budaya yang ada harus berparadigma Inkulturasi.

Memahami Inkulturasi

Inkulturasi kebudayan merupakan suatu termonologi baru yang masih belum dimengerti dan dipahami oleh banyak orang. Di dalam ilmu sosial, proses inkulturasi juga disebut akulturasi.

Akulturasi terjadi jika unsur-unsur budaya tertentu dari suatu masyarakat berhadapan dengan unsur-unsur budaya dari masyarakat lain, sehingga lambat laun unsur budaya asing tersebut diserap dan diolah dalam kebudayaan penerima tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dan kebudayaan itu sendiri (Koentjaraningrat, 1990:248).

Inkuturasi sebenarnya bersifat mendamai dalam perbedaan budaya. Semisal bisa kita lihat dari pesantren, kami memiliki latar pekejaan orang tua yang berbeda-beda, ada orang tuanya yang menjabat sebagai Gubenur di NTT, ada yang menjabat Bupati di Lombok, namun ada juga orang tuanya berkerja sebagai petani, nelayan dan lain-lainnya.

Meskipun kami memiliki latar belakang pekerjaan orang tua berbeda-beda, kami masih memiliki rasa saling peduli satu sama, saling  membantu saat salah-satu di antara kami mengalami kesusahan. Kami menyadari kalau perbeda bukan tempat terjadinya perpecahan. Malah justru dengan perbedaan itu, kami selalu hidup saling bahu-membahu, dan tolong-menolong.

Di pesantren pemahaman inkulturasi menjadi pemahaman cinta yang dicerminkan dari sifat tolong-menolong dengan keadaan kondisi dan situasi yang ada. Hal ini bisa kita lihat dengan adanya  kesukaan atau kemampuan kami yang berbeda-beda, semisal Rizal suka sekali mengafal Al-Quran, dan Seif suka sekali berbahasa asing sedangkan Fauzi menyukai dunia sastra. Dunia ini indah dengan banyak perbedaan.

Di pesantrenlah tidak ada fanatisme primordial dan plural. Kami diajarkan dalam pemahaman yang baik terhadap multikultural dan inkulturasi. Sehingga, perbedaan yang biasanya dipahami sebagai pemicu terjadinya konflik, malah menjadi canda, tawa kebersamaan di tengah-tengah kami.

Pesantren dan Perdamaian

Beberapa bulan yang lalu kami melaksanakan Rihlah Tarbawiyah (KKN) di pelosok desa kota Pamekasan Madura. Ketika itulah kami diberi kesempatan untuk mempraktikkan ilmu yang kami dapatkan selama beberapa tahun berada di pon-pes.

Saat pelaksanaan KKN kami membuka kursus-kursus gratis untuk anak TK, SD dan terbuka luas bagi siapa yang berminat. Kursus-kursus gratis tersebut terdiri dari Berpidato, baca puisi, MC dalam tiga bahasa (Inggris, Arab dan Indonesia) dan seni bela diri. Dengan  perbedaan kemapuan yang kami miliki inilah kami bisa melakukan banyak hal pada masyarakat lain.

Pesantren buka hanya menjalin rasa persaudaraan bersama masyarakat, namun sesama pesantren terlihat ada persaudaraan yang sangat erat dan kental. Persaudaraan itu bersifat erat, hal ini bisa kita lihat rasa persaudaraan di mana beberapa minggu yang lalu kami melakukan studi banding atau silaturahmi ke pesantren-pesatren modern yang berada di daerah Jawa, seperti as-salam Solo, Gontor Ponorogo, Ibnu Qoyyim Jogjakarta dan pesantren-pesatren lainnya.

Persaudaraan yang sangat erat dan terjalin sedemikian apitnya. Kami menyadari sebagai anak bangsa adalah aset Negara yangg sangat berharga. Maka sudah tugas kami memelihara, menikmati dan menjaga perbedaan budaya yang berbeda-beda agar damai dan tenteram.

Di pesantren kami bisa merasakan kebersamaan dengan penuh rasa toleransi, saling percaya, saling menghormati, saling mengerti serta memahami dalam banyak perbedaan budaya. Kami selalu hidup rukun, dan damai tidak ada budaya “aku dan kamu” karena kami selalu hidup dalam kekompakan dan rasa toleransi yang tinggi. Kebersamaan yang kami rasakan sungguh sangat indah dan tidak akan kami biarkan hilang dan kami tukarkan dengan apa pun.

Hal ini tercermin dalam falsafah pondok kami “berdiri di atas dan untuk semua golongan”. Tidak ada kaya dan miskin, tidak ada bodoh dan pintar, tidak ada NU dan Muhammadiyah. Semua diakui dan sama rata, dan  saling menghargai dalam perbedaan.

Kami merasakan senang yang mendalam dan bangga dengan sistem pengajaran pesantren yang nonstop di mana sasaran pendidikannya kognitif (pikiran/hafalan) afektif (feeling dan emosi) dan psikomotorik (tindakan) yang mana telah digarap dalam sistem pesantren yang demikian baik (Qodir A. Azizy: 2000). Sebuah potret kebatinan yang menggugah hati dan mata, di pesantrenlah kami menghancurkan primodialisme menjadi semangat egalitarianisme.

Perdamaian dalam Perbedaan

Kini kami menyadari hidup di mana pun, kami pasti akan menemukan banyak perbedaan, di lingkungan keluarga semisal saya juga merasakan hidup di tengah-tengah perbedaan. Saya, ibu, adik dan kakak memiliki kesukaan makanan, film (hiburan di televisi) yang berbeda-beda, tapi di atas perbedaan itu kami selalu hidup rukun. Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda.

Saya juga hidup di tengah-tengah tetangga yang berbeda suku, ada yang bersuku Jawa, Madura, Bugis, Melayu bahkan ada yang berdarah Cina. Yang jelas memiliki kepercayaan yang berbeda. Jika hari besar umat Islam datang (Idul Fitri) saya mengirim makanan untuknya. Begitu juga sebaliknnya, jika hari raya Cina datang, ia juga memberi makan khas hari rayanya kepada kami.

Meskipun memiliki perbedaan (agama), kami tetap saling menghargai, menghormati sesama warga tanah air. Karena Indonesia yang beradab terdahulu, karena memiliki banyak kebudayaan yang berbeda. Di sini kebudayaan sebagai milik manusia merupakan sesuatu yang bersifat dinamis, dalam arti selalu berubah setiap waktu, menyesuaikan perubahan lingkungan yang terjadi.

Kebudayaan yang terdiri dari berbagai unsur atau pranata sosial telah membentuk suatu sistem sosial yang terintegrasi dan adaptif. Namun, meskipun stabilitis merupakan ciri kebudayaan, perubahan bukanlah suatu keniscayaan.

Sampai di sini, mungkin bangsa ini masih bertanya-tanya. Kalau di lingkungan keluarga, pesantren dan desa saja bisa menciptakan perdamaian dalam perbedaan, bagaimana dengan Indonesia yang terdiri milyaran keluarga, ribuan pesantren, dan jutaan desa? Bangsa ini masih belum terlambat untuk membangun negara ini, menjadi negara yang beradap dan terpandang di mata bangsa lain.

Maka, dalam menciptaka perdamaian, terlebih dahulu kita tanamkan kecintaan dan pemahaman yang baik terhadap perbedaan budaya yang ada di lingkungan-lingkungan kecil, seperti di lingkungan keluarga, kelompok, di sekolah, dan lain-lainnya. Bangsa ini perlu belajar hal itu semua.  Agar apa yang didambakan bangsa ini menjadi bangsa yang beradab bisa terwujudkan.

#LombaEsaiKemanusiaan