Anda pernah merasa grogi? sebagai manusia normal pasti pernah dihinggapi perasaan seperti itu. Penyebabnya adalah rasa malu jika apa yang kita lakukan gagal atau salah.  Saya sendiri seringkali merasakannya ketika harus berpidato di hadapan banyak orang. Perasaan grogi juga sering dialami laki-laki ketika momen menyatakan rasa sayang kepada seorang perempuan.

Demikian juga dengan perasaan minder, perasaan kecil dihadapan orang yang kita anggap besar. Minder adalah sebentuk negatif thinking (Suudzon) kepada diri sendiri karena menganggap lebih rendah dari orang lain. Ini berbeda dengan rendah hati yang memang bertujuan untuk menunjukkan sopan santun kepada atasan, senior, guru, orang-orang yang lebih tinggi derajatnya atau orang tua.

Rasa sopan santun ini juga tidak mengurangi kewibawaan diri, berbeda dengan minder. Perbedaan antara minder dan rendah hati terletak pada gesture dan raut muka. Orang-orang yang minder cenderung menunjukkan raut muka tegang dan gesture tubuh yang kaku. Sementara rendah hati, dia tanpa sungkan dan dengan rileks menghadapi siapapun orang yang derajatnya lebih tinggi dengan santai dan wajar.

Grogi dan minder adalah sebentuk perasaan rendah diri yang pelakunya secara sadar melakukannya. Artinya kedua hal itu dilakukan dengan sangat sadar dan bisa dirubah dengan latihan-latihan tetentu seperti table menner atau latihan berpidato. Saya sendiri bisa melepas perasaan grogi saya saat berpidato karena intensif berlatih khitobah saat di pondok pesantren, dan ada ujian khitobah di hadapan para kyai dan guru.

Inferiority complex

Namun selain kedua bentuk rasa rendah diri di atas, ada satu penyakit psikologis yang selalu ingin menyembunyikan rasa rendah dan tak berdaya. Penyakit itu diberi nama inferiority complex. 

Inferiority complex adalah sebuah kondisi alam bawah sadar. Ketika suatu pihak merasa inferior/lemah/lebih rendah dibanding pihak lain, atau ketika ia merasa tidak mencukupi suatu standar dalam sebuah sistem kehidupan masyarakat. Kondisi kejiwaan seperti ini biasanya berujung pada suatu kompensasi atau pemujaan yang berlebihan pada suatu pencapaian. Atau bisa juga mencari tendensi kepada objek-objek tetentu yang tidak masuk akal untuk mencari pengakuan dan apresiasi dari pihak lain.

Menurut berbagai penelitian psikologi-sosial, kondisi ini disebabkan oleh kegagalan yang dialami oleh seseorang atau kelompok yang terus menerus. Kegagalan yang terjadi berkali-kali itu menyebabkab sebuah delusi seandainya cita-citanya berhasil, maka sesuatu yang ajaib pasti akan terjadi. Jadi keajaiban dari sebuah cita-cita yang diharapkan itulah yang menjadi tujuan akhir.

Selain kegagalan, inferiority complex juga bisa disebabkan karena kesuksesan yang diraih pihak lain yang hampir serupa dengan cita-citanya sendiri. Masalah yang kedua ini biasanya akan memunculkan sikap-sikap antipati kepada pihak-pihak tertentu yang telah “merampas” cita-citanya itu.

Nah, inferiority complex kebanyakan akan mencari common enemy untuk pemuasan hasratnya. Dalam ilmu psikoanalisa, setiap jiwa pasti punya tujuan pemuasan hasrat, entah itu pemuasan yang bersifat positif atau negatif. Inferiority complex akan mengidentifikasi bahwa pihak-pihak yang mencapai kesuksesan yang dia cita-citakan adalah perampas sekaligus penghalang tujuan dan cita-citanya. Muaranya adalah propaganda dan penghasutan untuk memusuhi “si penghalang” cita-cita tersebut.

Inferiority complex dalam Islam

Saya akan mencoba mengajak para pembaca semua untuk menengok beberapa situs berita atau akun-akun medsos yang berhaluan Islamis, Islamis di sini maksudnya bukan keseluruhan umat Islam tapi sebagian kelompok ekstrimis yang membawa-bawa Islam. Dalam situs dan akun islamis, anda akan mendapatkan postingan yang menunjukkan kebanggaan yang tidak masuk akal dengan sistem keislaman yang belum jelas konsep ajaran dan aplikasinya.

