Fenomena lokal

Fenomena yang berarti kejadian, merupakan kacamata baca dalam melihat realitas. Melalui kejadian-kejadian sekitar, baik aktivitas keilmuan, kultur, budaya dan lainnya, realitas bisa ditafsirkan. Pembacaan masa depan bisa dilihat melalui fenomena sekarang istilah ilmunya adalah futuristik.

Tradisi keilmuan yang semakin menurun dari tahun ke tahun seperti diskusi, baik kegiatan maupun tema pembahasan dan kualitas peserta, prosentasenya 50% ke bawah. Terlihat dari tema misalnya, iman: warisan atau original?, pendidikan karakter sebagai pengembang peserta didik dan tema-tema ringan dan mengulang – menurut penulis – lainnya.

Sudah saatnya melihat keadaan Indonesia dan percaturan pemikiran, politik, dan ekonominya. Pengertian serta pemahaman terhadap kondisi demikian mengindahkan adanya kreativitas dalam hal apapun, tidak lagi hanya sekadar mengulang.

Penyesuaian tema dengan problem yang sedang didera Bangsa Indonesia lebih diperlukan ketimbang hanya sekedar mengulang tema-tema yang sudah lalu. Dengan kata lain, kajian normativitas (teks) perlu diimbangi dengan kajian historis (konteks).

Intensitas kegiatan diskusi juga tidak begitu banyak dan sering, berbeda dengan zaman dahulu. Sebagaimana wawancara penulis dengan salah satu angkatan didik pertama di perguruan tinggi penulis tempati. Dimulai setelah maghrib dan selesai lebih kurang pukul 03.00. Setiap hari diskusi berjalan. Dilanjut kegiatan diskusi yang bernama Kaki Langit, yang dipelopori kakak kelas dua tahun penulis.

Setiap hari ahad dan sabtu, mulai jam 22.00-12.30 an. Sedangkan hari ini diskusi hanya berjalan di kampus, itu pun dengan intensitas sedang, dua minggu sekali. Melihat kegiatan keilmuan yang semakin menurun, tidak menutup kemungkinan, bahkan bisa dipastikan kualitas anak bangsa akan kalah dipercaturan pemikiran dunia.

Hal ini bisa dibandingkan dengan Barat. Sebagaimana informasi yang penulis dapat melalui mata kuliah Prof. Dr. M. Amin Abdullah yang mengatakan kajian filsafat sudah diberikan di tingkat pendidikan madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar. 

Bukan dengan stigma negatif yang melekat mungkin juga akut dalam alam pikiran orang-orang di sekitar penulis, di mana background study-nya tidak bersentuhan sama sekali dengan filsafat melainkan pandangan positif terhadap filsafat membuat dunia Barat berani memberikan mata kuliah filsafat terhadap anak usia dini, alasannya hanya untuk meningkatkan daya pikir atau nalar peserta didiknya.

Perbandingan kegiatan diskusi dengan kajian filsafat memiliki titik persamaan dalan nilai fundamentalnya. Filsafat mengajarkan manusia untuk berpikir secara mendalam dan bersikap skeptis terhadap tatanan yang sudah berlaku, – ini hanya sedikit nilai fundamentalnya, karena masih banyak lagi – begitu juga dengan diskusi yang mengajarkan pesertanya untuk memiliki pemikiran dan pemahaman yang lebih mendalam dengan cara membenturkan pemahaman satu sama lain antar peserta diskusi.

Pengejawantahan Idealitas Bangsa

Satu dari sekian banyak fenomena sosial yang menggelisahkan pikiran dan hati, menuntut adanya refleksi bagi setiap pribadi yang sadar dan masih memiliki commonsense. Bertahun-tahun lalu Bangsa Indonesia yang terjajah resah dengan penderitan fisik maupun sisi kemanusiaan lain. Melalui langkah-langkah panjang mengidealkan evolusi bagi peradaban.

Perjuangan penuh darah dan pertaruhan jiwa dicurahkan agar idealitas kemerdekaan terwujud, sabar dan continue menjadi teman sejati semangat perjuangan menuju kemerdekaan. Lantas, relakah para pendahulu melihat konstruk sosial yang penulis gambarkan di atas? Ijinkan penulis merekonstruksi imajinatif perasaan para pendahulu kita. Menangis dan meratapi nasib anak cucunya yang semakin menurun kualitasnya adalah gambarannya.

Meminjam istilahnya Berger, terbentuknya – karakter – individu atau masyarakat secara evolutif terdapat tiga dimensi yang saling mempengaruhi, eksternalisasi, obyektivikasi, dan internalisasi. Proses eksternalisasi muncul dari pihak individu atau masyarakat ke ranah publik, istilah lainnya melakukan eksistensialisasi – baik berupa nilai maupun tindakan.

