Pada hari Jumat (22/2/2017) Uskup Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr, membuka Tahun Ekologi di Gereja Sta. Maria Benneaux Lewoleba, Lembata. Pada kesempatan itu, dalam imbauan moralnya, beliau melarang keras para pastor yang mengabdi di keuskupannya agar tidak turun di jalan-jalan untuk berdemo.

Alasan di balik larangan ini yakni pastor hendaknya membangun kerja sama dan kemitraan dengan pemerintah dan komponen-komponennya. Pastor juga harus menggerakkan umat untuk pembangunan bukan untuk turun ke jalan dan melakukan gerakan yang tidak perlu. Pastor harus membangun komitmen untuk membangun daerah bersama-sama dengan pihak terkait dan semua pihak. Singkatnya, di satu pihak, pemerintah dapat bekerja dengan aman dan damai dan di lain pihak, para pastor tidak ikut campur dengan urusan pemerintahan yang bersifat ‘duniawi’.

Meski demikian, larangan ini menyisakan banyak pertanyaan bagi umat yang hadir. Bagaimana mungkin seorang pemimpin Gereja menghendaki ‘para pembantunya’ untuk lari dari ‘realitas’ dunia yang membelenggu? Apakah para gembala umat harus bungkam di tengah realitas ketidakadilan: yang miskin ditindas oleh yang kuat dan berkuasa? 

Apakah agama (Gereja) hanya akan menjadi opium bagi umat seperti dikritik oleh filsuf Karl Marx? Ataukah Gereja mau kembali kepada prinsip konservatifnya bahwasanya Gereja harus menjauhi yang duniawi dan fokus pada yang surgawi? Jika para gembala umat menjadi seperti demikian, quo vadis agama? Bila demikian, pada akhirnya Gereja hanyalah proyeksi diri masyarakat yang menyembunyikan ketidakadilan sosial.

Dalam tulisan ini, penulis memilih para imam katolik (pastor) sebagai kelompok orang yang termasuk dalam ‘daftar’ cendekiawan itu sendiri. Hal ini tentu beralasan, cendekiawan adalah orang-orang yang memiliki sikap hidup yang terus-menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk dapat mengetahui atau memahami sesuatu. Tidak hanya sampai di situ, cendekiawan hendaknya melihat realitas, merasakannya dan merefleksikan realitas dalam hidupnya sehari-hari. Dengan definisi singkat ini, para imam katolik (pastor) adalah juga golongan para cendekiawan.

Tulisan ini sebenarnya bukanlah sebuah perlawanan atau gugatan terhadap pimpinan Gereja lokal (uskup) setempat. Tulisan ini hanyalah sebuah bentuk keprihatinan akan sebuah konsep kekeliruan pemahaman tugas para gembala umat yang harus ‘membumi’.

Penulis memiliki beberapa argumen yang melatari keprihatinan seperti yang ditegaskan di atas. Pertama, Yesus Kristus sebagai teladan para imam; kedua, Imam pasca-Konsili Vatikan II; ketiga, misi sebagai perjuangan demi keadilan; dan keempat, teologi kontekstual.

Yesus Kristus: Teladan Para Imam

Yesus adalah Imam Agung Sejati. Ciri khas dapat dilihat dan ditemukan ketika kita membaca keseluruhan Perjanjian Baru, khususnya keempat Injil. Kristus, sebagai Imam Agung, memberi teladan kepada semua orang agar tidak hanya memerhatikan ritus dan hal-hal kerohanian, melainkan juga mementingkan karya pelayanan praktis khususnya kepada mereka yang menderita. Pertama-tama Yesus menjadi manusia (inkarnasi). Ini merupakan bukti bahwa Allah mau bersolider dengan manusia. 

