Stigma terhadap politik zaman ini menjadi sebuah anomali yang radikal mereduksi paradigma dan sikap individu. Melihat banyaknya penyimpangan pada dunia politik membuat sebagian besar responden memilih untuk tidak aktif dan terlibat langsung maupun tidak langsung pada konteks ini tanpa terkecuali anak muda. Hal ini yang merekonstruksi proses-proses politik yang seyogianya berorientasi pada tatanan progesifitas.

Sebuah bangsa yang besar tentunya memiliki sumber daya manusia yang cukup besar pula. Dimulai dari angka kelahiran yang berimbang dan juga produktivitas dalam rangka regenerasi sebuah imperium pada bidang politik, budaya, sosial dan ekonomi. Indonesia sebagai salah satu bangsa yang secara historis melahirkan literatur-literatur dinamika politik yang sebenarnya dikonstruksi oleh partisipasi politik kaum muda yang terbilang sukses dalam memobilisir perjuangan-perjuangan filosofis dan fundamental.

Babak baru konstelasi politik Indonesia tidak terlepas dari inovasi pemikiran-pemikiran nasionalis muda.  Diantaranya, dimulai dari pergerakan Budi Utomo, Momentum Sumpah Pemuda hingga klimaksnya pada Reformasi 1998 yang monumental kala itu. Hal ini menandakan bahwa keterlibatan secara historis dunia muda dalam merehabilitasi kehidupan politis bangsa sangat signifikan. 

Pasca reformasi, turbulensi politik semakin dinamis. Bayang-bayang rezim totaliter yang berhasil dengan proyek amnesia sejarah telah mendistorsi paradigma filosofis bangsa secara sistematis, masif dan terstruktur. Sehingga tidak keliru, bahwa dalam konstelasi politik nasional hingga ke daerah, peran pemuda pada konteks ini hanya dalam kategori embrio politis karena terlalu naif untuk melakukan manuver internal maupun eksternal.

Merebaknya paradoks politik manipulatif juga menggeser interpretasi positif berkaitan dengan politik. Diplomasi politik yang serba transaksional juga menambah deretan tendesius terhadap dunia politik serta kedigdayaan dinasti orde baru hingga sampai saat ini menjadi ingatan yang berakar pada pilar nasional. 

Okupasi elitis pada kancah perpolitikan nasional kian masif membentuk poros-poros pertarungan urat saraf level nasional pula. Beberapa skema yang dibangun dalam aplikasinya, memilih sebuah kelas oposisi atau koalisi untuk menjaga komunikasi politik antar kelompok kepentingan. Segmentasi tersebut membuat peran pemuda tereduksi secara tidak langsung.

Perpektif pemuda tentang politik ditanggapi beragam. Implikasinya tidak jauh dari ketidaksuksesan dalam membangun konsistensi terhadap keberpihakan pada kepentingan bersama dan cita-cita yang terdapat dalam
Ideologi. Politisi yang lahir sebagai generasi sebelumnya mempertontonkan citra yang anormatif kepada generasi sesudahnya sehingga politisi muda ikut memainkan perannya layaknya borjuis kelas atas.

Inilah skenario politik tidak terpuji yang akhirnya konstituen muda pun enggan aktif dalam proses-proses yang telah keliru tersebut, bahkan hampir sebagian besar menganggap politik hanya sebagai sarana inklusif dalam rangka melanggengkan kekuasaan temporal yang diinisiasi oleh elit politik.

Bahkan terkadang perselingkuhan terhadap borjuis tersebut dilakukan oleh generasi muda misalnya metode demonstrasi yang dibangun dilapangan adalah pesanan penguasa atau berupa janji-janji untuk keberlangsungan hidup agar kompromi dengan orientasi mutualistik tetap terjaga.

Ideologi kerakyatan yang diproyeksikan sebagai sebuah ekspetasi kebangsaan luntur akibat alienasi pemikiran-pemikiran ala kapital. Lebih mirisnya lagi ideologi bangsa ini diupayakan untuk dapat ditransformasikan kedalam ideologi alternatif yakni ideologi fundamentalis pasar atau ideologi fundamentalis agama dan akibatnya substansi politik bangsa ini serta sumber dayanya pun ikut tergerus seperti mencuaknya isu-isu separatisme yang dibangun oleh salah satunya kelompok santoso, gerakan-gerakan radikalisasi agama dalam bidang sosial-politik serta kapitalisme pada gerakan-gerakan ekonomi-kebudayaan. Inilah usaha-usaha yang menyebabkan segmentasi pada konstruksi paradigma politik nasional hingga daerah yang pada akhirnya tercipta tendesius yang tidak berimbang oleh kaum muda dalam meresponnya.

Dinamika merebak pada tatanan politik kaum muda. Terutama pada tahun-tahun terakhir ini semakin mutakhirnya teknologi pemberantasan korupsi di segala lini berbangsa dan bernegara menyebabkan oligarki koruptor mendidih layaknya jerawat yang telah matang dan siap dihancurkan sehingga mendorong reformasi secara sosial.

