Di twitter sedang trending seorang influencer yang memiliki akun alter. Di masa lalu ia ini pernah menjadi penulis kontroversial yang dipuja sekaligus dicaci. Sampai akhirnya ia diduga melakukan plagiat. Meskipun awalnya sempat menyangkal, pada akhirnya ia mengaku juga jika dirinya memang melakukan plagiat. Yang terbaru dan menghebohkan, ia diduga memiliki akun alter dan sering mem-posting sesuatu yang kurang pantas. Tentu saja ia membantah keras tuduhan itu, dan mengatakan apa yang dituduhkan adalah fitnah belaka.

Saya tidak mengikuti perkembangan kasus itu lebih lanjut. Sikap saya terhadap berita viral selalu sama, asal sudah tahu ceritanya ya sudah cukup. Tidak perlu saya mengikutinya sampai jauh.

Saya takut seperti nasib para perempuan yang mengikuti kisah viral tentang  seorang suami yang menghilang berhari-hari. Ternyata si suami tengah berbulan madu dengan istri mudanya yang ia nikahi tanpa sepengetahuan istri pertamanya. Lalu karena terlanjur kecewa dan tak ingin hidup di madu, si istri menggugat cerai sang suami. Dan pernikahan mereka pun berakhir di tangan hakim pengadilan agama.

Banyak perempuan terpengaruh dengan kisah itu. Mereka menjadi lebih sensitif dan agresif karenanya. Memang kisah-kisah pasangan yang mendua berpotensi merusak mood kaum perempuan. Meskipun bukan ia yang mengalami peristiwa itu, tetapi solidaritas sesama perempuan membuat ia bisa merasakan pedihnya diduakan dan dikhianati.

Saya sendiri tipe orang yang mudah terpengaruh. Jangankan bersimpati kepada mereka yang tersakiti, menonton film atau drama dengan tema perselingkuhan saja bisa membuat perasaan saya mendung selama berhari-hari. Itulah makanya saya tidak menonton drama atau film bertema perselingkuhan karena tidak tahu di mana letak menghiburnya kisah-kisah model begitu. Sedangkan terhadap berita viral saya cenderung menjaga jarak karena tidak ingin berita itu memengaruhi saya.

Tentu saja tidak ada lagi berita yang benar-benar membuat saya terkejut. Saya termasuk generasi awal pemakai media sosial. Dalam rentang waktu lebih dari satu dekade saya bermedia sosial, berita-berita viral yang menyedot perhatian publik datang silih berganti saja. Ada yang viral hingga berbulan-bulan seperti kasus pembunuhan itu, ada juga yang hebohnya hanya hitungan minggu saja. Setelah itu reda dan menghilang diganti berita viral lainnya.

Dalam kasus yang menimpa sang influencer yang membuat saya tertarik justru membayangkan perasaan orang-orang yang mengagumi dan mengidolakannya. Bagaimana rasanya memiliki idola yang tersandung kasus atau bermasalah seperti itu. Pasti kecewa, kan? Apalagi jika kita sudah sangat berharap kepada sang idola.

Seperti cerita pada masa pemilihan presiden yang lalu. Waktu itu tanggapan salah seorang pendukung pasangan calon presiden yang kalah melihat jagoannya bergabung ke kubu lawan dengan menjadi menteri. 

Ia mengatakan bahwa apa yang dilakukan si jagoan karena ia sedang berjuang dari dalam. Entah apa yang dimaksud si pendukung dengan berjuang dari dalam? Padahal orang lain melihatnya tak lebih dari manuver politik sang politikus yang ingin meminimalisir kerugian karena sudah habis banyak. Namanya saja politik, tidak ada lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.

Saya mengerti apa yang dikatakan si pendukung itu adalah bentuk penyangkalan dan menghibur diri sendiri. Bayangkan bagaimana rasanya mendapati seseorang yang membuat kita berantem mati-matian baik di dunia maya maupun dunia nyata. Bahkan sampai ada yang rela kehilangan nyawa demi membelanya hanya untuk mendapati orang yang dibela bergabung ke kubu lawan. Pasti rasanya pahit sekali.

Ya memang berat jika orang yang kita idolakan tidak seperti harapan, apalagi sampai mengkhianati kita. Biasanya bermacam-macam kalimat penyangkalan dikeluarkan untuk menghibur hati atau menutupi rasa kecewa yang mendalam. Saya juga pernah mengalaminya.

Di masa lalu, saya sempat mengidolakan sepasang suami istri yang menurut saya keren. Mereka adalah gambaran nyata pasangan ideal menurut saya. Mereka ganteng dan cantik. 

Mereka juga sama-sama cerdas dan berpendidikan tinggi. Di samping tentu saja religius dan romantis. Saking serasinya mereka berdua ini, orang-orang sering berdecak kagum dan memuji betapa beruntungnya mereka sudah menemukan satu sama lain.

Sampai kemudian mereka menghadapi prahara perkawinan. Saya tidak tahu persis apa masalahnya. Yang mengejutkan saya cara mereka berseteru yang sungguh di luar bayangan. 

Mereka yang sama-sama berpendidikan tinggi ini saling berbalas sindiran melalui media sosial masing-masing, sehingga semua orang jadi tahu kalau pernikahan mereka sedang bermasalah.

Jujur saya syok dan tidak menyangka pasangan idola saya melakukan hal itu. Rupanya tingginya pendidikan bukan jaminan seseorang akan menyelesaikan masalahnya dengan cara elegan. Padahal katanya kualitas seseorang akan terlihat saat ia berhadapan dengan masalah.

Namun kekecewaan saya perlahan-lahan pulih. Seiring redanya rasa terkejut, saya menyadari satu hal bahwa pasangan idola saya hanyalah manusia biasa. Mereka sama seperti saya yang tidak dilengkapi atribut serba maha dan tanpa cela. 

Tentu salah besar jika saya menuntut mereka harus seperti dewa atau malaikat yang tidak punya kelemahan. Memangnya saya siapa berhak berbuat begitu kepada orang lain? Manusia sehebat apa pun dia ya tetap manusia biasa. Kadang bijak, kadang beringas dan biadab, kadang norak, kadang lucu, kadang elegan, kadang juga memalukan.

Tapi saya tetap saja mengagumi  seseorang meski berisiko melahirkan kekecewaan. Setidaknya sekarang saya lebih mengerti aturan mainnya, tidak mengapa mengidolakan seseorang selama saya paham dia hanya manusia biasa.