Nah, konsep-konsep semacam itu, salah satunya khilafah, sebetulnya secara realistis akan sulit diterapkan dalam sistem politik modern walaupun negara kerajaan. Semisal Arab Saudi, sekalipun negara itu kerajaan, mereka enggan menggunakan sistem kekhilafahan. Karena bagi mereka sistem khilafah cenderung membatasi pergaulan dalam kancah politk Internasional.

Beberapa hal yang menjadi objek kebanggaan yang tak masuk akal tersebut di antaranya bentuk-bentuk virtual yang menyerupai lafadz Allah. Anda pasti sering menjumpai dalam akun-akun medsos islamis tersebut gambar awan yang menyerupai lafadz Allah, bunga kaktus menyerupai lafadz Allah, bentuk sisik ikan arwana yang menyerupai lafadz Allah, dan lain sebagainya. Kemudian di kolom komentar akan bermunculan respon dengan kalimat “subhanallah”, “allahu akbar”, dan macam-macam pujian lainnya.

Termasuk kabar berita yang viral belum lama ini, yaitu “khasiat kencing unta”. Hampir semua hal yang berhubungan dengan kultur islam-arab mereka identifikasi sebagai mukjizat dari Allah SWT. Kebaggaan-kebanggaan yang berlebihan ini bisa dibilang karena mereka tak kunjung mampu mewujudkan cita-cita mereka yakni, khilafah. Kebanggaan tersebut sekaligus mereka gunakan sebagai bukti betapa agung dan penuh kemukjizatan sistem khilafah yang mereka tawarkan.

Adapun jika ada pihak-pihak yang menyela argumentasinya, akan dituduh anti Islam dan patut dimusuhi. Bagi mereka, keajaiban-keajaiban dalam dunia Islam adalah nyata adanya. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak percaya dengan keajaiban-keajaiban tersebut adalah musyrik.

Orang-orang yang menentang keajaiban-keajaiban itu dengan argumentasi ilmiyah akan mereka tuduh sekuler dan liberal serta kafir, sesat, antek yahudi dan nasrani serta komplotan syi’ah yang anti ahlussunnah. Seperti yang sudah saya jelaskan diatas. Karena mereka tak kunjung mampu mewujudkan cita-citanya dan tidak mampu menunjukkan argumentasi ilmiyah tentang keajaiban itu, maka mereka menciptakan common enemy sebagai pemuas hasrat inferiority complex yang mereka miliki.

Alam ketidaksadaran

Saya jelaskan kembali bahwa inferiority complex terletak di alam bawah sadar manusia. Alam bawah sadar adalah sebuah wahana yang menggerakkan kepribadian seseorang. Semua watak dan karakter seseorang sangat ditentukan oleh isi memori alam bawah sadar tersebut. Inferiority complex salah satunya.

Orang-orang yang mengalami inferiority complex akan merasa normal-normal saja hidupnya. Apa yang mereka lakukan akan terlihat sangat wajar dan memang seharusnya begitu. Setiap mereka melakukan sesuatu dengan orientasi yang tergambar dalam inferiority complex terasa sangat natural, dan memang natural tanpa ada paksaan apalagi sekenario.

Contohnya apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam ekstrem, mereka tidak akan merasa bersalah sama sekali dengan hal-hal negatif yang mereka lakukan karena itu demi kemajuan islam. Mereka menganggap tidak ada yang salah ketika mereka membatasi interaksi dengan non-muslim dan membatsi diri bergaul dengan yang seagama tapi beda aliran. Bagi mereka tak ada yang salah.

Berbeda dengan koruptor, pembunuh, atau jenis penjahat lainnya. Koruptor misalnya, mereka seratus persen paham bahwa aksi korupsinya adalah tindak kejahatan, tapi mereka harus melakukan tindakan korupsi karena ada tuntutan politik. Pencuri misalnya, mereka sangat sadar bahwa pencurian yang mereka lakukan adalah tindak kejahatan, tapi mereka harus melakukannya karena profesi. 

