Haii!!

Namaku Goceng, si uang kertas bernominal lima ribu rupiah. Namun, aku punya banyak cerita. Mau dengar?

Alkisah, lahirlah aku bersama saudara-saudaraku dari si big boss, Bank Indonesia, pada tahun 2016. Rencananya sih aku akan menggantikan pecahan lima ribu yang lama, yaitu cetakan tahun 2012.

Di mukaku terpampang wajah datar pahlawan nasional, KH Idham Chalid. Lalu di punggungku ada gambar penari gambyong yang cantik dengan latar belakang Gunung Bromo dan bunga Sedap Malam. Kurang kece apa aku?

Lucunya nih, saat pertama kali aku keluar, pemilikku menyebutku sebagai uang kertas.

Yap, kertas.

Lucu, kan?

Padahal aku sama sekali tidak terbuat dari kayu. Aku terbuat dari kapas.

Yah, apapun itu, aku sudah mengganggap kertas sebagai sepupu dekatku. Lagipula kami sama-sama terbuat dari tumbuhan, ya kan?

Singkat cerita, bertemulah aku dengan pemilik pertamaku. Wah, dia seorang anak perempuan yang terlalu ceria. Ia tampak bangga bisa memiliki aku dan saudara-saudaraku. Dia sering sekali memamerkan aku kepada teman-temanku.

“Lihat deh, lihat, ini uang baru lho! Mama gue baru ngasih semalem,” katanya sombong.

Dalam sekejap aku dan saudara-saudaraku berpindah-pindah tangan. Saat bel berbunyi, barulah kami bisa tenang. Si gadis itu menyelipkan aku di antara bukunya.

“Hai, uang baru ya?” si buku itu menyapaku.

“Yap! Kalau kamu?”

Dia tertawa, “Pasti berat ya menghadapi anak-anak itu. Kenalin, aku Buku IPA.”

“Woah, apa fungsimu?” tanyaku tertarik.

“Fungsiku?” ulangnya dengan nada bangga, “Fungsiku luar biasa hebat! Kau tahu, tanpa mempelajariku, manusia takkan cerdas. Kami, kaum buku pelajaran, adalah nomor satu perannya dalam perubahan dunia. Sebutkan orang hebat mana yang tidak pernah membaca buku! Kami adalah agen pembawa perubahan dunia!”

“Wah, keren! Pasti asyik ya bisa berperan penting bagi manusia.”

Si Buku IPA mendengus sebal, “Tapi manusia itu terkadang tidak tahu berterima kasih! Sudah kami sediakan ilmu, bahkan sering tidak dipelajari sama mereka. Jika bosan, dengan gampangnya mereka menggambari tubuhku! Bahkan ketika lagi tidur di kelas, si gadis itu pernah ngiler di atas tubuhku!”

“Ewww!!”

“Tapi, kau lihat si Buku Tulis? Nasibnya lebih mengerikan!”

“Oh ya, kenapa?”


“Anak-anak gemar sekali merobek bagian tengahnya untuk membuat kapal-kapalan. Ngeri ‘kan?”

“Awww, pasti sakit!”

“Beruntunglah kau hanya uang. Manusia akan berpikir dua kali sebelum merobekmu, karena kau memiliki nilai. Paling parah, mungkin nanti kau hanya akan dibejek-bejek.” Ujarnya si Buku IPA santai.

Tapi aku sudah bergidik ngeri.

Sebulan aku hidup bersama gadis itu. Saat harus melepaskanku, gadis itu tampak tak rela. Namun ia tidak punya pilihan karena uang lamanya habis.

Pemilik keduaku adalah seorang bapak pemilik warung yang wajahnya galak. Dia amat teledor dan gemar meletakkan kami, kaum uang, dimana-mana. Hari kedua aku bersamanya, dengan teledornya ia meletakkanku begitu saja di atas meja. Tapi di sana, aku bertemu banyak kertas.

“Hai,” sapaku ramah.

Yang membalasku adalah sebuah kertas tipis sekali berwarna putih bersih, “Helloowh, aku Tisu!”

“Kau putih sekali,” komentarku.

Si Tisu tersenyum bangga, “Yap. Karena tugas utamaku adalah membersihkan!”

“Wah, tugasmu pasti sangat penting!” pujiku.

