Ada sisi menarik dari calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang berjumlah tiga pasang itu. Mereka akan bertarung pada pilkada serentak 2017 nanti. Pencalonan putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menarik perhatian kita yang sudah mendaftar ke KPUD DKI 23 September lalu.

Demi maju pencalonan tersebut, ia harus mengakhiri karir militernya TNI untuk terjun di dunia baru: politik. Ikut serta di pikada DKI ini suatu pertaruhan besar, sebab AYH tampil pada detik-detik akhir yang namanya tidak populer dibandingkan dengan calon lainnya yang resmi diusung atau tidak. Lawannya pun cukup kuat petahana Ahok yang elektabilitasnya tergolong tinggi.

Terlepas dari kalah atau menangnya dalam pertarungan pilkada nanti. Majunya AYH ini menjadi poin tersendiri karena berasal dari kalangan muda. Usianya pun tergolong masih muda 38 tahun yang harus bertanding di laga “kelas berat” yang berada di pusat kekuasaan negeri ini. Apalagi AHY belum berpengalaman di dunia pemerintahan baik eksekutif atau legislatif.

Secara garis besar bukanlah sesuatu yang terlarang bagi kaum muda untuk berkiprah di dunia politik. Dalam beberapa kasus pilkada di beberapa daerah kalangan muda juga mampu menjadi kepala daerah baik tingkat 2 (bupati/walikota) dan tingkat 1 (gubernur).

Tampilnya kaum muda dalam panggung politik dan kekuasaan bukan perkara baru bagi negeri kita. Sebagai contoh bung Karno, bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka, dan banyak tokoh pergerakan muda lainnya telah mewarnai pembentukan negara Indonesia ini. Dalam era tumbangnya orde lama, yang kemudian bergantinya orde baru ke orde reformasi tidak lepas oleh peranan kaum mudanya dalam hal ini mahasiswa.

Idealisme mahasiswa

Mahasiswa kadang dipandang sebagai “makhluk” spesial. Semaan kata maha yang melekat pada siswa membuat statusnya diperhitungkan. Dipandang sebagai kalangan kaum terpelajar yang lebih mengandalkan keintelektualnya. Sejarah juga mencatat bahwa peranan mahasiswa cukup signifikan dalam melakukan perubahan baik sosial dan politik.

Keunggulan lain dari mahasiswa tersebut adalah sikap dan rasa idealismenya. Banyak hal yang dilakukan mahasiswa berdasar ide dan mampu dijalaninya tanpa ada embel-embel tertentu. Sebagai kalangan yang bukan “bayaran” maka mereka dapat dengan “bebas” mengaktualisasi pikiran dan tindakan.

Idealisme mahasiswa (terutama pada masa orde lama dan rezim otoriter orde baru) sudah cukup teruji. Memperjuangkan rakyat bawah dengan sungguh-sungguh walaupun ada tindakan represif dari aparat yang tidak jarang ada aktifis mahasiswa yang sampai mendekam di bui.

Peranan mahasiswa dalam dunia politik cukup ampuh dalam meruntuhkan sebuah rezim. Orde lama pun tumbang dengan aksi tritura yang dimotori mahasiswa. Demikian pula dengan rezim orde baru yang dipandang totaliter pun dapat tumbang dengan aksi reformasinya.

Namun setelah orde reformasi yang semua kebebasan serba dilepas ini, idealisme mahasiswa serba samar. Pada rezim terdahulu hanya kalangan berani saja yang melakukan demontrasi, dan itu biasanya mahasiswa. Namum saat ini karena demonstrasi dapat dilakukan oleh semua orang. Mahasiswa pun saat ini masih mencari bentuk dalam menjabarkan idealismenya.

Demokrasi kampus mahasiswa tidak sepenuh hati

Peranan mahasiswa dalam dunia politik yang tidak lepas dari perebutan kekuasaan tidak dapat dipandang enteng. Bersinggungan dengan sebuah rezim dengan berbagai aksi pun diluncurkan, apalagi bila menyangkut masalah sosial dan  politik.

Ketidakadilan dan kesewenangan sebuah rezim terus dikritisinya. Masalah demokrasi terus diperjuangkan, mengingat demokrasi merupakan perwujudan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Aspirasi tidak boleh dibendung, kebebasan berpendapat adalah sebuah keniscayaan.

Mahasiswa selalu berteriak soal demokrasi pada sebuat rezim berkuasa. Namun bagaimana dengan demokrasi mahasiswa dikalangannya sendiri?. Ada ulasan menarik yang disampaikan untuk menjawab pertanyaan itu.

Menurut Suryadi A. Radjab dalam epilog buku “Menolak Mununduk, Menentang Budaya Represif” karya Enin Supriyanto menyatakan bahwa mahasiswa tidak satu pun yang berhasil menegakkan demokrasi kampus dan membentuk pemerintahan mahasiswa (student government) di kampus yang didukung mayoritas mahasiswa.

