Kami dari PLOt (Pusat Latihan Opera Batak) di Bonn Bouel, Jerman pada 19 September 2015 lalu ikut meramaikan festival bertajuk “Save The World”. Lokasinya sangat unik: bekas pabrik yang kemudian disulap menjadi tempat pendidikan teater.

Festival ini diikuti sejumlah lembaga lingkungan seperti Engagement Global, Care, Viva Con Aqua, Amnesty International. PLOt sendiri ditempatkan berdampingan dengan Teater Container (memang terbuat dari kotak kontainer truk) yang bertuliskan Ich Hoere was du Nicht Sieht (aku dengar apa yang tak kulihat).

Festival ini diramaikan anak-anak berkostum putih yang sangat imut dan penuh semangat memerankan tugasnya. Maka, hari itu, meski cuaca mendung, kami bergelimang keceriaan. Apalagi melihat anak-anak yang polos, yang semangat, yang lugu, juga lucu. Pesan utamanya saat itu adalah merawat bumi yang mulai renta, bahkan mungkin sudah kupak-kapik. Hutannya rusak, alamnya babak belur. Bumi yang kupak-kapik ini perlu dirawat karena seperti kata Paus Fransiskus, bumi ini merupakan rumah bersama.

Karena rumah bersama, tentu kita sebagai penghuni berkewajiban merawatnya agar nyaman tinggal di dalamnya. Ini pula yang kelak akan kita wariskan. Masalahnya, bumi yang kupak-kapik inikah yang kita wariskan kepada cucu-buyut kita?

Atau, jangan-jangan bumi ini memang sudah bopeng dari sononya sehingga kita pun konon dapat warisan bumi yang sudah kupak-kapik? Karena itu, dengan sadis lantaran mendapat warisan kupak-kapik, maka kita berteriak: aku harus mewariskan bumi yang kupak-kapik ini kepada generasi penerus?

Serba Ada

Tidak! Setidaknya ada fakta—mungkin tepatnya iman—menarik tentang bumi. Menurut agama samawi, bumi dulunya indah (bukan kupak-kapik). Serba ada. Serba indah. Penuh damai. Pada puisi orang Sumeria—sebuah bangsa yang hidup pada 3000 SM di bagian selatan Mesopotamia—disebut begini:

Singa tidak membunuh/ serigala tidak merenggut domba/ anjing ajak, pelahap anak-anak, tidak dikenal/ dia yang matanya melukai tidak berkata: mataku melukai/ dia yang kepalanya pusing tidak berkata: kepalaku pusing/. Puisi itu benar-benar menarasikan sebuah tempat yang indah.

Peristiwa ini sudah jauh. Barangkali, dengan iman, kita dapat menduga bahwa firdaus, tempat Adam dan Hawa jauh lebih indah dari alam bangsa Sumeria ini, sebelum akhirnya terjadi kecelakaan antara Adam dan Hawa. Peristiwa ini, maksud saya firdaus, tentu saja semakin jauh apabila dibandingkan dengan kondisi sekarang sehingga firdaus—meski jejaknya ada—sudah serupa peristiwa dongeng.

Benar-benar tak ada, kecuali di dunia dongeng. Dan sialnya, jika merujuk “dongeng” ini, bumi yang sekarang dan segala gejala yang dilakonkan para penghuninya, terutama manusia sudah seakan meneguhkan bahwa bumi ini akan berakhir. Kiamat istilahnya, salah satu di antaranya adala peristiwa kecelakaan, kerakusan, dan penjajahan kemanusiaan. Silakan saja rujuk kitab suci kita masing-masing.

Nah, kiamat inilah yang sedang kita tangkal sehingga dua tahun lalu, sekurang-kurangnya 150 kepala negara pergi ke Paris, termasuk Jokowi. Agendanya menangkal kiamat atau istilah amelioratifnya dibikan merawat bumi (save the world). Istilah kenegaraannya disebut juga sebagai KTT Perubahan Iklim atau dikenal sebagai COP-21.

Kata Corinne Breuze, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, kegiatan ini bukanlah konfrensi biasa. Disebut tak biasa karena yang dibicarakan di sini adalah rumah bersama, kepentingan bersama, warisan bersama, dan kehidupan bersama.

Sudah kita akui bahwa bumi kita sedang terancam. Dalam Living Planet Report 2006, organisasi konservasi Global World Wild Fund for Nature menyebutkan bahwa ekosistem alam planet bumi sedang mengalami degradasi hingga pada kondisi yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah manusia, sedang mendekati tipping point sebagai point of no return (Schellenhuber, 2006).

