Konon, jadi lelaki sejati itu mudah: tak malu mengakui ketika kebetulan ia adalah seorang pencinta dangdut koplo. 

Saat ini, siapa yang tidak pernah mendengar tentang musik tersebut? Tentunya di antara kita sudah tak asing dengan nama-nama seperti Via Vallen, Nella Kharisma, Rena KDI, Shodiq, dan lain-lain. Hampir tiap saat, ketika kita nongkrong ngopi, tentu lagu-lagu mereka akan terdengar. Meskipun, lagi-lagi ini masih konon ya, konon mendengarkan lagu dangdut, apalagi yang ngoplo, itu ndak mbois blas! Kurang elegan. Kurang modernis. Tidak gaul.

Sebagian menganggap dangdut koplo hanyalah musik kalangan menengah ke bawah. Lagu yang hanya cocok diputar di warteg-warteg pinggir jalan, atau lagu yang secara kolektif dibayangkan sebagai lagu yang biasa diputar oleh babang-babang tukang parkir. Dalam kasus lain, bolehlah diputar di pojokan cafe ketika malam minggu oleh seorang jomblo yang sedang galau dan ingin menghayati betapa perihnya cinta.

Tetapi ya, tetap mesti diam-diam! Ngga boleh terang-terangan. Kenapa? Ya, meski belum sampai menganggu ketenteraman publik, tapi sudah memenuhi syarat untuk dikatakan sebagai hal yang berpotensi menghancurkan suasana. Bayangkan, saat muda-mudi lain di kafe tersebut membutuhkan suasana romantis untuk kencan mereka, eh, dari mejamu terdengar suara “sayaang.. opo koee krunguu.. jerite atikuu…”.

Alih-alih dangdut koplo, musik-musik yang "cocok" untuk tempat tersebut biasanya musik Pop, Rock, Jazz. Jadi dangdut koplo sepertinya benar-benar tidak punya tempat selain di warung-warung pinggir jalan, terminal bus, pasar. Hal yang tentu saja bisa membuat kita bertanya: apakah musik memiliki status sosial hingga kita bisa memutuskan bahwa musik A tidak cocok di tempat seperti ini dan musik B hanya cocok di tempat seperti itu, misalnya.

Menurut saya, sebagai sebuah genre musik, sebenarnya dangdut koplo tak se-menyedihkan itu, bahkan ia cukup keren, kok. Orang luar saja tertarik dengan jenis musik ini. 

Mau bukti? Coba deh berselancar di YouTube, seorang Igor Presnyakov, yang biasanya meng-cover masterpiece-masterpiece musik dunia semacam Canon in D, Hotel California, Cancion del Mariachi, pada salah satu kesempatan juga menggarap Sayang dan Jaran Goyang! Sementara kita, kenapa harus malu-malu? Kenapa lebih memilih memutar lagu Jazz atau Blues di saat hati kita sebenarnya sedang merindukan Nella Kharisma, misalnya?

Saya bukannya mau meninggikan dangdut koplo di antara genre musik yang lain. Sebab, seperti sebuah buku, tentu musik juga punya penikmatnya masing-masing. Tapi jika membicarakan dangdut koplo, setidaknya bagi saya, ada yang menarik untuk dibicarakan.

Jika kita perhatikan, dangdut koplo adalah musik yang mempunyai satu ciri khas, di mana, bagaimana pun lagu atau seperti apa pun suasana lirik yang dibawakan, dangdut koplo tidak pernah melupakan atau menghianati sebuah hal; ia tak pernah dikemas secara cengeng.

Seperti apa pun lagunya, aransemen musik ini kan ya tetap begitu. Sesedih apa pun lirik lagunya, iramanya tetap kuat untuk menjadi alasan kenapa kita ikut menggoyang-goyangkan badan atau menghentak-hentakkan kaki. 

Dangdut koplo tidak pernah membuat orang yang sedih jadi makin sedih. Sebaliknya, ia membuat orang yang sedih untuk bangkit melawan rasa sedihnya, mengajak mereka untuk acuh—dan mungkin sedikit angkuh—dalam menanggapi kesedihannya.

Mudahnya, dangdut koplo merupakan musik yang idealis (atau bahkan eksistensialis?). Ia tidak menampik adanya duka lara dalam kehidupan ini, tapi ia tetap memperjuangkan eksistensinya, keberadaan dirinya, untuk senantiasa hadir sebagai sesuatu yang menghibur; aransemen musik ini melakukan penolakan secara intens terhadap irama mendayu-dayu yang berpotensi menambah tingkat kesedihan—sekalipun kesedihan di satu sisi juga tak pernah lepas dari dirinya.

Nah, selain hal tersebut, jika saya boleh mempersonifikasikan dangdut koplo, membayangkannya sebagai sebuah person, saya akan mengatakan bahwa dangdut koplo merupakan musik yang memiliki kesadaran sosial tinggi. Seolah-olah sejak awalnya ia memang berniat hadir bukan hanya untuk satu kalangan tertentu, melainkan untuk semua kalangan, semua kelas. 

Lho, kok bisa? Iya. Ia menyadari bahwa kesedihan adalah tema sentral dalam kehidupan manusia, dan setiap orang pasti merasakannya. Tidak ada orang yang tak pernah bersedih.

Dangdut koplo, dengan menyadari itu, telah menyuarakan “pandangannya” sendiri tentang bagaimana sikapnya dalam merespons kesedihan. Dengan iramanya yang ngoplo, dengan nada-nadanya yang khas, ia menawarkan alternatif lain mengenai bagaimana semestinya kesedihan dihadapi: yakni dengan menertawakannya!