Malam mulai terasa sunyi, hanya terdengar suara angin yang bermain dengan ranting-ranting pohon di samping rumah. Sedangkan kita masih bersenda gurau via telepon genggam, bagaikan sepasang manusia yang sudah pernah bertemu dan saling mengenal.

Kau tertawa bahagia seakan fajar telah datang menjemput percakapan kita, sembari mencoba mengalihkan rasa sakit yang kau miliki. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum mendengar celotehanmu itu, tanpa henti dan sesekali hanya memberikan sedikit jeda untukku bicara.

Empat jam percakapan kita itu masih terasa tak cukup. Mulai dari pembahasan cerdas tentang Eksploitasi, Subordinasi, stereotipe, burden, dan poligami. Sehingga membahas hal-hal yang tak terlalu penting, tapi membuat kita berdua terhanyut dalam lirik dan irama kebahagiaan.

M ataupun L hanya sekedar sebutan untukmu, karena kedua huruf itu bisa berubah menjadi huruf A hingga Z jika kita bisa saling bertemu. 

Pertemuan adalah penantian yang kita tunggu, seperti menanti sebuah jawaban dari semesta tentang ikhtiar yang selalu kita sampaikan kepada-Nya. Aku sudah terbiasa menunggu dan menanti sesuatu yang tak pasti, sedangkan kau sudah terbiasa menunggu kepastian. 

Permasalahannya bukan kapan dan di mana kita akan bertemu, tapi apakah kau akan menerima pertemuan itu, atau mencampakkanku kemudian menghilang bersama serpihan debu yang ditiup angin.

Aku bukanlah sosok lelaki yang diimpikan banyak wanita, yang mampu merayumu dengan nyanyian ataupun puisi seperti para pujangga. Aku hanya lelaki yang tak terlalu pandai bicara di depan khalayak pemuda, dan sangat bodoh saat berbicara berdua didepan lawan jenis, bahkan mungkin tak ada satu kata pun yang akan keluar dari mulutku, jika kau tak memulai percakapan itu.

Kau adalah sosok wanita cantik, cerdas, dan dikagumi banyak lelaki. Mampu meluluhkan bahkan membunuh tatapan mata para lelaki disaat bertemu denganmu. Kau pandai beretorika, mengolah diksi-diksi menjadi kalimat yang bermakna, sehingga membuat pendengarnya menjadi terdiam dan terpana.

Aku tak harus mengarahkanmu, begitu juga sebaliknya, karena kita bisa saling mengarahkan, saling menopang dan saling mengulurkan tangan kapan pun kita mau.

"Dia sangat baik, karena dia sosok yang bisa mengayomi dan melindungi kak M. Kak M butuh sosok seperti dia, dan dia juga butuh sosok seperti kak M. Kak  kan humble, cepat akrab dengan orang lain, sedangkan dia cepat akrab tapi pemalu, dia juga butuh sosok perempuan yang tegas sama seperti kak M"

Aku kaget ketika menerima pesan darimu, yang merupakan pesan dari Risna sahabatku, satu-satunya orang yang kuceritakan tentangmu. Tiba-tiba aku tak mampu berpikir dan tak mampu membalas pesanmu. Aku sempat menulis beberapa kata, kemudian kuhapus kembali, karena otak ini tak mampu merangkai alasan-alasan untuk menghilangkan rasa malu ketika membaca pesan itu.

Kita memang tak pernah bertemu secara langsung, hanya berkomunikasi melalui chat, mendengar suara melalui telepon, dan saling menatap melalui aplikasi Video Call. Aku bersyukur atas kemajuan teknologi yang begitu cepat perkembangannya. Kita yang jauh, terpisah diantara bentangan samudra dan benua, tapi bisa membuat kita terasa dekat karena teknologi ini.

Kenyamanan dan semua yang kurasakan ini adalah nyata. Aku tak perlu berbohong padamu dan diriku sendiri, karena kebohongan tak pantas hadir diantara hubungan kita. 

Mungkin kini kau sudah tahu, kita berdua telah nyaman dengan hubungan ini. tapi untuk sementara, biarkan semua ini mengalir seperti air, tanpa harus kita paksakan untuk melawan arus itu sembari menyusun apa yang akan kita bangun. 

Mungkin akan memperkuat rasa ataupun menyadarkan kita, apakah ini hanya sekadar saling mengagumi yang sementara, ataukah rasa ini akan terus berkembang hingga kita dipertemukan.

Kita memiliki ideologi yang sama dari himpunan yang sama, yang menyatukan kita sejak awal dan membuat kita bisa lebih leluasa untuk membangun komunikasi awal. Kita berdua pernah tidak memiliki keinginan menjalin hubungan dengan sesama himpunan, tapi bukan berarti kita tak ingin menerima segala kemungkinan di depan bukan? Paradigma kita telah bersatu, tapi biarkanlah yang lain itu bersatu secara perlahan.

Aku tak akan memaksa jika kau ingin pergi ataupun menetap, karena aku sudah terbiasa menjadi pelarian, atau sekedar tempat menenangkan hati mereka. Jika kau ingin tetap bersama mengalir bersama arus air dan mengahadapi segala rintangan didepan, maka tetaplah berada disampingku. Sehingga bisa kupastikan kau memang bersedia menjadi sosok yang akan selalu menemani disetiap rintangan yang akan diberikan waktu.

Kita hanyalah sepasang manusia yang memiliki banyak kemungkinan untuk bersama. kita tak perlu saling menggengam terlalu erat dan memberi harapan terlalu besar. karena hal itu hanya akan membuat kita mudah untuk saling melepaskan dan saling menuntut.

Kau adalah sosok yang kujadikan sebagai pemeran utama dalam imajinasi ini. Membuatku berimajinasi akan sosok wanita masa depan yang akan menjadi wanita terakhir dalam hidupku. Wanita yang menetap dan bukan hanya sekedar datang kemudian pergi.