Para ahli perubahan iklim yang tergabung pada IPCC juga sudah mengingatkan bahwa bencana dahsyat akan terjadi bila saja suhu naik dua derajat celcius dari suhu masa praindustrialisasi. Sialnya, para ahli sudah menghitung bahwa suhu akan naik sebanyak empat derajat.

Dan kini, NOAA menyebutkan bahwa suhu per Juni 2015 sudah mengalami peningkatan 1,26 derajat. Itu artinya, batas mengerikan yang diberikan tinggal 0,74 derajat lagi. Setelah itu, kutukan atau bahkan kiamat-kiamat kecil akan memanggungkan naskahnya.

Saat itu, mudah-mudahan tak terjadi, negara apa saja tak akan lepas dari ancaman. Produksi pertanian akan terganggu sehingga ketahanan pangan mandek. Banjir akan menerjang, tetapi kekeringan juga akan merambat.

Diperkirakan, pada 2080, sekitar 1,8 miliar penduduk di negara-negara Asia Tengah, Tiongkok Utara, serta sebagian Asia Tengara dan Asia Selatan akan ”kebanjiran” akibat mencairnya es Himalaya. Sistem irigasi akan amburadul karena sungai-sungai meluap. Pada saat sama, beberapa kawasan, seperti Timur Tengah, mengalami kelangkaan air yang parah.

Indonesia termasuk negara yang paling menderita. Itu karena negeri kita mempunyai garis pantai yang panjang. Penduduk kita juga banyak tinggal di pesisir, sekitar 65%. Belum lagi kalau kita mengaca pada pekerjaan utama di negeri ini: perkebunan, pertanian, dan perikanan. Iklim tak terprediksi berarti nasib sebagian besar rakyat kita juga tak terdeteksi.

Karena itu, kita sangat mengharapkan langkah luar biasa dari Indonesia untuk “menekan” agar sesama bangsa mau berubah. Indonesia tentu harus menggalang kerja sama dari beberapa negara.

Hal ini mendesak karena ada “kecelakaan” berpikir di beberapa negara. Negara maju, misalnya, menuntut negara berkembang untuk mengurangi emisi karbon. Sementara itu, negara berkembang merasa belum wajib karena sumbangan polusinya masih sangat jauh di bawah negara maju. Artinya, belum ada kesepahaman untuk menangkal bencana. Semua saling lempar tanggung jawab. Bahkan ada gejala, negara penyumbang polusi terbesarlah yang harus bertanggung jawab.

Mendengar yang Tak Terlihat

Sekali lagi, di sinilah kita membutuhkan peranan Indonesia, terutama kepiawaian Jokowi dalam berdiplomasi. Hal itu perlu karena memang, posisi saat ini sedang timpang, juga kadang berbeda diametral. Negara yang tergabung dalam Group of 77 and China (133 negara berkembang) berbeda posisinya dengan negara industri maju Uni Eropa (28 negara).

Beda pula dengan Umbrella Group (AS, Jepang, Australia, Kanada, Rusia, Selandia Baru, Norwegia, Kazakhstan, Ukraina). Masih banyak kelompok lain yang kesemuanya mengusung kepentingan kelompoknya.

Yang pasti, jika ngotot-ngototan, tidak mau berbagi, serakah, seperti yang dinubuatkan di kitab suci hampir setiap agama, inilah yang menjadi indikasi awal bahwa bumi akan dikepung kiamat. Karena itu, Indonesia harus mampu membuat teladan. Memberi teladan akan membuat kita gampang menekan negara lain untuk melakukan hal serupa. Celakanya, teladan inilah yang belum kita punya.

Pasalnya, untuk periode 2000-2005, kita dinobatkan sebagai juara dunia perusak hutan yang mencapai angka 2 persen, sekitar 1,87 juta hektare per tahun. Pricewaterhouse Coopers juga menerbitkan laporan tentang jurang di antara ambisi dan realitas dalam ekonomi karbon. Sementara intensitas emisi karbon dari pertumbuhan ekonomi dunia turun 0,6 persen, Indonesia justru naik rata-rata 1,7 persen per tahun, 2008-2013. Dua tahun lalu, hutan kita juga ludes dan asap mengepul.

Saya tak mau pesimis bahwa kita tak punya kekuatan untuk menekan, apalagi memberi telada. Lagi-lagi, kalimat misterius di Teater Kontainer itu menggejolak: Ich Hoere was du Nicht Sieht. Mudah-mudahan kita dapat mendengar nubuat kiamat, meski belum terlihat karena ini bukan konfrensi biasa! Dunia ini adalah rumah bersama kita!