Demikian juga para pengedar narkoba, mereka sadar betul akan kejahatan dan konsekwensi dari perbuatan mereka. Penjahat-penjahat semacam itu tidak akan memunculkan dalil kebenaran untuk kejahatan yang mereka lakukan, karena itulah mereka melakukannya dengan cara sembunyi-sembunyi.

Kita bisa memperhatikan tindakan pengeboman atau pembunuhan yang dilakukan teroris yang membawa nama Islam. Mereka akan mengajukan banyak dalil untuk perbuatan “jihad” itu. Pembunuhan dan pengeboman yang mereka lakukan adalah demi kesejahteraan umat Islam. Orang-orang yang mereka bunuhi adalah pihak-pihak yang mengancam eksistensi agama Islam.

Itulah mengapa mereka tidak pernah menutup-nutupi aksi kejam mereka, bahkan mereka cenderung sengaja mempertontonkan kekejamannya. Masih ingat video pemenggalan kepala seorang tawanan yang dilakukan serdadu ISIS? Itulah salah satu bentuk kebanggaan mereka, bagi mereka hal itu adalah jihad membela agama.

Kecemasan ketua MPR soal Populasi Muslim

Saat berpidato di hadapan para santri dan kyai di Pondok Pesantren Daarul Qolam kabupaten Tangerang Banten pada minggu 21 januari 2018, Zulkifli Syukur terang-terangan mengatakan bahwa populasi umat Muslim di Indonesia akan berkurang karena negara telah mengakui eksistensi penganut penghayat kepercyaan. Dari artikel yang saya abaca di kumparan.co ketua MPR mengatakan bahwa umat Muslim Indonesia yang awalnya 95% menurun populasinya menjadi 85%.

Salah satu dampak yang terlihat dari inferiority complex yang dialami umat islam adalah ketakutan akan pengurangan papoluasi umat muslim. Bagi mereka, pengurangan populasi adalah bencana yang paling menakutkan ketimbang tsunami atau gempa bumi, karena bisa jadi ini adalah tanda-tanda kiamat.

Terlepas dari soal motif politik, ketua MPR berhasil menumbuh suburkan paranoia (ketakutan tak berdasar) di kalangan umat Islam yang awam. Dengan ketakutan-ketakutan yang berbasis religiusitas inilah kelompok ekstrem memiliki celah untuk melakukan hasutan. 

Apalagi ketua MPR yang merangkap sebagai ketua umum PAN menyebut adanya dorongan dari kelompok skuler dan liberal yang menginginkan penghayat kepercayaan diakui negara. Zulkifli jelas mengungkapkan bahwa skularisme dan liberalisme adalah musuh umat Islam. Selain menunjukkan musuh teologis, Zulkifli juga mengatakan adanya pengaruh negara luar yang tiada henti-hentinya mengkampanyekan liberalisme.

Menciptakan musuh virtual semacam itu menjadi ciri khas sindrom inferiority complex. Hal ini seperti penyakit skizofrenia yang selalu mengndaikan sahabat virtual. Pengidap sindrom inferiorty complex selalu merasa curiga dengan hal-hal baru karena sebenarnya mereka memang gagap beradaptasi dengan pembaruan.

Faktor Pendidikan Sangat Berpengaruh

Factor pendidikan yang kurang menekankan pada aspek pembangunan karakter dan keterbukaan pikiran menjadi penyebab merebaknya sindrom inferiority complex yang semakin akut. Semenjak tahun 1966, pasca tragedi G30S, kurikulum pendidikan di Indonesia sangat dibatasi hanya pada aspek-aspek propagandis penguasa. Wacana-wacana kritis cenderung dihilangkan, jika ada pengajaran yang menjalankan metode kritis akan dianggap subversive oleh rezim saat itu.

Peserta didik dipaksa mengkonsumsi pelajaran dengan cara dikte, kurikulum CBSA menjadi andalan pada periode 1974-1994. Siswa tidak boleh bahkan tidak disediakan bahan bacaan alternative selain yang diterbitkan oleh penguasa. Pelajaran-pelajaran seperti Bahasa Indonesia, PPKn, dan IPS diseleksi sangat ketat isinya.

