Mei 2018, Indonesia diramaikan dengan berbagai aksi terorisme. Setidaknya ada 5 kejadian, yaitu serangan terhadap Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Selasa (15/05); ledakan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/05); ledakan bom di rusunawa Wonocolo Sidoarjo, Minggu (13/05); ledakan bom di Polrestabes Surabaya, Senin (14/05); dan penyerangan Mapolda Riau, Rabu (16/05).

Berbagai aksi teror di atas tentu membuat kita tidak nyaman dalam beraktivitas, terlebih aksi teror tersebut menyasar ruang-ruang publik tempat berkumpulnya banyak orang dan menjelang bulan Ramadhan. Sehingga, sangat mungkin aksi ini sengaja dilakukan agar masyarakat tidak nyaman menjalankan ibadah Ramadhan, atau keyakinan pelaku akan dapat meraih surga dengan malakukan ‘jihad’ menjelang bulan penuh pahala itu.

Aksi tebar teror semacam ini bukan hal yang baru. Sejarah Islam mencatat, pernah ada beberapa kelompok penebar teror, bahkan mulai dari masa Khulafaurrosyidin.

Sebutlah Khawarij, kelompok yang muncul pada masa khalifah Ali bin Abu Thalib ini menebarkan teror di kalangan umat Islam saat itu hingga terbunuhnya khalifah Ali. Selain itu, muncul juga kelompok Assassin di Iran, Irak, dan Suriah sepanjang perang salib yang dimulai pada 1095 masehi.

Merebut Peradaban dengan Teror

Assassin merupakan sebuah kelompok pecahan dari Syi’ah Isma’iliyyah yang dipimpin oleh Hasan al-Shabah, keturunan Yaman yang menghabiskan hidupnya di Iran. Kelompok ini melancarkan serangan dengan menyamar, menyusup, dan membunuh kelompok yang berseberangan ideologi dengan mereka, baik dari kalangan sipil, pemerintah, maupun ulama-ulama Sunni.

Dari kalangan pemerintah, yang menjadi korban kelompok ini adalah Nizam al-Mulk (perdana menteri Dinasti Saljuq, w. 1092), al-Amir Bi-Ahkamillah (Khalifah Fatimiyah, w. 1130), dan al-Mustarsyid (Khalifah Abbasiyah, w. 1135). Selain itu, di antara ulama Sunni yang menjadi target utama adalah Imam al-Ghazali, meskipun usaha pembunuhan itu gagal.

Dalam upaya perekrutan calon pembunuh, kelompok yang berpusat di Iran ini dibangun loyalitasnya kepada para pemimpin mereka sehingga setia mengorbankan jiwa dan raganya. Para ‘kader’ pembunuh ini diambil dari desa sekitar benteng Assassin. Mereka diasuh sejak kecil dan ditanami doktrin-doktrin oleh pemimpinnya. Dari proses panjang kaderisasi itulah yang menjadikan para Fida’i atau kader pembunuh siap mati dalam menjalankan misi mereka.

Uniknya, kelompok Assassin ini biasanya beraksi di tengah keramaian. Sehingga, pada umumnya lokasi pembunuhan mereka berada di masjid, pada tengah hari dan hari Jum;at sebagai hari favorit mereka. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menimbulkan ketakutan pada masyarakat.

Upaya yang dilakukan Assassin adalah semata untuk mempertahankan pemerintahan Ismailiyyah versi mereka. Namun sayang, usaha tersebut sia-sia. Justru kini kelompok pembunuh itu tersingkir dari narasi sejarah karena cara-cara keji mereka sendiri.

Peradaban dengan Tradisi Ilmu

Berbalik dengan apa yang dilakukan Assassin, kelompok Sunni justru membangun masyarakatnya dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali dan Nizam al-Mulk.

Al-Ghazali berusaha mengembalikan spiritualitas dalam dunia Islam melalui Tasawwuf. Penyucian jiwa menjadi hal yang sangat penting bagi seorang muslim. Sedangkan Nizam al-Mulk membangun madrasah Nizamiyyah sebagai pusat pendidikan saat itu. Dan al-Ghazali menjadi salah satu guru besar di sana.

Jihad ilmiyah ini yang kemudian melahirkan tokoh pembaru dalam dunia Islam seperti Nurudin Zanki dari dinasti Zengi dan Sholahuddin al-Ayyubi atau Saladin, seorang muslim Kurdi yang mendirikan dinasti Ayyubiyah dan berpengaruh dalam perang Salib.

Kebijaksanaan Sholahuddin dalam menaklukkan Jerussalem mengandung simpati dari kalangan barat, karena ia tidak membunuh rakyat sipil, perempuan, dan anak-anak. Yang ia perangi hanya pasukan dan tentara resmi yang ikut dalam peperangan.

Lane-Poole, seorang sejarawan barat mengagumi sikap Sholahuddin dalam mengatur pasukannya agar menaati disiplin dalam peperangan. ''Tentaranya sangat bertanggung jawab, menjaga peraturan di setiap jalan, mencegah segala bentuk kekerasan, sehingga tidak ada kedengaran orang Kristian dianiaya.''