“Yeah, aku membersihkan apa saja. Segala macam noda takut denganku! Bahkan kadang-kadang manusia menggunakkanku untuk membersihkan lendir hidungnya. Kau tahu, kaumku bisa berada dimana saja: toilet, kamar, ruang tamu. Bisa juga di hotel, kantor, atau rumah. Bahkan banyak dari manusia yang membawaku kemana-mana di dalam tasnya.” Cerita si Tisu.

Aku takjub. “Kau ternyata penting sekali!”

“Pastinya!”

Belum sempat kami mengobrol lebih jauh, si bapak tiba-tiba mengangkat diriku dengan kasar. Ia memberikanku sebagai kembalian kepada seorang anak perempuan kuliahan yang cantik. Dompetnya penuh dengan kartu-kartu aneh.

Tetapi yang lebih aneh lagi, ada dua lembar uang yang tidak aku kenal. Aku tidak pernah melihat mereka sewaktu di Bank Indonesia.

“Oh, si uang baru!” seru si uang aneh itu. “Hajimemashita, namae wa Yen des.

Aku kaget. Ini uang bicara apa?

“Hahaha, dia memang suka seperti itu. Dia adalah uang dari Jepang. Yen namanya.” Ujar uang aneh lain di dompet ini. “Kalau aku adalah Dolar Australia.”

“Wow, kalian dari luar negeri! Tekstur kalian terasa beda. Kalian juga kertas? Semua manusia menyebutku kertas, padahal aku terbuat dari kapas bukannya kayu,” ujarku.

“Tentu saja kami kertas! Meskipun aku terbuat dari polimer, aku juga kertas!” seru si Dolar tidak terima.

“Iya, Dolar benar,” setuju Yen, “Secara harfiah kertas adalah lembaran-lembaran tipis ciptaan manusia yang bisa dirobek, digulung, dilipar, direkat, dicoret dan mempunyai sifat yang berbeda dari bahan bakunya, yakni tumbuh-tumbuhan. Kertas dibuat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sangat beragam.”

“Intinya, kalau kau memiliki sifat-sifat kertas. Kau adalah kertas. Tidak peduli kau berasal dari kayu atau bahkan kapas,” tambah Dolar.

Aku berpikir sebentar. Hmm... penjelasan mereka terdengar masuk akal.

“Kalau begitu, apa fungsi kita?” tanyaku. “Aku bertemu Buku dan Tisu. Mereka sangat berfungsi bagi hidup manusia.”

Yen dan Dolar berpandangan lalu tertawa. “Kau tak tau fungsi kita? Lucu sekali! Uang sangat penting bagi hidup manusia!”

Aku bingung. “Rasanya aku hanya dipindah-pindahkan saja selama ini.”

“Itulah poinnya!” seru Dolar. “kita adalah alat transaksi! Karena kita manusia bekerja. Dengan kita, manusia bisa memiliki apa yang dia butuhkan ataupun inginkan. Dengan kita manusia bisa membantu sesamanya. Kita sangat berguna bagi hidup manusia!”

“Kita seberguna itu?”

“Yap!” balas Yen. “Tapi kita juga membawa keburukan. Karena kita manusia bisa menjadi serakah dan menyakiti sesamanya. Terkadang manusia bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kita. Ironis bukan?”

Aku bergidik ngeri. “Efek kita ternyata bisa mengerikan.”

Aku tinggal dalam dompet bersama Yen dan Dolar selama seminggu. Kemudian tiba waktunya bagiku untuk berpindah lagi, kali ini ke tangan seorang pemuda yang jago menggambar. Namun pemuda itu tidak meletakkanku dalam dompet atau secara sembarangan seperti si bapak penjaga warung. Ia meletakkanku secara hati-hati di atas meja belajarnya.

Lalu si pemuda keluar. Pintu kamarnya ditutup.

“BOOM!!”

“AHH!!”

Apa itu? Mengagetkan sekali!

Tak jauh dariku ada sebuah buku, penuh dengan coretan pinsil. Buku itu nyengir kepadaku.

“Akhirnya kau datang. Si lembar terbaru lima ribuan! Hebat! Luar biasa!” seru si buku gembira. “Perkenalkan, aku Sketchi!”

“Sketchi?”

Sketchi menggerutu. “Kenapa sih semua orang merasa aneh dengan namaku? Ck! Dengar ya, itu sebenarnya pelesetan dari Sketch Book.”

“Oalaah,” aku mengangguk paham. “Umm, jadi apa spesialnya dari kedatanganku?”