Bukan hanya itu, Yesus rela mengosongkan diri (kenosis) dan menjadi miskin di antara manusia. Dengan itu, Yesus mau menunjukkan bahwa “yang miskin dan papa” adalah orang-orang yang diprioritaskan dalam pelayanan-Nya. Hal ini menjadi jelas dalam keberpihakan-Nya kepada orang-orang yang menderita, para tawanan, orang-orang buta dan orang-orang tertindas.

Dalam injil Luk. 4:18-19, Yesus ditampilkan sebagai seseorang yang memiliki keberpihakan yang jelas. Perhatian dan keberpihakan Yesus merupakan suatu kepedulian universal bagi kaum terbelakang (miskin) dan terbuang. Keberpihakan Yesus yang jelas dan tegas ini merupakan kunci untuk memahami tindakan dan mukjizat Yesus dalam seluruh narasi penginjil Lukas. Yesus digambarkan sebagai orang yang secara istimewa menaruh perhatian khusus kepada orang miskin dan tertindas dalam tugas perutusan-Nya.

Sebab itu, manifesto misi mesianis yang menggambarkan program perutusan Yesus mengandung pernyataan bahwa Yesus harus membalikkan nasib orang miskin. Upaya pembalikan nasib orang miskin ini menjadi kabar gembira sebab Allah sendiri masuk dan menjadi satu di antara orang miskin dalam diri Yesus. Yesus sendiri mempraktikkan pola hidup miskin misioner yakni mempercayakan kebutuhan hidup harian-Nya pada Allah dan cinta kasih sesama-Nya.

Selain itu dalam narasi empat Injil, kita akan menemukan bahwa Yesus tidak hanya ‘menyingkir ke tempat sunyi untuk berdoa’, tetapi juga ‘menyembuhkan orang-orang sakit’. Titik kulminasi pelayanan Yesus kepada manusia yakni dengan menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan di kayu salib demi menebus dosa manusia. Inilah bukti pelayanan Yesus yang paling sempurna. Ia tidak hanya berkhotbah dan memberikan ‘motivasi’ iman, tetapi juga “turun dari atas gunung Tabor”untuk melihat dan mengalami realitas umat secara langsung.

Para pastor dituntut untuk mengikuti teladan Yesus ini. Para pastor bukan hanya berdoa dan berkhotbah, tetapi juga melihat dan merasakan secara dekat realitas penderitaan umat. Sebab, Allah yang diimani dan hendak dipertanggungjawabkan di dalam teologi merupakan Allah yang terlibat, Allah yang kekudusan-Nya tidak didefinisikan berdasarkan keterpisahan-Nya yang statis dari dunia yang profan; tetapi Allah yang masuk ke dalam dunia dan sejarah sebagai sumber inspirasi dan daya ubah bagi dunia. Allah yang menawarkan diri demi keselamatan manusia, adalah Allah yang melibatkan diri dalam nasib dan sejarah manusia, Allah yang peduli akan manusia dan kehidupannya.

Imam Pasca-Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II (1962-1965) yang dipelopori oleh Paus Yohanes XXIII pada tanggal 11 Oktober 1962, menyerukan suatu pembaruan besar-besaran dalam Gereja dengan motto khas “aggiornamento”. Pada konsili ini, Gereja ditantang untuk terbuka; membuka diri terhadap realitas dunia. 

Gereja pra-konsili yang sering menonjolkan keegoisan, eksklusivitas dan konservatisme, harus dibarui. Beliau mengimbau agar Gereja sadar akan eksistensinya di dunia ini. Gereja harus membuka ‘pintu dan jendela’ bagi perubahan dunia. Gereja tidak boleh hidup dengan dirinya sendiri. Gereja yang sebelumnya bersifat opium harus diubah menjadi Gereja yang penuh cinta kasih.

Salah satu kelompok hirarki Gereja yang mesti menjalankan misi mulia ini adalah para imam. Dekrit Presbyterorum Ordinis (Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam), dengan jelas menempatkan para imam hirarkis dalam konteks perutusan Gereja. Tugas pelayanan yang dipercayakan oleh Kristus kepada Gereja, mesti dijalankan oleh Gereja.

