Buku Kagum kepada Orang Indonesia merupakan kumpulan esai yang lahir dari tangan budayawan sekaligus pemikir, yaitu Emha Ainun Nadjib atau sering dikenal dengan sebutan Cak Nun. Buku ini berisi tentang kekaguman Cak Nun kepada orang Indonesia. Cak Nun mengajak kepada pembaca bahwa Indonesia adalah bangsa yang unggul dari segi tanaman, sumber pangan sampai tarik suara, dan lainnya.

Buku ini adalah bagian oleh-oleh Cak Nun yang berisikan pandangan, harapan, bahkan juga parodi tentang sisi-sisi kualitatif manusia Indonesia. Sesungguhnya dalam “benak” Cak Nun, manusia Indonesia memiliki banyak potensi keunggulan, walaupun mungkin potensi itu kurang didukung oleh budaya dan struktur sosial politik yang melingkupi mereka.

Bakat orang Indonesia luar biasa. Siswa-siswa sekolah langganan juara olimpiade sains. Pekerja-pekerja Indonesia di luar negeri umumnya lebih disayang perusahaan tempat mereka bekerja karena dikenal tekun dan gigih, meski bukan berarti tak ada masalah yang dihadapi mereka di sana. Orang-orang Indonesia bakat seninya bagus. Tarik suara dengan gaya bangsa lain pun jago. Mirip apa yang dikatakan pak Mochtar. Masih banyak potensi lain.

Buku ini merupakan kritikan terhadap Mochtar Lubis yang menulis tentang sepuluh sifat orang Indonesia pada tahun 1977, kebanyakan bernada negatif. Ada satu dua yang positif, yaitu artistik. Maksudnya orang Indonesia itu suka seni. Kemudian penyair Taufiq Ismail juga pernah menulis puisi yang berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

Dalam buku tersebut, Cak Nun menjelaskan bahwa Mesir menciptakan teknologi perkebunan karena memimpikan lingkungan hidup seperti di Indonesia, sehingga mereka mampu menjadi eksportir apel, anggur, dan mangga. Sementara Indonesia yang subur makmur tanahnya tentu saja tidak perlu menjadi eksportir seperti itu, karena toh bisa menanam anggur, apel, dan mangga kapan saja.

Bahkan, Indonesia menunjukkan kepada dunia mampu menjadi importir beras meskipun lahan persawahan dan peradaban padi suku bangsa Jawa tidak ada tandingannya di dunia (hlm. 2).

Bung karno dulu berkunjung ke Mesir membawa biji mangga yang kemudian menjadi salah satu sumber penghidupan penduduk Mesir. Sekarang omzet penghasilan mangga di Indonesia kalah dari Mesir karena memang Indonesia tidak perlu ngoyo, sebab kita sudah kaya raya (hlm. 3).

Kita bangsa Indonesia bukan hanya bangsa yang unggul, tapi lebih dari itu: dalam konteks evolusi pemikiran, kebudayaan, dan peradaban, kita adalah bangsa garda depan, avant garde nation, yang derap sejarahnya selalu berada beberapa langkah di depan bangsa-bangsa lain di muka bumi (hlm. 9).

Kalau kita bilang, “Negara kita sedang krisis,” itu semacam tawadlu sosial, suatu sikap yang menghindarkan diri dari sikap sombong. Kalau pemerintah kita terus berutang triliunan dolar, itu strategi agar kita disangka miskin. Itu taktik agar dunia meremehkan kita.

Karena kita punya prinsip religius bahwa semakin kita direndahkan oleh manusia, semakin tinggi derajat kita di hadapan Allah. Semakin kita diperhinakan oleh manusia di bumi, semakin mulia posisi kita di langit (hlm. 12).

Memang salah satu kehebatan bangsa Indonesia adalah kesanggupannya menciptakan citra di mata dunia bahwa dirinya dekaden, bodoh, kacau miskin, mental buruk, dan moral rusak. Itulah pendekar sejati (hlm. 19).

Untuk menjadi besar, bangsa Indonesia tidak memerlukan kepandaian. Bodoh pun kita tetap besar. Dengan bekal mental kerdil  pun kita tetap besar. Dengan modal moralitas yang rendah dan hina pun bangsa kita tetap bangsa yang besar. Oleh karena itu, kita tidak memerlukan kebesaran karena memang sudah besar. (hlm. 21)

Negara-negara Arab sangat takut kehilangan anak-anak Indonesia dan posisi itu tak bisa digantikan oleh pemuda-pemuda Filipina, Bangladesh, Pakistan, India, atau manapun. Ini berarti orang Indonesia sangat dibutuhkan di kancah dunia (hal 35). Mereka banyak yang direndahkan di negeri orang, tetapi justru itu yang kita cari. Direndahkan oleh manusia adalah kemuliaan di hadapan Tuhan (hlm. 36).

Jumlah orang pintar dan enak mengaji di Indonesia bisa seratus kali lipat dibanding di Arab Saudi. Suruh pemuda pemudi di kampung, di kafe restoran dan warung, suruh nyanyi jazz, blues, country cengkok negro terbaru, kasidah Arab, klasik, modern atau apa saja. Namun, coba minta satu penyanyi Amerika menyanyikan “Es Lilin” atau “Yen ing Tawang Ono Lintang” (hlm. 39).

Orang Indonesia bisa semua cengkok, tetapi orang Arab hanya bisa cengkok Arab. Orang kulit putih cuma bercengkok kulit putih yang lurus-lurus dan kaku-kaku. Orang Negro bisa mengeluarkan suara yang melilit-lilit, tetapi derajat dan sudutnya berbeda dengan Jawa dan Arab. Orang Arab tidak akan bisa membawakan lagu Negro dan begitu sebaliknya.

Namun, orang Indonesia bisa melantunkan lagu-lagu Arab, Negro, Barat, Tiongkok, dan lain-lain. Blues oke, rock juga oke, dangdut apalagi. (hal 54) Suatu hari mudah-mudahan ada pestival musik internasional yang setiap grup harus membawakan satu lagu Jawa, satu lagu Sunda, satu lagu Jazz, satu lagu Arab klasik, satu lagu Arab modern, dan satu lagu Afrika Utara, dan saya kira orang Indonesia-lah yang bakal menang.

Sebab, orang Indonesia bisa menyanyikan lagu apa saja. Jumlah qari di Indonesia mungkin seratus kali lipat dari jumlah qari di negara-negara Arab. Jadi kalau kita mau mencari orang Indonesia yang mumpuni membawakan lagu-lagu Arab sampai yang paling canggih sekalipun, itu bertebaran di mana-mana. Namun, kalau mencari orang Arab yang sanggup menyanyi Jawa itu sulitnya setengah mati (hlm. 55).

Itulah sebabnya orang Indonesia berbakat menjadi pemimpin dunia. Kalau dalam bahasa sepak bola, bangsa Indonesia berpotensi menjadi kapten kesebelasan dunia.

Buku ini dipaparkan dengan bahasa yang mudah dipahami, Cak Nun mengajak kepada para pembaca untuk mengakui bahwa bangsa kita itu adalah bangsa yang unggul dari bangsa yang lain. Keunggulan tersebut bisa kita lihat dari apa yang telah dipaparkan di atas.

Judul: Kagum Kepada Orang Indonesia
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penyunting: Arif Koes Hernawan
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Kedua, Maret 2016
Halaman: 75 hlm
ISBN: 978-602-291-133-3