Sketchi kembali bersemangat, “Wah, tentu saja kami menunggumu! Lihat ruangan ini! Penuh dengan sketsa kan? Pemilik kita adalah seorang pelukis berbakat. Nah, dia juga punya misi baru untuk menggambar sketsa semua uang keluaran terbaru. Tinggal pecahan 5000 saja yang berlum kesampaian dia gambar. Karena itu kami menunggu kedatanganmu!”

“Wow, aku kehabisan kata-kata,” ucapku jujur. “Tapi,  hmm... kamar ini penuh sekali kertas.”

“Iyalah, kertas kan sangat penting!” kali ini yang menjawab si kertas pink dari bermacam-macam kertas warna-warni yang tertempel di meja belajar si pemuda tadi.

“Lihat aku, lihat kami!” potong temannya yang berwarna kuning. “Kami adalah Post it, kami bertugas mengingatkan hal-hal yang penting. Lihat betapa kami membantu si tuan muda pelupa itu mengingat berbagai hal!”

“Benar sekali,” setuju Sketchi, “jangan heran kenapa kertas sangat banyak. Yah, karena kita amatlah berguna. Kau lihat kertas-kertas tebal di lemari kaca di sana?”

“Ah, yang sedang tidur itu?”

“Yap! Mereka memang enak bisa bermalas-malasan sepanjang hari. Tapi kau tahu, mereka berperan besar membantu tuan muda untuk mendapatkan universitas impiannya. Mereka disebut Ser-ti-vi-kat,” eja Sketchi. “Di kamar nyonya besar juga ada kertas serupa. Jika kau menjualnya, kau bisa dapat uang banyak. Namanya Surat Tanah. Keren, kan?”

Aku mengangguk takjub, “Wah, ternyata banyak kertas yang berperan penting ya!”

“Ck, tentu saja. Bagaimana sih kau ini? Masa tidak tahu... ckckck!”

Dua minggu aku bertahan bersama si tuan muda jago gambar. Pemilik kelimaku adalah seorang perempuan cantik. Dia seorang pengrajin ternyata. Dibandingkan dengan pemilikku sebelumnya, perempuan ini punya jauh lebih banyak kertas. Luar biasanya, mereka berada dalam beragam wujud!

“Kalian ini apa?” tanyaku refleks saat si perempuan meletakkanku begitu saja di dekat barang-barang kerajinannya.

“Wah bocah ini, sungguh tidak sopan! Memangnya kami tampak aneh?” cibir sebuah Bingkai Foto, tapi dia terbuat dari kertas!

“Tidak, tidak! Kalian sama sekali tidak aneh!” ralatku cepat-cepat. “Justru kalian sangat unik. Kau sebuah bingkai foto, dia sebuah tas, lalu itu gantungan dinding, dan apa itu? Cat dinding dari kertas? Wow, kalian semua terbuat dari kertas!”

Bingkai Foto tampak kaget, “Kau baru pertama kali melihat seperti ini ya, Nak? Oh ya, omong-omong itu bukan cat dinding dari kertas. Namanya si Wallpaper.”

“Kalian keren!”

“Siapa anak baru ini?” si tas dari kertas mendekat. “Oh ya, kenalin, aku Paperbag.”

“Kau tas?"

“Y-ya? Memangnya kenapa?”

“Dan kau terbuat dari kertas?”

“Iya,”

“Keren sekali!”

Aku melihat sekeliling lalu melihat tempat menaruh pinsil berbentuk tabung yang terbuka atanya. “Dia juga terbuat dari kertas?” tanyaku.

“Iya,” jawab Paperbag dengan sabar.

“Dia tampak sangat indah,” pujiku.

Paperbag mengiyakan. “Tapi dia mengalami proses paling sulit.”

“Hah, kenapa?”

“Lihat, jika kebanyakan dari kami hanya dipotong-potong lalu ditempel. Kalau dia harus di hancurkan dulu sampai menjadi bubur kertas lalu dibentuk ulang. Kemudian baru dihias. Tapi hasilnya memang sangat cantik.” Yang bercerita adalah si Bingkai Foto.

“Uhh, pasti sangat sakit.”

“Tapi tenang, kami senang kok.” Paperbag tersenyum diikuti Bingkai Foto. “Karena kami menjadi berguna!”

“Ya, nona muda yang memiliki kami menggunakan kami dengan bijak. Tidak membuang-buang kertas dengan gampangnya seperti orang lain.” ucap Paperbag sangat bersyukur. “Dia membuat kami menjadi berbagai hal yang luar biasa.”

