Cogito ergo sum, salah satu konsep eksistensi yang dicetuskan oleh Descartes yang berarti “aku berpikir maka aku ada”. Logika yang cukup sederhana, karena manusia memang diciptakan dengan akal yang mengharuskan dirinya untuk berpikir. Tetapi masih patut untuk dipertanyakan, apakah kita cukup terpuaskan hanya dengan pemikiran kita sendiri lantas kita merasa “berada”?

Semua realitas yang ada di sekitar tentunya membutuhkan segala interpretasi. Makna dari realitas itu sendiri berada dalam pemikiran setiap manusia, bukan pada realitas itu sendiri. Dalam kondisi ini, proses berpikir itu berperan besar, dan tak bisa dimungkiri: semakin dalam proses berpikir itu, maka semakin berpotensi pula distorsi pemikiran terjadi.

Kita tentunya menyadari bahwa cukup banyak perspektif yang dapat digunakan untuk menganalisa suatu realitas atau peristiwa tertentu. Ada yang berpendapat bahwa berfokus pada satu sudut pandang jauh lebih baik dalam menganalisis suatu realitas. Memang tidak ada suatu ketentuan absolut yang menentukan bagaimana harusnya manusia berpikir, tetapi tidak ada salahnya jika kita mencoba mengetahui cara berpikir melalui sudut pandang lainnya.

Tetapi, akan ada satu masalah yang mungkin kembali ditemukan apabila mencoba mengetahui perspektif lainnya saat menganalisa suatu realitas. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya: semakin dalam proses berpikir, maka distorsi pemikiran semakin berpotensi untuk terjadi.

Hal ini bukannya tanpa alasan. Sering kali saat kita berpikir semakin dalam, maka hal tersebut akan membawa kita kedalam suatu nalar yang tidak rasional. Jika menggunakan satu perspektif saja, sering kali kita jatuh dalam satu konsep generalisasi yang sebenarnya bisa saja tak sesuai dengan realitas itu sendiri. 

Sebaliknya, menggunakan lebih dari satu perspektif bisa saja menuntun kita ke dalam satu perdebatan dikotomis dalam pemikiran yang menjenuhkan dan pada akhirnya mengarahkan kita untuk langsung loncat kedalam satu kesimpulan tertentu.

Lantas apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang harus dilakukan? Dalam kondisi inilah yang disebut imanensi itu terjadi. 

Seperti yang dijelaskan oleh Kant, imanensi merupakan sebuah kondisi di mana manusia terkurung dalam pengetahuannya sendiri. Saat terjebak dalam pengetahuan itu, distorsi pemikiran terjadi. Kita seakan percaya bahwa pengetahuan tersebut adalah realitas, padahal realitas tersebut berada di seberang dari pengetahuan itu atau yang kita kenal dengan sebutan transenden.

Dalam konteks pembahasan ini, konsep imanensi dan transendensi tidak dipahami sebagaimana yang ada dalam konsep Filsafat Ketuhanan. Imanensi dan transedensi dalam konteks ini dipahami dalam konsep Filsafat Realisme yang menjelaskan bahwa setiap objek dalam realitas berada secara independen.

Sesuai dengan konsep tersebut, kenyataan atau realitas itu sendiri terdiri atas banyak obyek yang berdiri secara independen. Satu pengetahuan saja tidak mampu mengangkat realitas secara utuh, yang berarti satu pengetahuan saja tidak bisa menjelaskan kenyataan seperti apa yang terjadi secara lengkap.

Bisa dibayangkan apabila kita berpikir secara imanen, maka kita berpikir hanya menggunakan satu pengetahuan yang kita miliki untuk meyakini bagaimana sebenarnya suatu realitas tersebut terjadi. Karena satu pengetahuan tersebut tak dapat mengungkap secara utuh mengenai kenyataan seperti apa yang sebenarnya terjadi, maka kita terjebak dalam ilusi karena distorsi pemikiran tersebut.

Maka yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan berpikir secara transenden. Berpikir secara transenden dalam konsep realisme berarti berpikir secara menyeluruh. Realitas adalah satu kesatuan dari banyak obyek yang harus diungkapkan agar dapat mengerti bagaimana sebenarnya keberadaan dari realitas tersebut.

Antisipasi terjadinya distorsi pemikiran karena terlalu mendalamnya satu proses berpikir yang terkadang bisa melampaui kemampuan berpikir itu sendiri, berpikir secara transenden dapat dilakukan dengan cara berinteraksi. 

Setiap manusia pasti memiliki pengetahuan dengan versi pemikirannya masing-masing. Hal yang bijaksana apabila kita berinteraksi dengan orang lain untuk mengerti cara berpikirnya, walaupun hal tersebut seringkali kontradiktif dengan cara berpikir kita sendiri.

Misalnya dalam sebuah kasus di mana kita melakukan judgement negatif atas seseorang melalui bagaimana perilakunya terhadap diri kita. Sering kali kita menganggap orang tersebut, di mana pun ia berada dan berinteraksi, dirinya selalu bersikap dengan cara yang sama sebagaimana dirinya berinteraksi dengan kita. Dalam kondisi inilah distorsi pemikiran itu terjadi atas imanensi dalam berpikir, dan kita terlena dalam satu jebakan ilusi.

Perilaku orang tersebut saat berinteraksi dengan kita menjadi satu pengetahuan yang merupakan bagian kecil dari realitas utuh atas diri orang tersebut. Orang lain yang berinteraksi dengannya juga memiliki pengetahuan tersendiri yang diperoleh dari perilaku orang tersebut. Hal inilah yang harus diketahui dan harus diungkap demi realitas atas diri orang tersebut agar dapat disadari secara lengkap.

Bisa dibayangkan apabila kita berpikir secara imanen dengan dasar pengetahuan versi kita sendiri mengenai orang tersebut, dirinya akan selalu menjadi orang yang buruk untuk diri kita maupun orang lain. Hallo effect pun terjadi sebagai salah satu bentuk distorsi pemikiran, di mana sifat negatifnya menutupi sifat positif yang dimiliki dirinya. Terjebak dalam ilusi yang akhirnya hanya menghasilkan rasa benci.

Manusia yang terlahir sebagai makhluk sosial tidak hanya berinteraksi atas dasar kebutuhan fisiologis dan psikis saja. Interaksi diperlukan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya lingkungan yang ada di sekitarnya. Tanpa mengetahui lingkungannya secara nyata, maka manusia hanya ada bagi dirinya sendiri. Hidup secara eksistensi, mati secara esensi.

Alangkah baiknya kita berpikir secara transenden dengan cara berinteraksi untuk mengetahui segala realitas yang ada di lingkungan kita dengan utuhnya. Setidaknya dengan langkah tersebut akan mengurangi kemungkinan kita terjebak dalam ilusi atas pemikiran sendiri.

Namun tetap saja, tak ada ketentuan yang paling benar dalam menentukan cara berpikir karena setiap manusia memiliki kebebasan untuk dirinya memikirkan sesuatu. Namun kita menyadari bahwa tak ada kebebasan absolut, setidaknya berpikirlah untuk hasil yang membangun, bukan untuk menjadi racun.