Penyebaran Virus Corona atau COVID-19 sontak mengangetkan publik dunia. Menurut informasi dari World Health Organization (WHO), virus ini mulai ditemukan sejak 2019 lalu.  Virus ini terbilang masih baru, tanpa terduga, virus yang hanya ditemukan dapat menginfeksi pada hewan, ditemukan dalam tubuh manusia juga.

Karena itu, upaya pencegahan cukup sukar dilakukan dengan segera.  Bermula dari Tiongkok, tepatnya di Wuhan, penyebarannya kini telah mewabah ke banyak negara, tak terkecuali negara-negara di Asia Tengara, dan lebih sempit lagi Indonesia. Satu hal yang kurang dari sorotan publik adalah Peran ASEAN, sebuah organisasi kawasan regional Asia Tenggara.

Tujuan integrasi regional sampai terkonfigurasi dalam wujud organisasi adalah tata kelola bersama. Kekompakan negara anggota ASEAN sedang diuji. Jika tidak cepat tanggap, dimensi ekonomi, sosial, dan politik benar-benar sedang terancam karena ketidakstabilan kondisi manusia sebagai instrumen utama penggerak di dalamnya.

Sejak 21 Februari lalu, ASEAN dan Tiongkok mengadakan sebuah pertemuan di Laos untuk membahas isu dan solusi atas wabah Virus Corona. Pada pertemuan tersebut, Duta Besar Tiongkok untuk ASEAN, Deng Xijun menyampaikan bahwa pertemuan tersebut adalah bentuk solidaritas dan kepekaan atas isu bersama yang mengancam keamanan manusia (human security).

Tidak ketinggalan, Menteri Retno Marsudi juga menyampaikan keresahannya, serta tantangan yang harus dihadapi jika ASEAN tidak meningkatkan kolaborasi bersama. Setidaknya ada tiga hal yang disampaikan olehnya dalam rangka memperdalam intensitas kerjasama. 

Pertama, pertukaran informasi. Kedua, pembentukan badan khusus yang menangani masalah virus sehingga arus pertukaran informasi dan data terdistribusi dengan baik. Terakhir, memperkuat strategi komunikasi.

Tantangan terberat dalam menjalankan fungsi organisasi adalah jika menyangkut masalah kedaulatan negara, di mana hal itu tergantung dari kebijakan dari negara terkait untuk membuka atau menutup akses dengan dunia luar. Indonesia telah melewati fase ini dengan terbuka dengan kerjasama dengan negara-negara yang membutuhkan bantuan.

Hasil dari kesepakatan itu adalah keterbukaan informasi dan kerjasama melalui beragam aspek kerjasama, yakni pembangunan kapasitas, pembagian informasi, pertukaran teknis dan pelatihan personil. Dengan memanfaatkan beberapa kategori tersebut, langkah setelahnya adalah membangun konsepsi dan tindakan kolektif.

Belum ada bentuk bantuan tertentu yang mengalir sejak pertemuan terakhir tersebut, karena individu negara masih sibuk dengan persoalannya sendiri. Baru pada 8-11 Maret lalu, pembahasan lanjutan dilakukan di Vietnam dalam rangka analisa kemungkinan-kemungkinan dampak penyebaran virus terhadap kekuatan ekonomi negara. Mengingat Tiongkok adalah salah satu basis utama perekonomian di ASEAN. Maka perekonomian ASEAN juga akan terancam seiring collapse nya Tiongkok sebagai mitra utama kerjasama.

Pertemuan ini juga sebenarnya tidak terlepas dari keinginan integrasi ekonomi yang lebih kuat secara regional dan global. Sehingga, jangan sampai, tertutupnya beberapa jalur kerjasama jasa dan perdagangan justru semakin menghambat kerjasama ekonomi, terlebih saat perang dagang China dan Amerika masih berkecamuk.

Sejak pertemuan-pertemuan yang diadakan, belum lagi respon secara bilateral antarnegara, seperti narasi keterbukaan Indonesia memberi bantuan untuk ASEAN, dan baru-baru ini kesepakatan Singapura untuk memberikan bantuan kepada Indonesia telah berlaku. Bantuan fasilitas telah masuk ke Batam berupa alat pelindung diri (APD). Namun, hal itu masih belum cukup.

Virus Corona mulai tersebar sejak Desember tahun lalu. Bahkan ketika penyebaran semakin meluas, baru pada Februari dan Maret tahun ini ASEAN mengupayakan integrasi. 

Seharusnya ASEAN sebagai wadah yang mengakomodasi negara anggota sudah mengupayakan tindakan preventif jauh-jauh hari, karena ini bukan kali pertama ASEAN dan Tiongkok menghadapi fenomena yang hampir serupa. Misalnya pengalaman dalam menghadapi Virus Severe Acute Respiratory Syndrome (Sars) yang berlaku sejak 2003 melalui Joint Statement yang diadakan di Thailand, ebola, dsb. 

Setidaknya, ASEAN memiliki tiga pilar utama, yakni ekonomi, politik keamanan, dan sosial budaya. Khusus untuk klaster kesehatan bernama The Healthcare Services Sectoral Working Group (HSSWG) masuk dalam pilar sosial dan budaya. Namun masih belum terdengar oleh publik bentuk solusi nyata apa yang ditawarkan pada negara-negara anggota, sehingga ASEAN terkesan kurang maksimal. 

Serangkaian informasi di atas membuat penulis sampai pada kesimpulan bahwa dalam kondisi penyebaran Virus Corona, kerjasama masih seputar pertukaran informasi saja. Masih belum ada tindakan konkret yang benar-benar bisa dilakukan. 

Hal ini semakin dipertegas dengan beberapa pernyataan Indonesia yang mempropagandakan perlunya penguatan kerjasama, dan keterbukaan negara dalam tatanan regional dan global dalam menyikapi Corona. Artinya, integrasi kawasan masih terpecah-pecah dalam batas personal dan bilateral saja.

Jika beragam unsur, baik negara, organisasi, dan aktor non-negara menjalin intensi yang lebih erat, penanganan preventif tentu akan mampu mengurangi dampak ke depan. Tata kelola keamanan regional, harus digerakkan sesegera mungkin, meskipun secara nasional atau bilateral dirasa cukup bisa mengatasi persoalan ini.

Salah satu cara efektif untuk menjembatani setiap negara pada saat ini memang badan khusus penanganan Corona. Karena itu, penulis mengafirmasi kesetujuan dengan penyampaian dan rasionalisasi dari menteri luar negeri Indonesia untuk mendirikan badan khusus tersebut.

Meskipun kabarnya virus ini tidak akan bertahan lama, tetapi tindakan nyata sedini mungkin memang harus segera ditingkatkan. Sehingga, secara teknis dan substantif, solusi terhadap penyebaran yang kian meluas dapat terjamah melalui tata kelola keamanan bersama.