“Benar,” Bingkai Foto menghela nafas pelan. “Andai semua manusia seperti nona kami yang menggunakan kertas dengan bijak.”

Aku mengangguk setuju. Kemudian aku mengedarkan pandanganku dan melihat segulung kertas bermotif yang belum tersentuh sama sekali. “Dia apa?”

Paperbag menoleh dan ikut melihat. “Oh, dia namanya Kertas Kado.”

“Tapi, kenapa belum diolah?”

“Dia tugasnya membungkus. Dia akan membungkus kado yang disiapkan nona muda untuk sahabatnya,” ujar Bingkai Foto. Aku mengangguk mengerti. Wah, aku tidak sabar untuk mengobrol dengan berbagai kerajinan kertas lainnya.

Sore harinya, si nona muda kembali. Dia membereskan rumahnya yang berantakan. Termasuk aku. Dia memindahkanku ke meja dekat tempat tidurnya. Sementara itu si nona muda malah duduk santai di depan televisi dan menonton siaran berita.

“Ah, tren Paperless Society lagi?” gumam nona muda.

Dia berdecak heran, “Mereka menyebarkan isu itu seakan-akan dunia akan berhenti menggunakan kertas dalam sebulan, dua bulan. HAH! Temukan dulu pengganti tisu dan buku yang tidak merusak mata, baru kalian bisa layak menyebarkan tren itu!”

Lalu nona muda mengambil salah satu kertas origami berbentuk katak buatannya. Ia memainkannya dan menatapnya lama.

Kemudian ia bicara sendiri, katanya ”Lucu sekali ya orang-orang itu. Memang benar sih, dunia semakin lama, semakin tidak membutuhkan kertas. Tren itu bener banget. Tapi kok rasanya seperti habis manis sepah dibuang?”

Aku melihatnya menghela nafas dan meletakkan katak origami itu di meja. Lalu matanya kembali menatap televisi.

“Apa orang-orang itu tidak sadar pentingnya kertas bagi kemajuan peradaban yang mereka bangga-banggakan itu. Andai lo itu mahluk hidup, kertas. Pasti sakit hati. Manusia yang telah lo tolong selama berabad-abad malah sekarang bikin tren untuk meninggalkan lo.”

“Bayangkan, lo udah membantu manusia dari sejak masih bentuk papirus! Apa mereka tidak tahu berterima kasih? Setidaknya mereka bisa mewujudkan rasa terima kasih dengan gak gampang membuang-buang kertas. Apalagi menggunakan kertas untuk hal gak penting. Ya gak, kertas?”

Tentu saja tidak ada yang meresponnya. Nona muda itu mendengus, “Hah, apaan sih gue ngomong sendiri. Udah ah capek.” Lalu ia mematikan televisi dan tidur.

Namun aku masih memikirkan perkataan nona muda, juga semua kata-kata berbagai macam kertas yang sudah kutemui sejauh ini. Saat mereka mengatakan betapa bangganya mereka bisa berguna bagi manusia.

Aku ingat si Buku IPA yang bangga bisa mencerdaskan dunia dan si Tisu yang bisa membersihkan segala sesuatu bahkan lendir hidung! Lalu juga si Yen dan Dolar yang bangga sebagai uang yang bisa memenuhi segala kebutuhan, juga Sketchi yang bangga sebagai tempat tuan pelukis bisa mengasah bakatnya, ataupun Post It yang jago mengingatkan!

Kemudian ada Paperbag dan Bingkai Foto dari kertas. Tak lupa tempat pensil dari kertas, Bungkus Kado, Setivikat, dan Surat Tanah. Mereka saja masih sedikit dari semua macam kertas di seluruh dunia.

Tapi, tetap mereka adalah kertas. Kertas-kertas yang sangat berguna.

Aku pikir, memang benar di masa depan Paperless Society itu akan jadi kenyataan. Lalu kenapa? Kita hidup di jaman now, bukan?

Nyatanya, di masa ini, kertas amatlah penting bagi kehidupan manusia. Dan itu tidak bisa disangkal!

Karena itu, bagi manusia yang membaca kisahku, seperti kata nona, berterima kasihlah kepada kertas. Bersyukurlah. Setidaknya wujudkan rasa terima kasihmu dengan menggunakan kertas secara bijak. Oh iya, gini-gini kami suka menjadi cantik lho, jadi cobalah memakai kami secara kreatif, hehehe...


Dari selembar goceng cetakan 2016. Terima Kasih.