Dengan itu, menjadi tidak benar, bila dikatakan bahwa para pastor tidak boleh menyesuaikan diri dengan cara hidup awam. Konsili juga mendukung suatu spiritualitas yang membina kekudusan pastor lewat pelayanan pastoral. Dengan sebuah pelayanan pastoral yang kontekstual, iman para imam semakin dikuatkan dan diteguhkan.

Singkatnya, imam pasca-Konsili Vatikan II dituntut untuk masuk dalam dan mengalami realitas umat yang dilayani. Bukan hanya itu, Gereja (imam) harus berani menyuarakan suara yang tak bersuara. Imam pasca konsili Vatikan II harus rela meninggalkan kemapanan dirinya dan berani memperjuangkan keadilan demi kemaslahatan bersama (bonum commune).

Misi Gereja: Perjuangan demi Keadilan

Keprihatinan sosial Gereja harus berpihak pada orang-orang yang sedang ‘terkungkung’ dalam situasi ketidakadilan. Situasi ketidakadilan ini membutuhkan sebuah pembebasan absolut. Mengapa? Pewartaan Sabda Allah tidak bisa diterima oleh umat beriman bila mereka sedang diterpa penyakit kulit karena tambang batu bara, korupsi merajalela yang memiskinkan orang miskin, kelaparan karena pembabatan liar dari penguasa atas lahan dan ladang tempat mereka mencari nafkah, penyakit kulit karena air yang tercemar oleh limbah pabrik dan masih banyak lagi.

Meski demikian, gembala umat tidak hanya sampai pada tahap keprihatinan. Mereka mestinya mewujudkan misi mulia ini dalam tindakan konkret yakni perjuangan memperjuangkan keadilan atau perjuangan demi tegaknya keadilan. 

Banyak orang miskin merupakan korban dari struktur sosial yang tidak adil. Kelompok yang kuat berkuasa, yang lemah dan miskin disingkirkan. Di sini para pastor dituntut untuk membela orang miskin. Sebab, perjuangan demi keadilan untuk semua, terutama bagi kaum miskin, adalah suatu tanda kehadiran kerajaan Allah. Perumpamaan Yesus tentang “orang Samaria yang baik hati” hendaknya menggugah para imam untuk senantiasa menolong mereka yang miskin dan menderita.

Pelayanan dan karya para pastor tidak boleh hanya selesai dalam khotbah dan memimpin misa, melainkan juga ‘turun’ dan mengalami realitas penderitaan umat. Gereja harus turun dari istana megah dan menara gadingnya dan merasakan kehidupan kaum beriman.  

Momen ketika ‘turun dari menara gading’ itulah, sabda Yesus sangat menginspirasi dan menggugah: “kamu harus memberi mereka makan”. Ini berarti, karya dan pelayanan pastoral haruslah menjawab situasi umat beriman. Bukan melarikan diri dan meninggalkan para kawanan yang sedang berada dalam kesulitan hidup.

Teologi Kontekstual

Dalam buku “I am a Happy Theologian”, Edward Schillebeeckx menulis “I don’t write for eternity, but for the men and women of today who are in a particular historical situation. I try to respond to their questions. So my theology has a date; it is contextual, but at the same time I want to go beyond the situation as such. That is a universal aim of my works because I try to take into account the questions of all men and women. Otherwise it wouldn’t be good theology.”

Apa yang dikatakan oleh Edward Schillebeeckx ini tentu sangat menginspirasi kita semua berhadapan dengan situasi Gereja yang masih memegang teguh konservatisme. Ajaran-ajaran dan praktik teologi kita hendaknya up to date dan menyentuh realitas umat beriman. Dengan itu, ajaran-ajaran keberimanan kita tidak menjadi opium yang menghibur umat Allah di tengah situasi ketidakadilan dan penderitaan. Teologi harus sadar konteks.

