Sebenarnya tulisan ini buat berdasarkan hasil bacaan saya terhadap tulisan Arief Budiman yang berjudul Ilmuwan dan Aktivis dalam buku yang berjudul Menggagas Pendidikan Rakyat dieditori oleh Danang S. Anshori (2000). Tulisan ini juga saya buat sebagai bentuk ucapan terima kasih atas sumbangsih pemikiran beliau. 

Dalam penulisan ini, saya berusaha menjembatani tulisan Arief Budiman untuk diimplementasikan dalam sebuah perjalanan hidup saya selama menjadi mahasiswa, program studi Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Semarang. Semoga tulisan ini dapat memberikan sumbangsih ilmu dan bermanfaat bagi si pembaca.

Sejauh Mana Peranan Ilmuwan dan Aktivis?

Ilmuwan dan aktivis sebenarnya sangat penting untuk dibahas, terutama bagi mahasiswa yang baru menempuh bangku perkuliahan. Hal ini didasari atas pengalaman pribadi penulis, termasuk berusaha untuk memosisikan diri terhadap potensi yang miliki. 

Menurut saya, ini sangat penting untuk mengarahkan kita ke dalam lingkup yang mana. Nah, bahkan saya sendiri telat menyadari pentingnya hal itu ketika menginjak semester 6.

Memang tidak ada kata terlabat dalam memperbaiki. Sering kita mendengar kalimat lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Itu menjadi motivasi bagi kita semua, terutama mereka yang merasa dirinya terlambat menyadari.

Menjelang awal semester 6, saya mulai memperbanyak membaca alhasil memunculkan kecenderungan dalam diri sebagai seorang ilmuwan. Akan tetapi, pengalaman saya sebelumnya tidak lepas dari yang namanya organisasi yang notabene cenderung aktivis. 

Melihat apa yang dialami oleh penulis, mungkin bisa sebagai pertimbangan bagi pembaca untuk memposisikan diri masuk dalam ilmuwan atau aktivis yang memang ruang lingkupnya berbeda di antara keduanya.

Mulai Mengenali Potensi Diri

Bersyukurlah jika kita ada pada lingkup yang menanamkan literasi apabila minat anda sudah tertanamkan sedari awal. Sehingga, kesadaran anda bisa terbentuk di sana. Jika tidak, mungkin kita mulai berusaha mendekati orang-orang yang mempunyai jiwa tersebut. 

Mulailah mengenali potensi dalam diri, karena itu penting. Apalagi jika potensi itu mampu dioptimalkan dengan baik. Ruang lingkup ilmuwan dan aktivis ini sebenarnya akan membantu kita dalam masa-masa di bangku perkuliahan. 

Lepas dari itu, seharusnya kita membiasakan diri sebagai seorang pelajar, seperti yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer bahwa seorang terpelajar harus sudah berbuat adil dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Apa yang disampaikan Pramoedya seakan membuka ruang tanya terhadap diri sendiri. Silakan diskusikan itu dalam diri sendiri!

Mengimplementasikan Pemikiran Arief Budiman dalam Dunia Kampus

Kembali kepembahasan awal, yakni pembahasan mengenai ilmuwan dan aktivis. Arief Budiman menjelaskan secara singkat bahwa ilmuwan adalah orang ragu. Lebih lanjut, Arief Budiman menjelaskan apabila seorang ilmuwan memiliki pendapat atau sebuah teori yang dianggap benar oleh dirinya, posisi kebenaran itu sifatnya sementara. Bahkan, ilmuwan akan selalu mempertanyakan kebenaran itu. 

Hal ini sangat berbeda dengan aktivis. Arief Budiman berpendapat bahwa aktivis merupakan seorang yang tidak mempunyai jiwa skeptisisme atau keragu-raguan. Aktivis harus menampilkan diri di muka pendukungnya sebagai pegangan pasti yang dianggap benar.

Pernyataan yang dibuat oleh Arief Budiman tentu yang menuai diskursus antara ilmuwan dan aktivis. Terutama masalah kebenaran terhadap kebenaran ilmiah yang pasti pasti dalam dunia objektif dan tidak bisa diubah. Kebenaran merupakan realitas empiris. Semua ilmuwan berusaha mencapai kebenaran atas realitas empiris tersebut.

Antonio Gramsci yang dikenal sebagai Cendikiawan Universal, yang dijelaskan oleh Arief Budiman, yakni sebagai cendikiawan yang menganggap dirinya objektif, bebas dari keterlibatan ketentuan-ketentuan yang ada pada masyarakat. Seorang ilmuwan objektif melihat bahwa kapitalisme telah mendominasi dunia, sehingga inilah yang dianggap realitas empiris yang tidak bisa diubah.

Menjumpai Perbedaan Pandangan

Mengesampingkan permasalahan Ilmuwan dan Aktivis. Ternyata ada hal berbeda mengenai ilmuwan dan aktivis, yaitu seorang yang memiliki kepribadian atau kebiasaan apatis (ketidakpekaan terhadap apa saja yang ditawarkan).

Semoga penulisan ini untuk meminamalisasi prilaku apatis di kalangan mahasiswa. Sehingga, meningkatkan rasa solidaritas di kalangan mahasiswa. Bukan tidak mungkin, ini sebagai upaya menciptakan ilmuwan dan aktivis yang mapan. Dan mungkin akan adanya kolaborasi antara keduanya untuk kebaikan bangsa ini. Hal ini yang sangat dinantikan. Apalagi mahasiswa dianggap sebagai agen perubahan.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mamahami potensi dalam diri kita masing-masing.

Arief Budiman menyatakan bahwa untuk mengetahui perbedaan antara ilmuwan dan aktivis, aktivis dapat dikatakan sebagai orangnya memakai produk-produk atau (seorang konsumen) dari ilmuwan. Sedangkan pada seorang ilmuwan adalah mereka cenderung orang yang pemikir.

Meskipun begitu, Arief Budiman berpendapat, baik ilmuwan dan aktivis mampu menunjukkan eksistensinya dan diimplementasikan dalam kehidupan dengan tujuan kehidupan manusian akan jauh lebih baik. 

Menurut Friedrich Nietzsche, banyak orang keras kepala akan jalan yang dilaluinya, dan lebih sedikit yang setia pada jalan yang dilaluinya. Sehingga atas dasar itulah penulis mengajak pembaca memulai memikirkannya. Semoga apa yang disajikan dalam tulisan ini mengandung kebermanfaatan bagi pembaca.