“That's the beauty of music. They can't get that from you...” (Andy Dufresne, 1994, dalam film The Shawashank Redemption)

“Music is life, that’s why our heart have beats”. (Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon)

“When I cannot sing my heart, I can only speak my mind.” (Jhon Lennon)

Musik adalah salah satu karya manusia paling menakjubkan. Seperti quotes di atas, musik tidak bisa direnggut dari hatimu, membuat hati kita berdetak dengan irama, setiap kali mendengarnya, dan sebagai sarana meluapkan isi pikiran. 

Musik menjadi salah satu hak paling fundamental dalam kehidupan manusia, karena menjadi sarana meluapkan ekspresi.

Sebagai hasil buah pikiran manusia, tidak jarang musik diartikan sebagai hal yang beragam, sesuai bentuk ekspresi diri. Musik sebagai cinta atau permusuhan, sebagai kebahagiaan atau kesedihan, sebagai perdamaian atau bahkan peperangan. Itulah uniknya musik, setiap orang memiliki pemaknaan berbeda terhadapnya.

Salah satu mahakarya musik yang paling berpengaruh menurut penulis adalah karya Jhon Lennon berjudul Imagine, dirilis pada tahun 1971, yang menjadi salah satu karya musik terbaik sepanjang masa. Majalah The Rolling Stone menobatkannya sebagai salah satu dari 3 “Lagu Terpopuler Sepanjang Masa”.

Bahkan di tahun 2016, UNICEF menjadikan lagu Imagine ini sebagai lagu untuk menyuarakan perdamaian ke lebih dari 140 negara di dunia. Adapun sebagian lirik lagu tersebut adalah sebagai berikut:

Imagine there's no heaven, it's easy if you try
No hell below us, above us, only skies
Imagine all the people living for today, yah hey yeah
Imagine there's no countries, it isn't hard to do
Nothing to kill or die for, no
And no religion, too, oh
Imagine all the people living life in peace, yoo ooo
You, you may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope some day you'll join us
And the world will be as one, will be as one
Imagine no possessions, I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man, oh
Imagine all the people sharing all the world

Menurut penulis, lagu ini mencoba mengatakan bahwa jika manusia di dunia ini tidak terpecah belah oleh keyakinan ideologi, agama, kepemilikan pribadi, mungkin dunia ini akan menjadi lebih baik. Tidak ada pembunuhan berdasarkan ultranasionalisme, fanatisme, atau kesekarakahan. 

Jhon Lennon lewat musiknya berhasil menyentuh hati jutaan orang pada masanya, bahkan sampai sekarang, untuk mengerti bahwa ada yang lebih penting dari keyakinan, yaitu kemanusiaan.

Meski terkesan radikal, karena membayangkan masyarakat tanpa negara, agama, dan kepemilikan harta benda, nyatanya lagu ini berhasil menyadarkan orang banyak tentang arti penting perdamaian. 

Lagu ini menurut penulis merupakan ekpresi diri yang liar, bebas sekaligus mulia. Sebagai ekspresi diri, sulit bagi siapa pun untuk membatasi hal itu. 

Manusia itu unik, setiap dari mereka memiliki pengalaman yang masing-masing berharga. Setiap usaha untuk membatasi dan menghilangkan hal itu adalah kekonyoloan dan kesia-siaan. Barangkali itulah yang dicoba lakukan oleh bangsa ini.

Akhir-akhir ini, sedang hangat perdebatan tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan, yang menuai pro dan kontra. Penulis sendiri melihat adanya umpan balik dari masyarakat terhadap RUU ini merupakan sebuah hal positif. 

Dan tulisan ini pun memang dimaksudkan untuk itu, yaitu memberikan umpan balik terhadap pemerintah dalam hal ini DPR Komisi X, agar terbentuknya RUU yang bisa diterima dan berguna bagi masyarakat. Tulisan ini bersifat opini, yang tentunya membutuhkan kritik dan saran agar opini ini berdasar pada argumen yang lebih kuat lagi.

Dari beberapa pasal yang kontroversial, penulis ingin menyoroti pasal 5 dan 50 dari RUU Permusikan ini. Pasal 5 yang berbunyi: “Musisi dilarang mendorong khayalak melakukan kekerasan serta melawan hukum, membuat konten pornografi, memprovokasi pertentangan antar kelompok, menodai agama, membawa pengaruh negatif budaya asing, dan merendahkan harkat serta martabat manusia.”

Kemudian diperkuat oleh pasal 50: “Mengatur hukuman penjara dan denda bagi yang melanggar pasal 5.” Menurut penulis, pasal ini berbahaya karena terindikasi bisa membatasi kebebasan berekspresi seseorang.