PPKn misalnya, seolah-olah didalamnya mengajarkan budi pekerti pancasila dan cinta negara. Tapi pada faktanya, banyak bagian-bagian dalam mata pelajaran yang mengandung doktrinasi ketundukan kepada penguasa. Begitupun dengan pelajaran bahasa Indonesia, dengan EYDnya, yang terus-terusan menghapus ingatan sejarah bangsa. Dengan menciptakan ejaan baru yang berbeda dengan ejaan zaman Soekarno membuat generasi setelahnya kesulitan membaca buku dan literatur sejarah dengan ejaan lama yang asing.

Maka sangat wajar generasi tahun 70-90an yang dididik dengan kurikulum CBSA, sangat minim melahirkan ilmuwan besar. Generasi inilah yang sekarang menjadi kelas menengah dengan status rawan indoktrinasi. Generasi ini mendapat asupan ilmu agama yang sangat minim. 

Memang tidak semua, ada juga yang berhasil mengenyam pendidikan agama di Pesantren sehingga cukup kebal jika berhadapan dengan wacana-wacana Islam ekstrem. Namun sebagian besar generasi 70-90an sangat minim pengetahuan agama dan sangat mudah diseret dalam wacana takfiri yang terselubung di dalamnya inferiority complex.

Kurikulum CBSA sendiri sempat diplesetkan dengan kepanjangan Cah Bodo Soyo Akeh, karena kurikulum ini sangat banyak melahirkan peserta didik yang mudah tunduk dan kurang daya analisis. Keberanian kritik dari alumni CBSA sungguh sangat memprihatinkan. Inilah generasi yang dipenuhi dengan sikap gamang jika berhadapan dengan penguasa. Dan mereka juga gamang dengan wacana-wacana keagamaan. Mereka gampang sekali terbuai dengan rayuan surga.

Meskipun sudah berkali-kali berganti kurikulum, cara berfikir pendidik kita masih menggunakan paradigma CBSA sehingga sistem pendidikan kita belum juga mampu membebaskan nalar peserta didiknya. Hal ini, sekali lagi, menjadi sangat rawan indoktrinasi. Dan memang sudah terbukti, siswa-siswa di lembaga pendidikan negeri yang terdapat ekstrakurikuler keagamaan menjadi lahan subur inferiorty complex yang mewacanakan ketakutan akan keterancaman umat Islam. Imbasnya, siswa-siswi yang seharusnya menjadi kawah candradimuka pembangunan bangsa, justru menjadi ancaman terhadap ideology negara.

Gagap Dengan Perubahan dan Pembaruan

Hal mendasar dari munculnya sindrom inferiority complex adalah kegagapan membaca perubahan dan tidak mau beradaptasi dengan pembaruan. Situasi ini tidak terlepas dari sistem pendidikan CBSA di atas. Efek paling memperihatinkan dari CBSA adalah kegagapan dalam mmbaca perubahan dunia kearah yang lebih modern.

Kelihatannya memang saat ini Indonesia sedang membangun peradaban yang lebih modern daripada sebelumnya. Pembangunan infrastruktur yang semakin massif dan perkembangan teknologi yang semakin menggurita di tengah masyarakat menjadi penanda modernisasi itu. Tapi faktanya, pola pikir masyarakat Islam di Indonesia masih cukup mistis untuk ukuran peradaban modern. Masyarakat Indonesia masih gampang terbawa arus.

Perkembangan teknologi komunikasi justru menjadi boomerang bagi bangsa kita. Sebagai bangsa yang mengalami krisis literasi, konten-konten negatif di media sosial menjadi ranjau mematikan. Banyak orang yang “tersesat” wacana gara-gara konten media sosial yang provokatif.

Kegagapan lain yang cukup mencolok adalah, kampanye boikot produk Amerika dan Isreal yang mereka anggap mencancam umat Islam. Dengan gampang mereka melakukan kampanye boikot produk tanpa berpikir bagaimana teknis melakukan boikot itu. Bahkan mereka tidak berpikir bahwa sarana kampanye yang mereka gunakan adalah produk yang seharusnya mereka boikot juga.

Cara berpikir yang irasional dan memaksakan propaganda tanpa logika yang memadai menjadi penanda kegagapan. Sindrom akut inferiority complex menjadi ancaman nyata bagi orang-orang yang berpikiran waras saat ini.