“Agama adalah candu masyarakat.”

Ungkapan di atas adalah sebuah kritik keras dari seorang filosof, Karl Marx terhadap eksistensi agama-agama di dunia. Dengan keberadaan agama, manusia berpotensi memutlakan kebenaran dari agama yang dianutnya dan mendiskreditkan agama lain. Fanatisme agama juga menjadi pemicu dari banyak tindakan irasional.

Anggapan Marx ini memang benar. Hal ini terbukti lewat sejarah. Beberapa nestapa manusia  dilatarbelakangi oleh fanatisme agama. Fanatisme agama, dengan menganggap diri paling benar menjadi sebab pertama dari banyak nestapa dan tindakan diskriminatif.Apa yang dikritik oleh Marx ini kini disebut dengan radikalisme negatif.

Dalam konteks bangsa Indonesia, paham Marx ini harusnya tidak dapat digunakan. Bangsa Indonesia, sejak lahirnya sudah menjadi bangsa yang plural. Pluralitas bangsa Indonesia ada dalam banyak hal, seperti agama, suku, dan budaya. Bangsa ini lahir dengan membawa identitas plural bersamanya.

Dalam susunan Pancasila jelas dikatakan dalam sila pertama, “Ketuhanan yang maha esa”. Ideologi ini sudah menjiwai bangsa ini. Negara Indonesia adalah negara beragama, sebab oleh dasar negara ini. Namun, apabila gagasan ini digunakan sebagai kritik atas praktek hidup umat beragama, maka saya kira tepat.

Kehidupan umat beragama kini agaknya hanya menunjukan formalisme agama saja. Orang berhenti pada apa yang disebut dengan menjalankan kewajiban agamanya saja. Orang berlomba menjalankan kewajibannya agar kelihatan sebagai umat beragama yang baik. Inilah  penerapan yang salah, ketika orang terjebak dalam formalisme agama, maka agama sungguh menjadi candu masyarakat.

Setiap individu harusnya beranjak ke nilai yang lebih tinggi, yaitu spiritualisme agama. Spiritualisme agama adalah menjalankan nilai-nilai keagamaan dalam realitas hidup sehari-hari. Nilai-nilai agama harus benar-benar menjiwai prilaku, sikap, dan cara hidup setiap umat beragama.

Formalisme ini menggerogoti spiritualitas agama yang seharusnya dihayati dengan lebih baik. Orang tidak hanya terjebak dalam formalisme agama, tetapi juga terjebak dalam konsep bahwa agama hanya berhenti pada menjalankan kewajiban beragama saja. Dalam hal ini maka benarlah apa yang dikatakan oleh Marx, bahwa agama adalah candu bagi masyarakat.

***

The founding fathers telah mendirikan bangsa ini di bawah ideologi Pancasila. Pancasila adalah hukum tertinggi di negara ini. Pancasila menjadi sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Kedudukan Pancasila di negara ini sangatlah tinggi.

Pancasila selain sebagai ideologi bangsa juga merupakan kontrak sosial atau sebuah perjanjian luhur. Pancasila disebut sebagai kontrak sosial, karena inilah yang menyatukan sebegitu banyak suku bangsa di Indonesia. Ia mengikat pluralitas dalam ikatan perjanjian yang kuat dan luhur.

Pancasila menyatukan berbagai macam perbedaan. Pancasila adalah obat pluralitas. Pancasila adalah jawaban dari berbagai macam persoalan pluralitas.

Kita tau bahwa perjuangan penetapan Pancasila sebagai dasar negara bukanlah hal yang sederhana. Dalam sejarahnya, perdebatan antar para pendiri bangsa menjadi penyedap rasa dari terbentuknya Pancasila.

Pancasila terbentuk dari banyak rasa. Banyak pemikiran yang memberikan gambaran untuk terbentuknya dasar negara bagi kemerdekaan Indonesia masa itu. Kemudian sebagai kristalisasi dari banyak pendapat ini, maka terbentuklah Pancasila sebagai ideologi negara.

Masyarakat Indonesia hidup dalam keberagaman. Keberagaman ini menjadi identitas bagi bangsa Indonesia. Demikian, keberagaman ini menjadi kekayaan bagi bangsa ini.

Keberagaman adalah kekayaan bagi bangsa Indonesia. Untuk itu bangsa ini perlu sesuatu untuk mengolah kekayaan itu. Dalam hal ini, Pancasila adalah alat untuk mengolah kekayaan itu. Maka konsekuensinya adalah setiap orang harus menerima dan menghayati Pancasila sebagai asas tunggal pemersatu.

Lebih jauh lagi, Pancasila tidak hanya sebagai perjanjian luhur, tetapi juga spirit bangsa. Nilai-nilai Pancasila harus dihidupi dalam ruang publik. Ruang publik adalah tempat di mana semua orang dari berbagai macam suku, agama, ras, dan golongan hadir, berkegiatan, berinteraksi bersama dan bermusyawarah untuk mengejar cita-cita bersama, yaitu kebaikan bersama.

***

Agama sebagai apa yang diimani oleh mayoritas masyarakat Indonesia juga hadir dalam ruang publik bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia diberi kebebasan beragama. Setiap orang bebas memeluk agama dan menjalankan kewajiban agama masing-masing.

Dalam masing-masing agama tentu ada banyak nilai baik yang ditawarkan. Hal ini tentu terlepas dari formalisme agama yang disampaikan di atas. Spiritualitas agama menjadi kekayaan bagi masing-masing individu beragama. Spiritualitas agama inilah yang harus disampaikan dalam kehidupan bersama di “rumah bersama” ini.

Spiritualitas ini hendaknya menjadi sesuatu yang menjiwai kehidupan individu dalam kebersamaannya dalam ruang publik. Apabila ini dihidupi sungguh, maka saya kira segala bentuk fanatisme agama tidak akan hidup di bumi ini.

Lebih jauh lagi, saya kira spiritualisme agama akan menghantar individu menjadi individu yang sosialis. Sosialitas di sini tidak dimengerti sebagai kebersamaan badani saja, melainkan juga menjadi sesama bagi sesama. Dengan demikian maka akan ada banyak orang yang terpanggil dalam aksi-aksi kemanusiaan.

Agama adalah pondasinya. Individu beragama punya nilai-nilai agama sebagai titik tolak dalam segala perbuatannya. Akhirnya apabila spiritualisme agama benar-benar terwujud dalam ruang publik, bersamaan dengan nilai-nilai Pancasila, maka nilai-nilai kemanusiaan pun akan terwujud. Inilah peran agama dalam panggilan kemanusiaan.