Obyektivikasi terjadi karena proses eksternalisasi yang dimunculkan kemudian dibaca atau dipahami orang lain. Internalisasi terjadi setelah obyektivikasi diresapi oleh pembaca atau pengamat. Simulasi masalahnya sebagai berikut. Komunitas atau indvidu yang melakukan eksternalisasi berupa diskusi atau membaca buku akan menjadi obyektivikasi bagi yang lain. Kegiatan diskusi dan membaca akan dilihat atau diamati oleh kelompok atau individu lain.

Setelah itu masuklah nilai-nilai diskusi atau membaca pada komunitas atau individu yang mengamati fenomena sosial demikian. Pendek kata, konstruksi sosial demikian harus dimulai bagi yang bisa memulainya – bukan malah saling menunggu – agar terjadi imitasi bagi yang lain. Sosiologi juga mengidentifikasi perubahan yang terjadi dalam proses sosial, ada lima proses: identifikasi, imitasi, sugesti, empati, dan simpati.

Gejala sosial yang merusak seperti malas, pengangngguran, serta gejala-gejala lain yang tidak produktif harus didiagnosa agar segera mendapat obatnya. Ada banyak ilmu untuk membacanya, seperti sosiologi yang sedikit penulis singgung di atas. Selain itu, ada antropologi untuk membaca sejarah peradaban manusia, juga ada fenomenologi yang melihat dan memahami struktur manusia secara lebih dalam.

Sisi lain yang tak kalah penting adalah normativitas, di mana banyak teks-teks keagamaan yang menggambarkan kerusakan bangsa sehingga peradabannya runtuh tak tersisa. Seperti cerita-cerita dalam teks sakral al-Qur’an yang menceritakan kerusakan kaum ‘Ad dan Tsamud.

Diskusi secara intens akan membantu seseorang memahami lebih dalam, membaca merupakan teman wajib sebelum diskusi dilakukan. Memahami kembali cita-cita dan perjuangan bangsa ini akan menumbuhkan kesadaran signifikan.

Meminjam istilah Ali Syari’ati, bahwa manusia akan bertindak sesuai dengan ideologinya. Bangsa Indonesia memiliki ideologi Pancasila, di mana 5 butir bunyi Pancasila menggambarkan idealitas bangsanya.

Keyakinan kepada Dzat tertinggi merupakan nilai utama, sebab tidak bisa dipungkiri keyakinan yang dimiliki Bangsa Indonesia memang multi-religius. Membiarkan masyarakat memeluk agama sesuai keyakinannya adalah penghargaan tertinggi terhadap Pancasila.

Kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab adalah cita-cita Indonesia agar sikap masyarakat yang multi-etnis ini bersikap adil terhadap siapa saja, tidak pandang bulu. Beradab, memiliki tingkah laku yang menjunjung tinggi dan mengamalkan norma-norma yang berlaku di setiap daerah.

Persatuan Indonesia sebagai cita-cita masyarakat yang bhinneka tunggal ika. Tidak terpecah belah, baik disebabkan masalah internal maupun eksternal.

Poin keempat yang berbunyi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, mengandaikan pemimpin yang bijaksana, selalu bermusyawarah bukan otoriter dalam menentukan peraturan-peraturan.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mengindikasikan kesejahteraan harus diterapkan dan menjadi tujuan utama bagi tatanan sosial-masyarakat Indonesia.

Internalisasi nilai-nilai pancasila harus intens dilakukan dengan cara melakukan kajian atau diskusi secara continue. Kesadaran tidak muncul secara alamiah melainkan seringnya hati dan fikiran bersentuhan dengan nilai-nilai tersebut.

Kondisi pemuda – yang digaungkan sebagai penerus pendahulu – yang tergambar secara singkat dari fenomena yang penulis jumpai harus ditangani terlebih dahulu. Dalam kacamata fenomenologi, manusia memiliki pandangan dan pemahaman yang berbeda terhadap realitas yang sama, sedangkan psikologi mengidentifikasi bahwa faktor eksternal, baik biologis maupun kondisi batin sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang.

Setelah melakukan diagnosa dengan beberapa pendekatan tersebut, taraf selanjutnya adalah menginternalisasikan nilai-nilai pancasila sebagai ideologi bangsa dengan cara melakukan tajdid (pemahaman secara nilai) bukan tatbiq (penerapan secara simbolis) agar struktur masyarakat tidak tercerabut dalam proses internalisasi.