Kalau mendengar pertanyaan ini, “Siapakah perempuan yang paling beruntung di dunia?” Ingin sekali mengangkat tangan, dan menjawab, “Aku,..! aku lah perempuan paling beruntung itu!” Pada akhirnya tidak semua perempuan itu beruntung terlahir ke dunia. Sebagian lahir disambut tawa gembira, berselimut kain sutra mewah, dan megah. 

Berbantal kapas-kapas bulu angsa, kelambu merah jambu. Sebagian lainnya lahir dalam pelukan badai, hingga tiba di muka rumah berdinding dingin, dan keras. Aku lalu bertanya-tanya, “Apakah perempuan dalam pelukan badai itu aku Tuhanku?” Perempuan dengan kaki yang harus kuat berjalan, sampai di mana nanti tidak tahu.

Perempuan yang kali ini kulihat, kedua pipi lebam biru, lalu kuraba wajah ku. Degup jantung ku memburu ternyata lebam nya tidak pada wajahku, lalu rupanya di relung jiwaku. Suatu waktu kulihat pada dirinya darah berceceran, kusentuh hidungku. Darahnya tidak di situ, ternyata kali ini ada di dalam hatiku. 

Luka-luka tidak pernah sembuh, meskipun waktu terus berlalu. Tahun demi tahun, luka tak mengering seiring peran yang telah berganti. Dari seorang perempuan kini sudah menjadi Ibu. Aku melangkah perlahan, langkah demi langkah, luka jahitan operasi setelah melahirkan ini luar biasa sakitnya.

Di kamar sendirian mengaduh sesekali, berjalan perlahan ke kamar mandi, tubuhku terasa kotor dan amis. Aku bangkit dan sekilas aku melihat darah membasahi perlak alas tidurku. Sehabis mandi aku ingin berjalan ke ruang bayi, yang harum minyak telon, bedak bayi, semerbak sekali. Aku mencari Laura dari sekian banyak bayi yang berjejer. Aku melihat Laura begitu cantik, putih, matanya kecil. Kusentuh jari nya, kupanggil dia lirih,”Laura, ini Mami”

Bidadari yang lahir ini kuberi nama dia Laura Nadhera, artinya “kemenangan yang terpilih” Ini kali pertama seorang bayi perempuan dalam gendongan ibu yang tak sepenuhnya paham tentang cinta. Air mata mengalir, lalu aku berbisik-bisik pada diriku sendiri “cobalah menjadi seperti ibu-ibu di luar itu, Ibu yang ayu suaranya lemah lembut" Kuusap dadaku perlahan dengan banyak harapan.

Setiap hari yang sudah terlewati ada jiwaku yang terbang, dan perasaan yang tak karuan. Aku selalu menangis di sudut ruang kamar yang gelap. “Mami,..Mami di mana ? susu mami,..? Lola mau susu” begitu dia memanggil dirinya sendiri, balita ini sudah 3 tahun rupanya. 

Kuusap wajahku telah basah, lalu keluar menyeruak ku peluk tubuh mungil nya. Harus punya topeng yang banyak, tapi aku memastikan semua dengan bentuk bibir tersenyum, atau tertawa. Sama seperti sebelumnya, aku selalu memastikan lahir kembali seolah turun ke dunia ini dengan jiwa yang baru.

Setiap malam menyergap, ku bentangkan sajadah di ruang yang tak seberapa luas ini. Setelahnya tangis ku meledak, kedua tangan yang tengadah ini berharap Allah memeluk ku senantiasa. Aku terus berdoa, tidak pernah putus asa dalam meminta. Aku ingin menerima balita kecil itu, malaikat yang kupilih sendiri. Sejenak frustrasi, aku ingin sepenuh hati dalam mencintai. Jiwa, raga, dan pikiran ini tidak ingin menyerah apalagi melepaskan. 

Untuk satu-satunya hati yang murni, ku usap jemari itu, dan berjanji di dalam hati, bahwa kita tidak akan saling meninggalkan. Laura dan aku harus saling bertahan hingga selesai.

Ibu yang seperti diriku sulit dalam mencintai, dan kali ini cinta nya dalam sekali. Seringnya salah arah antara kelewatan cintanya, atau marah, menyetir mobil kali ini tak semudah biasanya, aku bicara pada diriku sendiri. Tangis ku pecah, “seharusnya ibu seperti diriku tak pernah ada” “ibu seperti diriku lukanya parah, seharusnya cukup dengan diri sendiri saja” Ibu seperti diriku ini, yang hatinya sisa secuil, tapi ingin cinta yang diberikan sama besarnya dengan ibu yang hatinya utuh di luar sana.

Setiba di rumah, aku buka pintu “assalamualaikum Laura,?” Balita cantik itu berlari dalam pelukanku, menjadi ibu itu bahagia di waktu-waktu yang sangat lama, sekaligus frustasi di waktu yang tak terduga. Ibu yang seperti diriku tak mampu melepaskan, yang tidak rela meski hanya berpisah sebentar saja. “Apa seharusnya ibu seperti diriku menyerah saja?” yang katanya susah dalam mencintai, setelah cinta sampai setengah mati. 

Saat kehilangan tidak mau menerima kenyataan. Saat situasi tak sesuai harapan, lalu patah hati dan sembuh nya entah kapan. Aku lelah tapi sekali lagi, tidak mau menyerah. Aku ingin seperti ibu-ibu di luar itu, ibu yang parasnya cantik, dan,senyumannya selalu dirindukan.

Pada hari ini, bahkan hari-hari kemarin pun aku terus mengulang janji pada diri sendiri. Aku ingin menjadi ibu terbaik versi diriku, dan dalam bayanganku aku adalah seorang malaikat dengan sayap putih besar. Sepasang sayap berwarna putih, dengan sebagiannya lagi tertutup perban. 

Ibu dengan sayapnya apa adanya, tapi mampu memeluk sekaligus melindungi. Sayap yang sama hangatnya dengan sepasang sayap milik ibu lainnya. Hingga suatu hari Laura selalu bangga akan sayap yang ku punya. Sepasang sayap dari ibu seperti diriku, mampu membawanya terbang menuju masa depan yang indah.

Ibu yang seperti diriku, mengulang-ulang janji pada diri sendiri setiap hari. Mengulang kata-kata yang mampu menguatkan hati, setiap pagi. 

Seorang perempuan yang hatinya sisa secuil ini, terus hidup dan memastikan. Cinta yang diberikan sama besar dan luar biasa, seperti cinta yang diberikan oleh ibu yang hatinya utuh di luar sana.