Masa depan bangsa Indonesia tentunya bergantung pada generasi pelajar saat ini. Sistem pendidikan yang dianut tentu memiliki pengaruh yang besar dalam penentuan masa depan pelajar. Karena itu setiap pelajar harus pintar-pintar dalam memilih sistem pendidikan apa yang harus mereka ambil.

Indonesia memiliki dua sistem pembelajaran yang berbeda bagi siswa-siswi sekolah menengah atas, ada yang disebut SMA dan ada juga yang disebut SMK. Keduanya memang sama-sama mengenai sekolah menengah akhir. Namun, dalam sistem pembelajarannya, keduanya memiliki metode yang berbeda.

SMA lebih banyak mempelajari teori daripada praktek, sedangkan SMK lebih banyak melakukan praktek ketimbang belajar teori. Banyak orang memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai keunggulan antara SMA dan SMK. Memang keduanya memiliki keunggulannya masing-masing, sehingga tidak akan ada kerugian ketika kita memilih salah satunya.

Jika lebih memilih jenjang SMA tentu akan banyak teori yang akan kita dapatkan dengan penjelasan yang lebih mendetail dari guru-guru yang menjelaskan. SMK memang tidak belajar mengenai sebuah teori yang mendalam namun SMK lebih mampu melakukan praktik di dunia nyata sehingga SMK lebih memahami dunia yang pada kenyataannya.

Siswa siswi remaja adalah sama halnya dengan siswa siswi taman kanak-kanak yang lebih menyukai belajar dengan melakukan aktifitas daripada harus belajar dengan duduk diam di kelas. Duduk diam dikelas hanya akan membawa kejenuhan bagi setiap siswa karena hanya akan membuat murid-murid mengantuk dan tidak memiliki gairah untuk belajar.

Banyak siswa lebih menyukai belajar sambil melakukan sesuatu atau belajar melalui sebuah praktek. Inilah mengapa negara Indonesia masih memiliki sistem pendidikan yang rendah. Itu semua karena sistem pendidikan di Indonesia cenderung lebih "memaksa". Berangkat sekolah dari jam 7 dan kembali ke rumah setelah jam 5 sore.

Sebenarnya apa tujuan pemerintah menetapkan sistem full  day school ? Untuk mengurangi hari sekolah? Untuk menambah ilmu dan wawasan siswa? Bagi siswa SMK mungkin sedikit keluhan yang dihadapi karena mereka mungkin saja menikmati waktu belajar dengan praktik sehingga mereka tidak perlu merasa bosan.

Namun, bagaimana dengan siswa siswi SMA? Tentu saja dengan jam belajar yang panjang hanya akan membuat mereka bosan. Duduk di kelas dari pagi mendengarkan penjelasan guru dengan bosan. Bahkan ada banyak siswa yang justru tertidur karena begitu bosannya mendengarkan guru yang menjelaskan atau bahkan terdengar seperti mendongeng.

Setelah pulang jam 5 sore, siswa-siswi juga diberikan pekerjaan rumah yang membuat siswa harus tidur tengah malam untuk menyelesaikan tugas. Siswa siswi memang seorang pelajar yang kewajiban utamanya adalah untuk belajar. Namun, pelajar juga merupakan manusia yang membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Apa gunanya hari belajar di perpendek namun jam belajar perhari diperlanjang jika siswa dan siswi hanya akan datang ke sekolah untuk tidur dan pulang untuk mengerjakan tugas samapai tengah malam dan esok pagi bangun untuk kembali tidur di sekolah. Inilah yang kenyataan bagi banyak siswa SMA.

Jika melihat siswa SMK betapa senangnya melihat mereka menikmati setiap pembelajaran tanpa harus merasa bosan dan mengantuk karena mereka belajar dengan penuh aktifitas. Mereka belajar dan juga mengahadapi permasalahan kehidupan nyata. Ketimbang anak SMA yang masih mengerjakan soal cerita mengenai peluang terambilnya kelereng.

Anak SMK sudah mulai belajar cara memasang ban yang benar sedangkan anak SMA masih saja mengerjakan soal mengenai hidrokarbon. Pada kehidupan nyata, siapa yang peduli akan adanya hidrokarbon, bahkan orang-orang khususnya para lelaki lebih mengutamakan bagaimana cara memasang ban yang benar.

Inilah yang dibutuhkan bangsa Indonesia, generasi yang lebih berani dan mampu berinovasi melalui praktik nyata bukan hanya mampu mengenai sebuah teori. Melalui SMK siswa-siswi dapat mendapat teori yang nyata melalui praktik yang dilakukan. Melalui praktik seseorang akan lebih mampu mengingat dan menguasai ketimbang menghafal.

Kita dapat belajar dari tokoh penemu lampu yaitu Thomas Alva Edison yang melihat kebutuhan nyata manusia yaitu lampu dan menemukan lampu dengan melakukan praktik yang ia ulang beratus-ratus kali, bukan menghafal teori beribu-ribu kali. Karena pada umumnya teori akan muncul melalui sebuah pengamatan dan praktik.

Karena itu biarkanlah siswa siswi untuk memiliki kebebasan dalam melakukan praktik dan uji coba karena dengan begitu siswa siswi akan lebih memiliki kemampuan dalam menemukan ide kreatifitas dan inovasi baru. Untuk menemukan penemuan baru tidaklah harus berpaku pada buku ataupun teori yang sudah ada. Milikilah kebebasan dalam menemukan hal baru.

Kembali pada pernyataan awal, SMA dan SMK memiliki keunggulannya masing-masing. Lulusan SMA akan menjadi lebih unggul untuk menjadi tenang kerja terdidik dan lulusan SMK akan menjadi lebih unggul untuk menjadi tenaga kerja terampil. Indonesia tidak hanya membutuhkan tenaga kerja terdidik saja ataupun terampil saja.

Namun bangsa Indonesia membutuhkan tenaga kerja terampil yang terdidik. Dimana ketika tenaga kerja melaksanakan tugas tidak hanya memiliki sebuah kesenian saja namun memiliki daya pikir yang kuat juga. 

Juga sebaliknya, Indonesia juga membutuhkan tenaga kerja terdidik yang terampil. Di mana melakukan tugas tidak hanya dengan berpikir namun dapat disertai dengan praktik untuk menemukan hasil yang seimbang.