Pasal ini terindikasi bisa menjadi pasal karet, karena tafsirannya bisa banyak sekali, tergantung orang yang menggunakannya. Maksud saya, seperti apa lirik yang melawan hukum itu; apakah lagu Iwan Fals yang berjudul Bongkar bisa dikatakan membangkitkan orang untuk melawan hukum?

Lalu, konten pornografi. Bila dilihat di ranah lain, yang sama-sama menjadi konsumsi publik, katakanlah fenomena Nurhadi Aldo, yang biasa mengunakan kata kotor dan porno dalam mem-branding dirinya, dampaknya tidak terlalu berbahaya dan besar. 

Maksud saya, seberapa banyak orang terganggu akan hal itu dan seberapa besar konten itu merusak moral bangsa. 

Kemudian, lirik yang menodai agama. Apakah lirik lagu Imagine Jhon Lennon yang mengharapkan masyarakat tanpa agama dianggap sebagai penodaan agama, karena secara tidak langsung mengatakan agama itu biang konflik?

Atau berikutnya, tafsiran membawa pengaruh budaya asing yang buruk. Ini kita mundur jauh ke zaman Soekarno yang melarang musik-musik Barat untuk dikonsumsi, yang terbukti tidak berdampak positif seperti yang diharapkan. 

Dan terakhir, merendahkan harkat dan martabat manusia: seperti apa tolak ukurnya, apakah lagu berjudul ALAY, yang dinyanyikan Lolita dan populer sekitar tahun 2011 di Indonesia, bisa dikatakan salah, karena dianggap menghinakan orang yang bekerja sebagai penonton bayaran?

Maksud saya, intinya, kenapa pemerintah sampai sejauh itu memberikan peraturan, yang dari segi implementasi bisa merugikan dan cenderung menghasilkan kegiatan tidak produktif. Kebutuhan mendesak apa, hingga terutama pasal ini harus dibuat dan disahkan.

Masalah etika? Saya kira masyarakat harus diberi kebebasan untuk itu. Masyarakat bisa menilai sendiri apa yang layak menjadi konsumsi publik dan bukan. Hal ini terlalu abstrak untuk dibahas dan dibuat aturan. 

Kita bisa lihat, misalnya, berbagai rekaman musik menjelang pemilu yang dibuat untuk berkampanye. Menurut saya, masih dalam keadaan yang wajar. Bahkan jika beberapa musik kampanye berpotensi untuk menimbulkan konflik, biasanya hal itu akan menjadi bumerang untuk elektabilitas pihak calon si pembuat musik itu sendiri. 

Justru pembatasan ini bisa menimbulkan reaksi yang sebaliknya dari para seniman. Tidak jarang gerakan perlawanan yang sebelumnya tidak ada, justru ada ketika hal itu dilarang.

Saya membayangkan bagaimana lirik musik Imagine Jhon Lennon dipidana karena pasal 5 ini. Betul, lagu ini memang dibuat di ranah global dan menjadi konsumsi publik dunia, tetapi justru karena itu, karya ini bisa diterima oleh masyarakat luas dan sama sekali tidak menimbulkan perpecahan tetapi sebaliknya, perdamaian. 

Jhon Lennon membayangkan dunia tanpa negara, karena bisa menimbulkan ultranasionalisme; membayangkan dunia tanpa agama, karena bisa menimbulkan fanatisme; dan membayangkan dunia tanpa kepemilikan harta, persis seperti paham komunis, tunggu paham itu diarang di negara kita, oke musik ini memenuhi kriteria di untuk dipidana. Konyol.

Berikan hak masyarakat untuk berekspresi dengan musik. Bagaimanapun hasilnya, biar masyarakat yang menilai. Jika masayarakat memang sudah jenuh dengan pemerintahan dan mencintai musik-musik perlawanan terhadap pemerintah, itulah yang terjadi, maka berbenah bukan membungkam.

Akhirnya, secara keseluruhan, penulis tidak sepenuhnya menolak RUU Permusikan ini dibuat dan disahkan, karena memang ada banyak pasal yang bermanfaat untuk industri musik di Indonesia. Tetapi memang ada juga yang kontoversial, salah satunya pasal 5 yang penulis kritik.

Penulis juga menyayangkan jika banyak pihak yang memprotes dengan menolak sepenuhnya UU Permusikan ini, bagaimanapun juga banyak masalah dalam ranah ini yang harus dibenahi, dan UU ini tidak sepenuhnya buruk.

Banyak pasal yang membawa dampak positf bagi industri musik tanah air. Masalahnya adalah relevansi beberapa pasal dan itu menjadi tugas kita sebagai warga negara untuk mengawal.