Pada tahun 105 Masehi, Ts’ai Lun mendapat gelar kebangsawanan dari kaisar dinasti Han. Ketika itu untuk pertama kalinya ia memperkenalkan temuannya yang termashsyur dan masih digunakan sampai sekarang yaitu kertas.

Di masa dinast Han, dan tentu saja juga masa Ts’ai Lun, orang masih menggunakan sutera dan bambu sebagai media tulis menulis. Karena sutera masih dianggap mahal, dan bambu dianggap kurang efisien penggunaanya, oleh Ts’ai Lun kemudian dibuatlah kertas.

Pada mulanya, Ts’ai Lun mendapat ide membuat kertas ini dari kulit pohon, sisa-sisa rami, kain-kain, dan juga jaring ikan. Caranya, bagian dalam dari kulit kayu murbei ini didalamnya direndam dalam air dan dan dipukul-pukul sampai seratnya terlepas. Bersama dengan kulit, direndam juga bahan rami, kain bekas, dan jala ikan. Setelah jadi bubur, bahan ini ditekan hingga tipis dan dijemur.

Dengan itu, kita tentu tahu bagaimana daya guna benda-benda punya nilai yang bisa saja terkikis sedikit demi sedikit. Lalu, yang baru dicari, digali lebih dalam, untuk kemudian menggantikan yang lama.

Manusia memang punya titik jenuhnya ketika berhadapan dengan berbagai macam hal dalam kehidupan. Titik jenuh merupakan satu dari banyak hal yang kadang membuat seseorang terus mencari dan bertanya. Ini terbukti dari bagaiamana Ts’ai Lun, yang pada mulanya merasa muak dan bosan dengan media tulis menulis yang kurang efisien, kemudian mencoba sesuatu yang baru, lalu kertas ditemukan.

Dalam penggunaanya hingga bertahun-tahun kemudian, kertas semakin menjadi sesuatu yang dianggap penting. Pentingnya penggunaan kertas dalam hidup sehari-hari, dapat dilihat dari bagaimana kertas tidak cuma dipakai sebagai media tulis atau mencetak angka dan huruf-huruf, bahkan sudah sampai ke tahap yang lebih tinggi seperti digunakan sebagai pembungkus, tisu, dan masih banyak lagi hal dimana kertas berfungsi sebagai wadah/dos.

Mau bagaimanapun, kertas harus mendapatkan tempat yang layak dalam peradaban umat manusia. Meskipun mungkin ketika mengingat hal lain, yaitu bahan dasar pembuatan kertas berasal dari kulit-kulit pohon, saya rasa sah-sah saja, toh kita memang benar-benar butuh kertas untuk menunjang banyak hal dalam kehidupan.

Kita tidak usah terlalu normatif dengan menganggap penebangan pohon—untuk membuat kertas—itu ulah orang-orang yang tidak bermoral, tidak punya perhatian terhadap lingkungan, dan macam-macam penilaian yang tidak berdasar lainnya.

Pada 7 Agustus tahun lalu, ASIA Pulp & Paper (APP) Sinar Mas bekerja sama dengan Japan agency for Evironmental Business dan International Tropical Timber Organization melakukan penanaman pohon di area konservasi perusahaan di Distrik Sorek, Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau. Dan kegiatan yang dilakukan untuk keempat kalinya itu, dilakukan sebagai upaya mendukung restorasi dan perlindungan hutan di Sumatera dan Kalimantan (2017: www.sinarmas.com).

Pada dasarnya, setiap perusahaan besar, dalam hal ini juga perusahaan kertas, punya apa yang disebut Corporate Social Responsibility (CSR), dimana pihak perusahaan memiliki tanggung jawab sosial dan harus memiliki kontribusi terhadap masyarakat dan berperan dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Perusahaan kertas Tjiwi Kimia, misalnya, juga punya CSR yang cukup menarik yang disebut Rombong Biru, dimana pihak perusahaan memberi akses dan juga memfasilitasi para pedagang di sekitar perusahaan untuk menjajakkan dagangannya pada karyawan saat jam istirahat berlangsung.

Terlepas dari tanggung jawab apapun yang dilakukan perusahaan itu, yang lebih penting sekarang bagaimana cara perusahaan-perusahaan tersebut meningkatkan mutunya, mengingat persaingan di era sekarang semakin ketat, dimana alat-alat tekhnologi semakin banyak mengalihkan perhatian masyarakat. Pertanyaanya kemudian, mampukah kertas bertahan dan tidak tersingkir dengan semakin ketatnya persaingan Industri?