Memang kehidupan demokrasi di kampus tidak seindah apa yang kita bayangkan. Perebutan kekuasaan di lembaga intra kampus pun hanya oleh segelintir elit mahasiswa yang –kadang- berasal dari organsasi ekstra kampus (omek). Perebutan kekuasaan di lembaga intra kampus kadang tidak melibatkan seluruh mahasiswa. Pemilihan ketua organisasi intra kampus pun kadang tidak berjalan demokratis bahkan terkesan ada “rekayasa”.

Jika diadakan pemilu mahasiswa, yang ikut serta pun tidak banyak. Kreasi partai di demokrasi kampus pun hanya sekedar formalitas belaka. Banyak faktor didalamnya, bisa jadi memang sebagain besar mahasiswa tidak begitu tertarik pada dunia perpolitikan, yang penting belajar dan cepat lulus.

Ini mungkin yang menyebabkan beberapa mahasiswa yang “melek” politik yang jumlahnya minim itu mengalami kesulitan dalam membangun demokrasi di kampus. Untuk pelampiasannya bisa jadi disalurkan ke luar kampus yang menggarap isyu-isyu aktual yang berkembang di negara ini.

Mahasiwa perlu sarana

Betapapun juga dunia politik itu perlu dipelajari. Politik harus bisa ditempatkan jauh dari kesan yang buruk bahwa politik itu kotor dan menjijikkan. Segala kesadaran harus diupayakan bahwa kalangan dari golongan yang baik itu harus terjun didalamnya. Jika tidak maka bisa ditebak bahwa orang yang tidak berkualitas akan mendominasi percaturan politik itu. Yang rugi juga orang banyak akibat dari penempatan orang yang tidak tepat di panggung kekuasaan.

Mahasiswa sebagai kaum terdidik tidak boleh anti dalam dunia politik tersebut. Beberapa mahasiswa yang idealis dan peduli dalam kelangsungan bangsa ini harus diberi tempat. Selama ini yang banyak terjadi mahasiswa banyak berkecimpung di ektra parlementer (LSM atau lembaga ektra kampus). Mendobrak di luar sistem, bagus bagus saja. Namun dalam kadar efektifitas terkadang kurang maksimal dan optimal.

Partai politik bisa jadi penyaluran

Beberapa mahasiswa yang berminat di dunia politik tersebut perlu diberi jalan untuk mengaktualisasikannya. Dan partai politik (parpol) bisa menjadi solusi yang tepat. Parpol dapat menjadi “kawah candradimuka” bagi kaum muda untuk mengasah naluri politiknya secara benar dan legal. Memperbaiki sistem yang bobrok dalam pemerintahan, lebih efektif bila masuk di dalam sistem itu sendiri.  

Tidak selamanya mahasiswa tersebut akan jadi mahasiswa, setelah lulus status tersebut akan terhenti. Idealisme masa mahasiswa harus bisa lanjutkan setelah itu. Di luar kampus adalah dunia sesungguhnya untuk berbuat dan berbakti. Dan jika memang dunia politik adalah jalannya maka bisa disalurkan melalui partai politik.

Partai politik saat ini banyak jumlahnya dengan berbagai aliran dan ideologi. Memasuki salah satu diantaranya yang sesuai dengan minat dan perjuangannya merupakan hal yang logis. Melalui parpol dapat mengasah kemampuan politik pada jalur yang legal formal. Di institusi resmi inilah dapat saling beradu konsep, ide, dan gagasan untuk menuju hal yang terbaik. Dalam hal ini perlu dipahami dan disadari bahwa kekuasan itu hanyalah alat bukan tujuan dalam rangka mengisi kemerdekaan.

Dengan berada di parpol maka kaum muda dapat mematangkan diri dalam politik untuk meraih kekuasaan. Maka disinilah idealisme akan diuji agar tidak lagi terjebak pada sikap pragmatis dan oportunis yang selama ini banyak dikesankan buruk masyarakat kepada politikus.

Idealisme harus bisa terus dipupuk bagi kader muda sehingga nantinya bisa menjadi politikus yang berkualitas untuk dapat menduduki jabatan publik kelak. Kematangan politikus dalam terjun di dunia politik merupakan salah satu wujud dalam menjalankan proses demokrasi yang bertanggung jawab. Usia muda bisa sudah matang bukanlah hal yang “haram” untuk maju pada pertarungan di pejabat publik baik di eksekutif dan legislatif.

Jika itu bisa terwujud maka kaum muda akan mampu dipercaya kapasitasnya dan layak. Agar tidak terjadi seperti kasus Agus Harimurti Yudhoyono tersebut. Maka jika ada kaum muda yang maju dalam percaturan politik itu karena dipersiapkan dengan matang (by design) bukan karena ada unsur paksaan (by accident).

#LombaEsaiPolitik