Hal di atas sejalan dengan apa yang ditegaskan oleh Jhon Prior bahwa Firman Allah mesti dimaknai seturut pengalaman keberimanan umat beriman dana dalam masyarakat luas. Teologi mestinya “berakar dalam masa lampau, prihatin dengan masa kini dan terarah pada masa depan.”

Inilah sebuah upaya teologi kontemporer yang mesti direfleksikan dan dipraktekkan dalam terang Sabda Allah. Sabda Allah hendaknya menginspirasi teologi kita agar menjadi teologi yang kontekstual di tengah situasi umat beriman.

Larangan agar para pastor tidak boleh berdemo dan sebaliknya hanya mengurus ‘altar’ dan bidang kerohanian umat akan menimbulkan suatu skandal atas teologi kontemporer, teologi kontekstual. Skandal ini akan membuat praktik keberimanan kita menjadi mandek dan tidak tepat sasar. Sebab, sebuah orthodoksi selalu berkaitan erat dengan orthopraksis.

Penutup

Argumen-argumen ini bukanlah sebuah pembangkangan terhadap otoritas uskup. Sebab, para imam harus selalu setia untuk tunduk di bawah ‘otoritas’ uskup setempat di mana pun ia berada. Hal ini terungkap dengan jelas dalam Kitab Hukum Kanonik no. 273: “Klerikus terikat kewajiban khusus untuk menyatakan hormat dan ketaatan kepada Paus dan Ordinaris masing-masing.”

Namun, jika kita memegang teguh pada beberapa bentuk keprihatinan di atas, insya Allah, kita tidak menjadi agama atau Gereja yang konservatif. Sebaliknya, kita menjadi Gereja yang terbuka dan senantiasa berada di garda terdepan untuk melawan ketidakadilan dan memperjuangkan kesejahteraan. Sebab, situasi penderitaan mendesak kita untuk mengambil sikap yang jelas dengan berpihak pada mereka yang miskin dan lemah.

 Pelayan pastoral hendaknya melibatkan diri dalam kisah penderitaan umatnya. Sebagaimana para murid Kristus dipanggil untuk mewartakan salib dan kematian serta kebangkitan-Nya, seorang imam dan pelayan pastoral hendaknya menjawab tuntutan orang yang menderita. Dengan kata lain, para pelayan pastoral, khususnya para imam, dituntut untuk menyuarakan penderitaan yang dialami umat. Pada akhirnya, pelayanan pastoral para imam semakin tepat sasar. Mari wujudkan dimensi pelayanan baru ini: “dari altar ke pasar dan dari pasar ke altar”.***

Daftar Sumber: 

Dokumen dan Kamus

Konferensi Waligereja Indonesia. Kitab Hukum Kanonik. Cet. V. Percetakan Grafika Mardi Yuana: Bogor, 2012.

Kamus Besar Bahasa Indonesia versi offline.

Buku

Kirchberger, Georg. Allah Menggugat. Cet. II. Maumere: Penerbit Ledalero, 2012.

Kleden, Paul Budi. Teologi Terlibat. Cet. II. Maumere: Penerbit Ledalero, 2012.

----------Membongkar Derita. Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi. Maumere: Penerbit Ledalero, 2006.

Goergen, Donald J. (ed.). Imam Masa Kini. Penerj. Konrad Kebung. Maumere: Penerbit Ledalero, 2003. 

Schillebeeckx, Edward. I am a Happy Theologian. Cet. I. London: SCM Press Ltd, 1994.

Jurnal, Koran dan Internet

M. Prior, Jhon. “Teologi Kontekstual: Apakah Mungkin?”. Jurnal Ledalero. 9:2. Ledalero: Desember 2010.

Flores Pos, 25 Februari 2017.

Pos Kupang, 25 Februari 2017

https://id.wikipedia.org/wiki/Konsili_Vatikan_II, diakses pada 2 Maret 2018.