Kondisi ini menyeret beberapa politisi muda level nasional yang direpresentasikan diantaranya oleh Anas Urbaningrum (mantan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat yang juga pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia), Andi Malarangeng (mantan Menteri Pemuda dan Olahraga kabinet Indonesia Bersatu Jilid II), hingga terjungkalnya Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho (Politisi Partai Keadilan Sejahtera) dalam kasus bantuan sosial di Sumatera Utara dan beberapa nama lain yang memang menjadi simbol kepemimpinan muda nasional-daerah. Kasus-kasus inilah yang menyebabkan persepsi apatis kaum muda tentang politik koheren pada apolitis dan pada akhirnya politik hanya menimbulkan kegaduhan yang mengesampingkan produktivitasnya.

Fakta-fakta politis tersebut mengantarkan pada sebuah perspektif apakah pemuda merupakan solusi yang terbaik dalam menyuguhkan transformasi politik atau hanya sebagai generasi yang melakukan estafet terhadap perilaku-perilaku anormal politiknya? Atau generasi muda masih dibayang-bayangin oleh kepiawaian politisi senior dalam mengendalikan stabilitas nasional ketimbang politisi muda? Atau inilah ketergantungan variabel muda pada yang tua?

Semuanya kembali kepada dasar berpikir dan sikap dari seorang pemuda menggunakan indera politiknya. Salah satu contoh politisi muda zaman kemerdekaan adalah Tan Malaka. Beliau berhasil menyumbang pemikiran tentang terminologi Republik yang hingga sekarang menjadi bagian dari konstitusi bangsa.

Selanjutnya Semaun (Tokoh muda Sarekat Islam barisan merah) yang juga politisi muda pra kemerdekaan, pemikirannya juga mempengaruhi pola-pola pergerakan dan perjuangan kemerdekaan pada zamannya yang sangat anti pada kolonialisme dan imperialisme. Inilah momentum bahwa keterlibatan Pemuda dalam mendesain negara ini sangat partisipatif dan kontributif serta generasi pra reformasi maupun pasca reformasi merasakannya.

Meskipun pemikiran dan pergerakannya hanya melahirkan pertarungan pada level gagasan-gagasan psikologis kebangsaan namun secara implementatif dapat terinternalisasikan dalam prospek kebijakan-kebijakan nasional.
Berbicara tentang kontraproduktif dari anak muda pada konteks perpolitikan masih terbilang belum mapan.

Padahal banyak inovasi-inovasi yang mengakomodir kesempatan pada generasi muda dalam berpolitik termasuk keterlibatan pada partai politik maupun organisasi kepemudaan, organisasi kemahasiswaa maupun organisasi masyarakat yang berorientasi pada kaderisasi secara sistemik.

Kendati pada umumnya  ruang dan kesempatan tersebut secara kuantitas memadai tidak menjamin dapat merangsang kualitas peran anak muda atau merubah perpektif yang selama ini diciderai oleh aktivitas-aktivitas yang dekonstruktif oleh elit maupun kelompok kepentingan terhadap politik.

Apalagi Indonesia yang telah memasuki situasi darurat kepemimpinan nasional akibat krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap lembaga-lembaga representatif diharapkan pemuda pada dasarnya dibekali pengetahuan dan wawasan politik yang edukatif sehingga manifestasi politik kaum muda tidak dapat dicekoki oleh radikalisme ideologi politik.

Berdasarkan terminologi, politik dengan sederhana diartikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan bersama namun tidak sebatas nomenklatur yang disajikan tersebut. Politik menjadi alat yang cukup efesien dan efektif dalam rangka merawat keberlangsungan sebuah negara secara konstruktif. Tetapi malah dimanfaatkan untuk meregenerasikan rezim kapitalisme kekuasaan dengan dalil kepentingan kelompok adalah kepentingan bersama.

Sepintas jika mengingat sebuah wejangan politik dari Abraham Lincoln (mantan Presiden Amerika Serikat) yang menyampaikan bahwa "Jangan tanyakan apa yang diberikan negara padamu, tetapi tanyakan apa yang telah anda berikan kepada negara" Nah, jika wejangan ini menjadi sebuah referensi idealisme maka tentunya pemuda secara tidak langsung dituntut untuk menasionalisasikan pemikiran, sikap dan perilakunya termasuk pada dunia politik.

Kebutuhan akan peran pemuda sebagai pilar untuk kedaulatan politik nasional tentunya penting untuk lebih bersikap arif dalam merespon konstelasi zaman sekarang. Kebutuhan ini mengisyaratkan bahwa anak muda mesti berjiwa besar dan berpikir progresif untuk menjaga agar anomali pada perpolitikan nasional-daerah tidak merajalela untuk selanjutnya. Fokusnya, paradigma yang dikonstruksikan berorientasi pada gagasan-gagasan kebangsaan dengan mengesampingkan egopolitis masing-masing pemuda maka politik dapat ditransformasi untuk kepentingan bersama.