Berbeda dengan kaum muslimin, upaya tentara Salib menaklukkan Baitul Maqdis pada 1099 dipenuhi dengan aksi kekejaman dan penuh teror. Orang Islam yang tak bersenjata disiksa, pembakaran massal, rakyat sipil dihabisi, sehingga jalanan Jerussalem dipenuhi dengan darah umat Islam.

Adapun kisah kekejaman Sholahuddin, tidak ada seujung kuku dari kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Salib dalam menaklukkan Jerussalem. Pembantaian terhadap masyarakat sipil muslim, memerkosa para wanita, dan membunuh anak-anak tak berdosa sudah menjadi menu wajib tentara Salib. 

Sedangkan dari pihak Saladin, kalaupun ada kekejaman yang dilakukan pasukannya, itu tidak lain hanya diarahkan kepada tentara pasukan salib. Sehingga, tidak layak disebut kekejaman karena semua dilakukan saat peperangan sebagaimana mestinya.

Indonesia dan Pesantren

Pesantren memiliki posisi yang sangat strategis di Indonesia. Tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, namun juga sebagai agent of change NKRI menuju negara kesatuan yang adil dan beradab.

Keberadaan pesantren yang sudah ada sejak berabad-abad silam, menegaskan bahwa pesantren merupakan pendidikan yang orisinal dari Indonesia. Kecintaan kaum pesantren kepada negeri ini tidak layak diragukan lagi. Semboyan hubbul wathon minal iman seolah menegaskan itu semua dengan didukung oleh sumbangsih besar kaum sarungan terhadap negeri ini.

Aksi heriosme Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari dengan mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad, disambut dengan semangat perang oleh para santrinya untuk melawan penjajah Belanda, menjadi salah satu bukti yang tidak terbantahkan tentang heroisme kaum sarugan di balik layar kemerdekaan RI. Hadratusy Syaikh juga mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), dibantu oleh Kiai Wahab Hasbullah, seorang kiai yang pernah menjadi Ketua Laskar Mujahidin (Hizbullah) dan pendiri Organisasi Pemuda Islam (Nahdlatul Wathan).

Di Yogyakarta, seorang kawan seperguruan Hadratusy Syaikh juga turut berkiprah, yakni Muhammad Darwis atau Kiai Ahmad Dahlan. Beliau berjuang melawan penjajah dengan mendirikan sebuah organisasi Muhammadiyah yang hingga kini terus berkiprah untuk bangsa.

KH. Zaenal Mustafa, seorang pemuda berusia 26 tahun yang mendirikan pesantren Sukamanah di Tasikmalaya pada tahun 1927. Beliau sangat getol melancarkan serangan kepada para penjajah bersama santri-santrinya. Ia juga memimpin pemberontakan kepada Jepang pada 1944. Atas aksinya yang membahayakan kekuasaan penjajah, ia kerap keluar-masuk penjara pada 1941-1942.

Nama lain yang tidak asing di telinga kita adalah Raden Mas Antawiryo atau Pangeran Diponegoro yang memimpin Perang Jawa atau Perang Diponegoro melawan Belanda, 1825-1830. Kiai Noer Ali, pendiri Pesantren at-Taqwa Bekasi yang berkiprah memimpin Perang Jawa atau Perang Diponegoro melawan Belanda, 1825-1830; mendirikan Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah bersama Jenderal Oerip Soemohardjo; memimpin gerilya laskar Rakyat Bekasi Hizbullah di Karawang dan Bekasi, 1947-1948.

Selain melakukan perlawanan secara frontal kepada penjajah pada masa peperangan, para tokoh Islam juga berjasa besar dalam terbentuknya NKRI melalui para tokoh yang bergabung dalam BPUPKI telah mengambil langkah penting dengan mementingkan persatuan Indonesia di tengah kebinekaan daripada menuruti egiosme mendirikan negara Islam.

Melihat besarnya kiprah kaum sarungan pada republik ini, teramat lucu jika kemudian ada sebagian kalangan yang menuduh pesantren sebagai sarang penyemaian ideologi terorisme dengan berbagai argumennya. Tidak menutup kemungkinan, berbagai tuduhan yang dilancarkan beberapa kelompok itu adalah bermotif untuk memecah belah umat Islam sendiri.

Fakta menunjukkan bahwa pesantren justru sangat getol melawan terorisme ala-ala penjajahan, anti kekerasan, sangat menjunjung tinggi tradisi keilmuan dengan sangat baik. Sehingga, ada baiknya kita renungi kembali pernyataan Prof. Mukti Ali yang menyatakan bahwa tidak pernah ada ulama yang lahir dari lembaga selain pesantren.

Dengan menjamurnya pendidikan pesantren di Indonesia, tentu akan berdampak pada pola pikir generasi muda Indonesia dan pola kehidupan sosial, yang tentunya akan sangat tidak sepaham dengan aksi jihad bunuh diri yang belakangan terjadi. Ketidaksepahaman ini menegaskan bahwa Indonesia dalam menegakkan sebuah peradaban, bukanlah negara yang menjunjung metode Assassin, tapi menggunakan tradisi keilmuan sebagaimana yang ada di pesantren.

Cukuplah kelompok Assassin masa lampau menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa terorisme tidak akan pernah membawa kemakmuran, kedamaian, dan keharmonisan. Peradaban yang makmur asasnya adalah pendidikan yang baik, yang mendidik manusia menjadi beradab kepada Tuhan dan sesamanya.