Revolusi Industri

Awal mula revolusi industri terjadi antara tahun 1750-1850, dimana ketika itu terjadi perubahan besar-besaran dibidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan tekhnologi, dan hal itu, punya dampak mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di Dunia. Pada pertengahan abad 18 sampai abad 19 itu, banyak hal-hal baru ditemukan, lebih maju dan canggih. Salah satu penemuan yang paling dikenal sampai sekarang, dan paling banyak digunakan masyarakat adalah telepon/handphone.

Alat komunikasi yang diperkenalkan oleh Alexandar Graham Bell ini, sampai hari ini, sangat inovatif dan dalam tahap yang menakutkan, bisa saja menyingkirkan penggunaan kertas dalam hal sebagai media tulis-menulis. Bagaimana tidak, selain lebih efisien, handphone juga praktis sangat mudah dibawa kemana-mana. Saya takutnya, masyarakat nantinya merasa muak sama seperti yang dirasakan Ts’ai Lun berabad-abad yang lalu sebelum kertas ditemukan, lalu secara perlahan kertas ditinggalkan.

Sebab kenyataan dimana kertas mulai ditinggalkan dalam fungsinya sebagai media berkirim pesan atau tulis menulis, sudah bisa kita rasakan akhir-akhir ini. Sekarang orang saling berkirim pesan tidak lagi dengan cara menulis, tapi mengetik.

Surat-menyurat tidak lagi menggunakan kertas, sebab sudah ada bentuk lain dari bersosialisasi yaitu E-mail, WhatsApp, dan Masengger. Semua aplikasi ini bentuk lain dari hubungan saling berkirim pesan seperti dulu ketika orang masih pakai kertas. Dan dengan itu kertas sudah jarang digunakan karena selain masalah waktu, masalah biaya juga sangat diperhitungkan.

Hal ini berarti bahwa kertas dinomorduakan. Ketatnya persaingan industri membuat kertas menjadi lemah fungsi. Ini bukan karena kurangnya inovasi tapi memang tidak banyak yang bisa dilakukan, mengingat jalan pergerakan ke arah kemajuan, antara tekhnologi dan kertas, betul-betul berbeda.

Semakin maju sebuah peradaban, orang semakin butuh banyak hal yang bisa memudahkan. Dan dengan alasan yang sama sehingga dulu, di zaman Tsai Lun, kertas dianggap tidak ribet dan sangat maju pada zamannya. Tapi tentu saja kita sama-sama tahu zaman selalu berubah. Makanya dengan semakin banyanknya hal yang ditemukan, yang dipakai di zaman sekarang, akan banyak pula hal yang sedikit demi sedikit akan hilang.

Sama halnya kertas, ketika kesibukkan membutuhkan kecepatan dalam pelaksanaanya, tentu saja orang akan beralih pada sesuatu yang sesuai dan serba praktis yang ada pada alat tekhnologi seperti handphone. Yang kita takutkan sebenarnya bukan cuma karena kemajuan penggunaan kertas tidak lagi dibutuhkan, tapi lebih kepada bagaimana cara kemajuan terus berjalan tanpa harus saling memakan dan menghilangkan satu sama lain.

Mungkin saja mustahil mengharapkan kemajuan tanpa harus melindas apa yang ada di depannya. Maju berarti berjalan tanpa memperhitungkan yang dilewatinya. Maju berarti juga mengejar apa-apa yang mendahului kita. Ada patokan jelas kemana dan apa yang menjadi arah tujuan perubahan. Dan dengan perubahan, maka hal yang tidak berubah sama sekali akan di tinggalkan.

Berabad-abad yang lalu Ts’ai Lun menciptakan kertas, lalu sutera dan bambu mulai tidak dipakai lagi sebagai media tulis-menulis. Lalu Ts’ai Lun mendapat apresiasi yang besar dengan gelar kebangsawan yang disematkan padanya. Kemudian berangsur-angsur kertas mendapat tempat yang penting dalam kehidupan umat manusia.

Dengan kata lain, sejarah kertas adalah juga sejarah peradaban-peradaban. Orang-orang datang dan pergi, tapi kertas tidak sama sekali. Tapi sekarang, peran kertas mulai kendor dan ini membuat kita bertanya-tanya; mungkinkah di masa depan kertas akan jarang diingat seperti penemunya—ts’ai Lun?